Yang jelas, saya melihat ekspresi ibu itu dalam video sudah bercampur aduk, antara marah, bingung, juga sedih, bahkan hampir berekspresi datar. Dalam kondisi seperti itu, saya masih sangat mencemaskan kondisi ibu dan bayi.
Tidak ada yang tidak pernah mengalami stres dalam hidup. Seorang manusia, sangat manusiawi apabila mengalami stres atau kecewa, bahkan sedih dalam hidup. Apalagi, seorang ibu yang lebih sering melupakan diri sendiri. Terlalu sibuk untuk mengurus rumah, dan keluarga.
Bisa saja sumber stres itu berasal dari lingkungan luar, dari keluarga, atau justru dari diri sendiri. Banyak sekali sumber yang mengancam kesehatan mental seorang perempuan setelah menikah, dan memiliki anak. Oleh karena itu, sangat penting menjaga kesehatan mental seorang ibu.
Tidak bisa hanya diri sendiri yang menjaga kesehatan mental. Perlu juga dukungan dari suami, keluarga, juga orang terdekat untuk bersama-sama menjaga kesehatan mental seorang ibu. Perubahan hormon yang begitu cepat, dan sering terjadi pada ibu, membuat kondisi ibu mudah mengalami stres.
Pada saat stres semakin parah, logika rasanya sudah tidak akan bisa berjalan. Untuk berpikir jernih saja, sulit sekali. Jangan sampai kejadian dalam berita itu, terulang kembali.
Berkonsultasi pada ahli jika diperlukan
Beberapa waktu lalu, saya pernah membuat artikel mengenai cara untuk mengurangi stres pada ibu. Salah satunya, dengan bercerita pada orang yang dipercaya.
Seperti yang kita ketahui, mendapatkan teman bercerita yang bisa dipercaya itu tidak mudah. Justru, yang paling baik adalah berkonsultasi pada ahli jika memang diperlukan.
Contohnya seperti psikolog yang lebih paham mengenai kesehatan mental. Tidak perlu malu mendatangi psikolog, karena dari mereka kita bisa mendapatkan solusi yang tepat.
Saya juga pernah mengalami stres, tetapi saya sangat bersyukur masih bisa menjaga kewarasan. Sudah saatnya kita jaga bersama kesehatan mental seorang ibu. Berikan waktu untuk ibu bisa membahagiakan diri sendiri. Berbagilah tugas untuk sama-sama mengurus rumah dan anak.