Mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan yang mungkin terlintas di benak kita: Apa artinya menjadi manusia di era digital ini?Â
Dalam konteks, kita berbicara tentang manusia sebagai Homo Sociologicus, manusia sebagai makhluk sosial yang terikat dalam jaringan interaksi yang kompleks dengan sesamanya.Â
Namun saat ini, kita melihat munculnya Amica Machina, atau teman mesin, yang mulai mengambil alih peran sebagai teman curhat, yang seharusnya diisi oleh manusia.Â
Di satu sisi, ada keuntungan yang jelas dari keberadaan AI sebagai teman curhat.Â
Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tekanan ini, banyak orang merasa kesepian dan terasing. AI menawarkan solusi instan, memberikan ruang bagi individu untuk berbagi pikiran dan perasaan tanpa takut dihakimi.
Dalam hal ini, kita bisa merujuk pada pemikiran Sherry Turkle, seorang sosiolog dan psikolog. Dalam pemaparan Ted Talk-nya yang menekankan bahwa teknologi dapat memberikan kenyamanan emosional. Dia berargumen bahwa AI dapat menjadi pendengar yang baik, yang selalu siap sedia, dan ini bisa sangat membantu bagi mereka yang merasa terisolasi.
Namun, di balik kenyamanan ini, ada kerugian yang tidak bisa kita abaikan. Ketika kita mulai mengandalkan AI untuk berbagi rahasia dan kekhawatiran, kita mungkin kehilangan kemampuan untuk berinteraksi mendalam dengan sesama manusia.
Martin Heidegger, seorang filsuf yang terkenal dengan pemikirannya tentang teknologi. Dalam buku "The Question Concerning Technology and Other Essays", Heidegger memperingatkan bahwa teknologi dapat mengalienasi kita dari pengalaman manusia yang otentik.Â
Dalam konteks ini, kita harus bertanya, apakah kita sedang mengorbankan kedalaman hubungan manusia demi kenyamanan yang ditawarkan oleh mesin?
Lebih jauh lagi, kita harus mempertimbangkan dampak jangka panjang dari interaksi ini terhadap perkembangan sosial dan emosional kita.Â
Ketika anak-anak tumbuh dengan AI sebagai teman curhat, mereka mungkin kehilangan kesempatan untuk belajar keterampilan sosial yang penting.