Kesantunan berbahasa adalah hal memperlihatkan kesadaran akan martabat orang lain dalam berbahasa, baik saat menggunakan bahasa lisan maupun bahasa tulis.
Kesantunan bertutur juga melibatkan penggunaan kata-kata yang sopan dan menghindari penggunaan kata-kata kasar atau menghina.
Selain itu, kesantunan bertutur juga mencakup kemampuan untuk mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberikan respon yang tepat dalam sebuah percakapan.
Bidang kajian pragmatika dalam kesantunan berbahasa telah dituliskan oleh beberapa ahli, seperti Lakoff (1973), Fraser (1978), Brown dan Levinson (1978), Leech (1983), serta Pranowo (2009). Mereka mengidentifikasi aspek-aspek tertentu dalam kesantunan bertutur yang melibatkan penggunaan kata-kata sopan, menghindari kata-kata kasar.
Kaidah Kesantunan Lakoff
Robin Lakoff (1973) menyatakan "kesantunan dikembangkan oleh masyarakat guna mengurangi friksi dalam interaksi pribadi".
Lakoff mengemukakan bahwa kesantunan dalam berbahasa merupakan mekanisme yang digunakan oleh masyarakat untuk menghindari konflik dalam interaksi pribadi.
Ia menekankan pentingnya penggunaan kata-kata sopan dan menghindari penggunaan kata-kata kasar sebagai bagian dari kaidah kesantunan.
Menurutnya, ada tiga buah kaidah yang harus dipatuhi untuk menerapkan kesantunan, yaitu formalitas (formality), ketidaktegasan (hesitancy), dan kesamaan atau kesekawanan (equality atau camaraderie).
Ketiga kaidah tersebut berfungsi untuk menjaga hubungan harmonis antara pembicara dan pendengar serta mencegah terjadinya konflik yang tidak perlu.
Dengan menerapkan kaidah kesantunan ini, interaksi pribadi dapat berjalan lancar dan saling menghormati antara individu-individu dalam masyarakat dapat terjaga.
Formalitas berarti jangan terdengar memaksa atau angkuh.
Ketidaktegasan mengacu pada ketidakjelasan atau keraguan dalam berkomunikasi, yang dapat mengganggu pemahaman dan efektivitas pesan yang disampaikan.
Sementara itu, kesamaan atau kesekawanan mencakup sikap saling menghormati, merasa setara, dan menciptakan ikatan sosial yang positif antara pembicara dan pendengar.
Jika saya ulang, pernyataan di atas dengan argumen yang mendekati sama, maka: Ketidaktegasan berarti berbuatlah sedemikian rupa sehingga mitra tutur dapat menentukan pilihan.
Dalam komunikasi, ketidaktegasan dapat mengarah pada kebingungan atau keraguan dalam memahami pesan yang disampaikan.
Oleh karena itu, penting bagi pembicara untuk menyampaikan informasi dengan jelas dan terstruktur agar pendengar dapat membuat keputusan yang tepat.
Kesamaan atau kesekawanan berarti bertindaklah seolah-olah Anda dan mitra tutur menjadi sama. Ini dapat menciptakan ikatan emosional antara pembicara dan pendengar, yang dapat meningkatkan pemahaman dan kepercayaan antara keduanya.
Namun, penting untuk tetap mempertahankan batasan profesional dalam komunikasi agar tidak mengganggu hubungan kerja atau tujuan komunikasi yang sebenarnya.
Maksim Kesantunan Leech
Geoffrey Leech (1983) mendefinisikan kesantunan sebagai "strategi untuk menghindari konflik" yang "dapat diukur berdasarkan derajat upaya yang dilakukan untuk menghindari situasi konflik".
Kesantunan dalam komunikasi adalah kunci untuk menciptakan hubungan yang harmonis dan saling menghormati antara pembicara dan pendengar.
Dengan menggunakan strategi kesantunan, kita dapat menghindari konflik dan memperkuat pemahaman serta kepercayaan antara kedua belah pihak.
Tujuh maksim kesantunan (politeness maxims) yang diajukan oleh Leech adalah sebagai berikut:
Maksim kemurahan hati generosity memberikan lebih dari yang diharapkan atau diberikan oleh orang lain. Contoh: Saya akan membantu Anda dengan senang hati, jika Anda membutuhkan bantuan.
Maksim kerendahan hati modesty menunjukkan sikap rendah hati dan tidak sombong. Contoh: Saya tidak begitu pandai dalam hal ini, tapi saya akan mencoba membantu sebaik mungkin.
Maksim kedermawanan juga dapat dilihat ketika seseorang memberikan sumbangan kepada mereka yang membutuhkan tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Contoh: Saya akan menyumbangkan sebagian pendapatan saya untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung.
Maksim pujian juga dapat dilihat ketika seseorang memberikan pujian kepada orang lain tanpa mengkritik atau mencela mereka. Contoh: Kamu benar-benar pandai dalam memecahkan masalah ini. Bagaimana kamu melakukannya?
Maksim menghargai usaha orang lain dengan memberikan pujian yang tulus dan tidak membanding-bandingkan dengan diri sendiri. Contoh: Kamu sungguh berbakat dalam seni lukis ini. Aku terinspirasi oleh karyamu.
Maksim kesetujuan (agreementminimalkan ketidaksetujuan dengan orang lain; maksimalkan kesetujuan dengan orang lain) Contoh: Saya sepakat dengan pendapatmu mengenai masalah ini. Kita sebaiknya bekerja sama untuk mencari solusinya.
Maksim simpati (sympathy) minimalkan antipati kepada orang lain; maksimalkan simpati kepada orang lain. Contoh: Saya sangat menghargai perjuangan dan usaha yang telah Anda lakukan.
WT - Forum Pemantau Kebijakan dan Demokrasi, dalam konteks memberikan kritik yang santun, kontruktif dan solutif secara implisit pada ruang demokrasi.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI