Faktor yang mempengaruhi Kurangnya Komunikasi dengan Keluarga
Menurut Bossard dan Ball, seperti yang diungkapkan dalam karya Dr. Sumarto, S. Sos. I (2019), kedekatan antar anggota keluarga memainkan peran penting dalam membentuk hubungan interpersonal, menegaskan bahwa keluarga adalah lingkungan sosial yang sangat intim dan spesifik. Keluarga berfungsi sebagai entitas yang terikat melalui hubungan darah yang tidak dapat dihapuskan. Dalam konteks ini, individu dibesarkan, berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya, menjalani kehidupan bersama, serta membangun pola pikir, nilai-nilai, dan kebiasaan. Untuk mewujudkan peran dan fungsi keluarga, penting adanya saling pengaruh, perhatian, dan komitmen di antara semua anggotanya. Ulfiah (2016), dalam bukunya yang berjudul "Psikologi Keluarga", mengemukakan beberapa problematika yang sering muncul dalam keluarga:
- Masalah komunikasi merupakan tantangan yang umum dalam dinamika kehidupan keluarga. Komunikasi dalam keluarga tidak hanya melibatkan interaksi verbal, seperti berbicara dan berdiskusi, tetapi juga aspek nonverbal, seperti bahasa tubuh dan ekspresi wajah. Ketika komunikasi terhenti dan keheningan menguasai suasana, hal ini bisa menjadi indikasi adanya masalah. Tujuan utama komunikasi dalam keluarga adalah untuk memelihara interaksi antar anggota serta menciptakan komunikasi yang efektif. Dr. Sumarto (2019) menjelaskan bahwa sikap tubuh, intonasi suara, dan kata-kata yang diucapkan memiliki maksud untuk memengaruhi, mengajarkan, membagikan informasi, dan mencapai saling pengertian. Oleh karena itu, komunikasi yang efektif sangat penting, karena dapat memperkuat ikatan antar anggota keluarga, menyelesaikan konflik, dan membangun pemahaman yang lebih baik. Apabila ada hambatan dalam komunikasi, keluarga dapat menghadapi ketidakpahaman, konflik, dan penurunan keterlibatan emosional. Maka dari itu, peningkatan kualitas komunikasi dalam keluarga menjadi krusial untuk mempertahankan keharmonisan dan kesejahteraan.
- Â Konflik antara orang tua dan anak sering kali muncul, meskipun secara naluriah anak dianggap sebagai pusat kehidupan orang tua. Meskipun orang tua memiliki niat baik untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan anak, hubungan ini sering diwarnai oleh dinamika kekuasaan. Dalam hal ini, orang tua sering kali berkorban demi anak mereka, sehingga seharusnya konflik dapat dihindari. Namun, konflik tetap saja terjadi, biasanya dipicu oleh harapan dan tuntutan orang tua yang mungkin tidak sejalan dengan kebutuhan dan pandangan anak. Kesenjangan antara persepsi kewenangan dan kebutuhan masing-masing pihak menjadi sumber utama konflik. Oleh karena itu, untuk mengelola konflik ini, penting untuk membuka saluran komunikasi yang efektif dan menetapkan saling pengertian antara orang tua dan anak. Dengan demikian, mereka dapat bekerjasama untuk meredakan konflik dan menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis.
- Â Masalah ekonomi menjadi tantangan signifikan dalam kehidupan rumah tangga, terutama ketika harapan tidak sesuai dengan kemampuan finansial. Kesulitan ekonomi sering kali dialami oleh pasangan, baik yang telah berumah tangga lama maupun yang baru menikah. Situasi ini sangat rentan dan dapat berlanjut menjadi permasalahan yang lebih kompleks, sehingga tidak boleh diabaikan atau dianggap sepele tanpa upaya dan solusi yang tepat. Dampak dari masalah ekonomi bisa menjadi akar dari percekcokan dan ketegangan dalam keluarga, yang perlu dikelola dengan bijak untuk menjaga kesejahteraan dan keharmonisan. Hingga pada akhirnya dapat mengakibatkan risiko kerusakan dalam kehidupan rumah tangga. Rumah tangga yang mengalami kesulitan finansial cenderung menghadapi potensi konflik yang lebih tinggi, terutama jika keadaan ekonomi mereka berada di bawah standar dibandingkan dengan rumah tangga lain yang lebih stabil secara finansial. Sementara masalah ekonomi bukanlah satu-satunya aspek penting dalam kehidupan rumah tangga, hal ini tidak bisa diabaikan karena dapat menjadi pemicu kehancuran dan keretakan hubungan. Oleh karena itu, sangat penting untuk menangani masalah ekonomi dengan bijaksana dan sikap saling pengertian. Langkah-langkah konkret, seperti perencanaan keuangan yang matang, komunikasi terbuka antara pasangan, dan kerjasama dalam menghadapi tantangan finansial, dapat membantu mengatasi permasalahan ini. Dengan demikian, rumah tangga dapat membangun fondasi yang lebih kokoh, bahkan ketika menghadapi tekanan ekonomi.
- Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap para istri mencerminkan bentuk pengontrolan yang biasanya dilakukan oleh pria, di mana perempuan sering kali ditempatkan dalam posisi lebih rendah dalam sistem sosial patriarki. Sistem ini cenderung memperlihatkan ketidaksetaraan gender yang signifikan. Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga---seperti pembakaran, pemukulan, atau mutilasi yang tragis---menyoroti tingginya angka kekerasan yang dapat terjadi dalam ikatan pernikahan. Fenomena ini menggambarkan masalah serius yang tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik tetapi juga aspek psikologis. Berita-berita tentang kekerasan suami terhadap istri ini mengingatkan kita bahwa masalah ini tidak mengenal batasan wilayah, budaya, atau lapisan sosial.
Komunikasi merupakan elemen fundamental yang membentuk dasar interaksi dalam keluarga. Kounikasi bukan hanya sekedar proses berbicara, melainkan juga melibatkan ekspresi, perasaan, pemahaman, pendengaran yang aktif, serta pemberian dukungan. Komunikasi yang efektif memungkinkan terciptanya suasana, dimana setiap anggota keluarga merasa didengar dan dihargai. Hal ini memberikan kesempatan bagi individu untuk mengekspresikan perasaan, pikiran, dan masalah mereka dengan leluasa. Dalam suasana seperti ini, anggota keluarga merasa aman untuk saling berbagi dan mencari dukungan satu sama lain.
Temukan artikel-artikel menarik lainnya di : https://bk.fip.unesa.ac.id/
DAFTAR PUSTAKA
Indrawati, Erdina, dkk. (2024). Meningkatkan Kualitas Keluarga Melalui Komunikasi Efektif di Era Digital. Jurnal IKRAIT-ABDIMAS, 8(2), 62-68.
Putri, Sofianti, dkk. (2024). Pentingnya Komunikasi Efektif Dalam Keluarga Untuk Mengembangkan Kemampuan Emosional Anak. Jurnal Pendidikan Kristen Anak Usia Dini, 18-26.
Rahmayantu, Dinny, dkk. (2023). Pentingnya Komunikasi Untuk Mengatasi Problematika Yang Ada Dalam Keluarga. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 5(6), 28-35.
Sukarno, Bedjo. (2021). Pentingnya Komunikasi Keluarga Dalam Perkembangan Anak. Jurnal Ekonomi, Sosial, dan Humaniora, 3(1), 1-9.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI