Mohon tunggu...
Ahmad R Madani
Ahmad R Madani Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Penulis lagu, buku, komik, dan skenario film. Nominator AMI Awards 2015. 3 bukunya terbit di Gramedia. Penulis cerita di comicone.id. Sudah menulis 3 skenario film. Tumbal: The Ritual (2018), Jin Khodam (2023), Kamu Harus Mati (coming soon).

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Dikejar Malaikat Maut

18 September 2024   18:13 Diperbarui: 18 September 2024   18:42 18
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://www.freepik.com/free-ai-image/portrait-man-visiting-luxurious-city-dubai

Galih, seorang bos mafia yang ditakuti di seluruh penjuru kota, duduk di kursi besar di kantornya. Kepalanya yang dipenuhi pikiran gelap terasa berat sejak vonis dokter menghantamnya: "Anda hanya punya waktu sebulan lagi." Waktu terasa semakin sempit. Galih tak pernah membayangkan, dari sekian banyak musuh yang ia miliki, yang paling ditakutinya justru datang dari langit: malaikat maut.

Sejak kabar itu disampaikan, hidup Galih berubah menjadi pelarian. Ia mencoba bersembunyi di vila mewah di pegunungan, jauh dari hiruk-pikuk kota. Tapi setiap malam, ia selalu merasa ada yang mengawasinya. Suara-suara aneh bergema di dalam kepala, membuatnya tak bisa tidur. Ia pindah lagi ke tempat lain, sebuah rumah terpencil di tepi laut, namun ketakutan itu tak kunjung hilang. Ia terus merasa dikejar.

Galih berpikir, mungkin tempat yang lebih aman bisa memberinya ketenangan. Maka ia memerintahkan anak buahnya menggali bungker bawah tanah, lengkap dengan sistem keamanan canggih yang bahkan bisa menahan bom. Tapi, seberapa dalam pun ia bersembunyi, bayangan malaikat itu selalu menempelnya erat. Nafasnya semakin berat, keringat dingin membasahi tubuhnya setiap malam, seperti ada suara lembut yang berbisik, "Waktumu hampir habis, Galih."

Suatu malam, Galih tak sanggup lagi. Ia kabur dari bungker itu, melarikan diri dengan langkah tertatih-tatih ke luar kota. Ia berlari tanpa arah, hanya berharap bisa lolos dari pengejaran yang tak terlihat. Hingga akhirnya, tubuhnya terhuyung dan terjatuh di depan sebuah bangunan kecil di tengah hamparan sawah.

Surau kecil itu tampak sederhana, terpencil, hampir terlupakan oleh dunia. Di depan pintu surau, seorang pria tua berpakain putih-putih menghampiri Galih yang tergolek tak berdaya. Pria itu terlihat seperti ustaz, wajahnya teduh, penuh kebijaksanaan. Tanpa bertanya, pria itu menolong Galih berdiri dan mempersilahkannya duduk di undakan depan surau.

Galih memandang pria itu dengan napas terengah-engah. "Ada yang mengejar saya," ucapnya dengan suara serak.

"Siapa yang mengejarmu?" tanya pria itu tenang.

"Malaikat maut!" jawab Galih dengan ketakutan yang terpancar jelas di matanya. "Dia selalu tahu tempat persembunyianku. Aku lari... terus lari, tapi aku tahu dia semakin dekat!"

Pria itu menatap Galih dengan senyum tipis. "Yang mengejarmu bukan malaikat maut," katanya lembut. "Yang mengejarmu adalah dosa-dosamu," jawab pria itu dengan tenang. "Kamu harus bertobat."

Galih terdiam. Tubuhnya gemetar mendengar kata-kata itu. Benarkah semua dosa-dosa yang ia kumpulkan sepanjang hidupnya kini menagih balasan? Benarkah bukan malaikat maut yang mengintainya, melainkan luka-luka yang ia torehkan pada dunia? Kepalanya mulai pusing, tubuhnya terasa semakin berat, hingga akhirnya ia pingsan di tempat.

Saat terbangun, Galih mendapati dirinya sudah berada di kamarnya. Anak buahnya mengelilinginya dengan cemas, tapi ia hanya menatap kosong. Suara ustaz itu terngiang-ngiang di telinganya. "Yang mengejarmu adalah dosa-dosamu..."

Ia bangkit perlahan dan memerintahkan semua anak buahnya berkumpul. Ketika mereka sudah berkumpul di ruang besar itu, Galih berdiri di tengah dan dengan suara lantang berkata, "Mulai hari ini, aku tobat!"

Semua orang terkejut. Tak ada yang menyangka bos mereka yang kejam dan ditakuti bisa mengucapkan kalimat seperti itu. Tapi Galih tahu, ini bukan soal kehidupan duniawi lagi. Ia sudah merasa tenang untuk pertama kalinya setelah hampir sebulan dikejar ketakutan.

Galih kembali mengunjungi surau kecil untuk bertemu dengan pria tua berpakaian putih-putih. Tapi tempat itu hanya hamparan sawah. Tak ada tanda-tanda bekas surau pernah berdiri di sana. 

Hari-hari berlalu, dan Galih hidup dengan tenang. Ia berhenti dari semua kegiatan kotornya, menarik diri dari dunia hitam yang dulu ia kuasai. Sebulan berlalu sejak vonis dokter, dan ia masih hidup. Setahun berlalu, tubuhnya masih segar.

Satu hal yang terus mengganggunya adalah dokter yang dulu memvonis hidupnya hanya sebulan. Galih merasa perlu mencari kepastian. Ia kembali ke rumah sakit itu, bertanya kepada perawat di sana tentang dokter yang menanganinya.

"Dokter itu sudah meninggal, Pak," kata perawat itu.

Galih membeku di tempat. Dokter itu sudah meninggal?

Galih berjalan pelan keluar dari rumah sakit. Langit terlihat cerah, angin sejuk menyentuh kulitnya. Dalam hatinya, ia merasa sesuatu telah berubah.  Malaikat maut masih ada di suatu tempat, tapi setidaknya, ia tidak lagi dikejar dosa-dosanya.

TAMAT

"Dosa yang membuatmu sedih dan menyesal itu lebih disukai oleh Allah daripada perbuatan baik yang membuatmu sombong." - Ali bin Abi Thalib

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun