Dan yang terbaring di sana... adalah dirinya sendiri.
Indra terbelalak, mundur dengan napas tersengal. Indra berlari ke cermin di sudut ruangan. Namun saat ia melihat bayangannya, ia terperangah. Yang terlihat dalam pantulan cermin bukanlah dirinya, tapi Jefri. "Mustahil...!" desis Indra.
Namun bayangan Jefri di cermin berbicara. "Indra... kau tidak pernah membunuhku."
Indra terguncang. "Apa maksudmu? Aku melihatmu mati di tanganku! Aku yang membunuhmu!"
Bayangan Jefri menggeleng pelan, dengan senyum getir di wajahnya. "Tidak, Indra. Kau tidak membunuhku. Kau membunuh dirimu sendiri."
Indra semakin kebingungan. "Aku... bunuh diri? Tidak mungkin! Aku tidak..."
Bayangan Jefri menyela, "Setelah kau dipecat dari perusahaan karena sabotase yang kau lakukan terhadapku, kau tidak bisa menerima kenyataan. Kau menghancurkan segalanya, termasuk dirimu sendiri. Dan pada malam itu, kau mengakhiri hidupmu."
Kata-kata itu menghantam Indra seperti palu godam. Perlahan, kenangan yang ia coba lupakan kembali. Malam ketika ia pulang ke rumah setelah mendapat surat pemecatan. Malam ketika ia duduk di kamar gelap, memegang pisau di tangannya, berpikir bahwa dunia telah menghancurkannya. Dan malam ketika ia menusukkan pisau itu ke dadanya sendiri.
Indra terhuyung, mencoba menyangkal kenyataan yang kini menelannya. "Tidak... aku membunuh Jefri. Bukan aku..."
Cermin itu bergetar sejenak, dan tiba-tiba Indra tidak lagi melihat Jefri di pantulan. Ia hanya melihat dirinya---kini dalam bentuk yang menyeramkan, tubuhnya penuh luka dan darah, sama seperti jenazah yang terbaring di meja.
Indra tersadar. Ia tidak pernah berhasil mengalahkan Jefri. Ia hanya menghancurkan dirinya sendiri. Dan kini, ia terjebak dalam kesalahan yang tidak bisa ia perbaiki. Dan di dalam cermin, bayangan dirinya mulai pudar, ditelan oleh kegelapan.