Di panggung cahaya, bayang menjelma,
Sepasang bintang menggantung, tertawa tak nyata.
Di atas hamparan gelombang sorak,
Ada jejak tanpa jejak, suara tanpa makna.
Manik-manik gemerlap menghias malam,
Namun lentera berpendar hanya dalam diam.
Ia menari dalam sangkar emas tak kasat,
Bersuara lantang di ruang yang beku dan gelap.
Angin pujian berhembus membelai lembut,
Namun juga membawa debu yang menusuk kalbu.
Ada rindu pada sunyi di tengah badai tepuk,
Ada luka tersembunyi di balik topeng perak.
Apakah kau melihat? Bayang itu bicara,
Namun hanya pada rembulan yang tak menyapa.
Ia berjalan di garis takdir yang retak,
Meniti tali yang terbuat dari embun rapuh.
Apakah kilau itu nyata, atau hanya fatamorgana?
Apakah tepuk itu tulus, atau hanya gema tanpa rasa?
Ia hidup di negeri antara nyata dan maya,
Menjadi wajah tanpa nama di kerumunan fana.
Namun siapa kita, yang hanya menatap dari jauh?
Mereka yang menari, kita yang bersorak penuh.
Tak pernah tahu, lentera itu mungkin redup,
Namun terus terbit, meski hati lama terhimpit.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H