Alkisah, ini cerita jaman dahulu, tentang seorang tumenggung baik hati, tampan, lagi dicintai semua rakyat.
Dia perjuangkan kesejahteraan semua hingga rakyat tak rela jika dia menderita.
Dia berbagi kasih sayang dan adil memimpin hingga rakyat sangat suka dan kehilangan jika dia tiada.
Dia lah sang Tumenggung tampan, bijaksana dan juga berwibawa.
Saat sebuah pertempuran terjadi, antara dua raja bersaudara, salah satu raja menemuinya.
Bersama seluruh kerabat, istri, para selir juga cantrik dan segenap punggawa.
Raja ini bertarung dan kalah hingga lari meminta perlindungannya.
Merasa senang dan tersanjung, sang Tumenggun dengan ihlas hati mempersilahkan.
Tak ada syak wasangka karena niatnya hanya untuk menolong, wujud bakti sang Tumenggung.
Semua dihidangkan , semua dipersilakan, hingga tak ada yang tersembunyi untuk diberikan.
Hanya sayang, dia tak sanggup menyembunyikan wajahnya yang rupawan.
Dia tak bisa menenggelamkan budinya yang dermawan dan parasnya yang bercahaya.
Bukan salah bunda mengandung , bukan salah pula sang Tumenggung.
Segenap selir jatuh hati oleh kebaikan budi dan ketampanan yang hakiki.
Mereka tak sadar hal ini membuat ngeri pada akhirnya nanti.
Tetapi perasaan memang tak sanggup dihindari, mesikpun sang Tumenggung tetaplah beriman abadi.
Hingga suatu hari, sang raja berburu kijang , memanahnya,namun belum mati.
Untuk bisa dimakan sesuai ajaran yang bersih maka sebelum kijang mati disembelihlah kijang untuk dihidangkan.
Namun malang bagi sang Tumenggun, sang raja tak berkenan dan mencari jalan balas dendam.
Ditangkaplah ia dan diperdayai dalam kelemahan, hingga darah tak berhenti mengalir dari luka itu.
Terjadilah perang besar dan dilawanlah sang raja lalim. Sekembali perang para prajurit melihat sang Tumenggung.
Semakin lemah tak berdaya , habis tenaga dan darah oleh penganiayaan.
Para prajurit berkendak menyelamatkan, tetapi apa daya Tuhan berkata lain.
Dia syahid oleh perjuangannya mempertahankan harga diri wilayah, rakyat dan juga kebijaksanaan.
Begitulah legenda sang Tumenggung tampan, semoga arwahnya diterima oleh Allah SWT.
Memberikan suri tauladan bagi budi baik yang diabdikan untuk negara.
Keihlasan dalam memerintah, mengabdi pada atasan tanpa pamrih, mencintai rakyat dan segenap abdinya.
Mungkin ada yang ingin dia sampaikan bahwa budi baik dibawa mati, kebijakan tertanam di dalam hati.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H