Beberapa waktu lalu, saya ngobrol panjang dengan Chef Muji. Seorang juru masak andal dan berpengalaman. Saya sempat menanyakan nama lengkapnya, dan dia menjawab: Muji. Saya kemudian berkelakar, jika nama Muji itu artinya mung siji (hanya satu). Mendengar itu, Muji pun terkekeh-kekeh. Â Â
Lebih 30 tahun Muji menjadi juru masak. Dia pernah bekerja di sejumlah hotel berbintang di Surabaya dan Bali. Dari jabatan terendah sebagai cook helper atau kitchen assistants, cook, demi chef atau chef de partie, sampai excecutive chef.Â
Sekarang, dia mengajar di Surabaya Hotel School (SHS), sebuah lembaga pelatihan kerja swasta perhotelan yang berorientasi pada pasar kerja dan pengembangan teknologi.Â
Sudah ribuan alumnus SHS yang bekerja di perusahaan besar, hotel berbintang, restoran ternama, dan kapal pesiar. Baik yang bertempat di Indonesia maupun di luar negeri.
Muji juga tercatat sebagai mentor Pahlawan Ekonomi, program pemberdayaan ekonomi yang diinisiasi Tri Rismaharini (sekarang menjabat Menteri Sosial). Dia juga aktif memberi pelatihan kewirausahaan di Jawa Timur. Khususnya di bidang kuliner.
Muji yang kelahiran Bojonegoro, selepas STM (tahun 1975), tinggal di Jakarta. Ikut kakaknya berprofesi sebagai sopir. Dari kakaknya, Muji dikenalkan dengan Ibu Inem yang bekerja sebagai kepala kantin PT Astra Internasional, Jakarta Pusat.
Muji sering diajak Ibu Inem mengisi kegiatan kursus memasak, tempatnya di Kwitang, Jakarta Pusat. Dari aktivitas tersebut, lamat tapi pasti, dia mengetahui berbagai resep kuliner. Sebagian besar menu makanan Indonesia. Bisa dibilang dia belajar memasak secara otodidak.
Dua tahun hidup di Ibu Kota, Muji kemudian hijrah ke Surabaya. Kali pertama dia bekerja di Hotel Bumi Hyatt Surabaya yang tercatat sebagai bintang lima yang legendaris.
Jabatannya sebagai cook helper. Lantaran untuk naik jabatan tertinggi butuh cukup lama, sekitar 8 tahun. Muji kemudian merintis karir di Kartika Graha Hotel di Malang.Â
Di sana, dia sempat dipercaya bikin demo masak di depan puluhan warga asing. Menunya masakan Eropa. Muji menyiapkan bahan, meracik, mengolah, hingga jadi masakan siap santap.
"Saya tak perlu mencicipi karena semua bahan sudah ditimbang. Tanpa dicicipi sudah pasti enak. Semua bahannya juga pas, tidak ada yang lebih," tutur dia.