Diskusi Pertama tentang Pertanian
Diskusi pertama antara Josefa dan Teguh tentang pertanian diadakan di sebuah kafe kecil di pinggiran kampus IPB. Mereka duduk di sudut yang tenang, dikelilingi oleh aroma kopi yang hangat dan suasana yang membangkitkan semangat untuk berbagi ide.
"Jadi, apa pendapatmu tentang penggunaan teknologi modern dalam pertanian, Josefa?" tanya Teguh sambil menyeruput kopinya.
Josefa tersenyum, mengingat semua yang telah dilihatnya di kampung halaman. "Aku percaya teknologi modern bisa sangat membantu, Teguh. Tapi kita juga tidak boleh melupakan kearifan lokal yang sudah terbukti efektif selama bertahun-tahun. Di kampungku, misalnya, penduduk mampu menanam ubi besar tanpa bantuan teknologi modern."
Teguh mengangguk, menunjukkan ketertarikan. "Menarik. Bagaimana mereka melakukannya?"
"Mereka menggunakan sistem irigasi tradisional dan pupuk alami dari bahan-bahan yang ada di sekitar mereka. Hubungan mereka dengan alam sangat harmonis," jelas Josefa dengan antusias.
Teguh menambahkan, "Ada data yang menunjukkan bahwa teknologi seperti irigasi tetes dan penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan hasil tanaman secara signifikan. Teknologi ini juga membantu menciptakan lingkungan pertanian yang lebih berkelanjutan."
"Aku setuju denganmu, Teguh. Teknologi bisa sangat membantu, tetapi aku ingin memastikan bahwa teknologi tersebut dapat diterima oleh masyarakat kampungku. Mereka harus merasa nyaman dan melihat manfaatnya secara langsung," kata Josefa sambil menggigit rotinya.
Teguh tersenyum, mengerti kekhawatiran Josefa. "Itulah tantangan kita, Josefa. Bagaimana cara terbaik untuk menggabungkan teknologi modern dengan kearifan lokal sehingga dapat diterima dan diterapkan oleh petani di kampungmu?"
Josefa berpikir sejenak. "Mungkin kita bisa mulai dengan hal-hal yang sederhana dulu. Misalnya, memperkenalkan pupuk organik yang bisa mereka buat sendiri. Dari situ, kita bisa perlahan-lahan memperkenalkan teknologi yang lebih kompleks seperti irigasi tetes."