Serpihan MemoriÂ
Saya lahir dan tumbuh besar di Jawa Tengah. Tepatnya Jawa Tengah bagian pantura yang mepet wilayah Jawa Timur. Yang berarti berjauhan lokasi dengan Candi Borobudur.
Candi keren itu 'kan berada di Jawa Tengah bagian selatan. Berdekatan dengan DIY, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sampai-sampai hingga sekarang tetap banyak yang salah paham, mengira Candi Borobudur berada di Yogyakarta (Hmm, sabar ya orang-orang Jawa Tengah ....).
Maka piknik ke Candi Borobudur bersama teman-teman sekolah menjadi sesuatu yang memorable. Berfoto di depan stupa, bahkan pakai acara memanjat-manjatnya, menjadi kelaziman tatkala itu. Apakah peduli pada deretan reliefnya? Tentu tidak.
Yeah? Puluhan tahun kemudian saya baru sadar bahwa cara piknik kami di situs bersejarah tersebut sungguh barbar. Memalukan.
Selepas SMA saya melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Entah di liburan kuliah pada semester berapa, bersama tiga kawan saya sengaja banget melancong ke Candi Borobudur.
Kami naik bus umum. Bawa bekal makan siang dan camilan dari rumah (hanya saya yang dari kos) agar ngirit. Adapun barang bawaan terpenting adalah kamera saku milik saya.
Kiranya kamera saku itulah motivasi terbesar kami buat melancong. Iyes. Kami berencana pepotoan sepuasnya di Candi Borobudur dan sekitarnya. Alhamdulillah rencana berjalan mulus dan lancar jaya.
Apakah kami peduli pada deretan reliefnya? Tentu saja jawabannya tidak. Kami sekadar menjadikan relief sebagai latar belakang berfoto dan sedikit mengamatinya dengan kurang antusias. Kabar baiknya, kami tidak berpose barbar dengan memanjat-manjat stupa.
Dinamika PersepsiÂ
Sejak saya kecil hingga dewasa, ternyata secara umum ada satu persamaan terkait polah tingkah orang-orang ketika berpiknik di Candi Borobudur. Apa persamaan yang dimaksudkan itu? Tak lain dan tak bukan, perihal ketidakpedulian pada relief. Kondisi ini menyedihkan.