Mohon tunggu...
Agus Arta Diva Anggara
Agus Arta Diva Anggara Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

"write what should not be forgotten"

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Identitas Punk Masa Kini: "Masikah Menjadi Subkultur?"

20 Maret 2021   11:33 Diperbarui: 21 Maret 2021   20:35 653
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Subkultur

Pada dasarnya setiap orang atau kelompok berusaha agar menonjolkan sesuatu yang berbeda agar dapat terlihat oleh kelompok yang lainya. Hal ini tentu saja mengakibatkan setiap kelompok akan berusaha untuk membentuk suatu identitas yang dapat mewakili kelompoknya. 

Tidak menutup kemungkinan hal ini akan memunculkan identitas atau budaya khas tertentu yang berbeda dengan budaya pada umumnya.Budaya yang berbeda ini dapat dikatakan sebagai sebuah subcultur. Subkultur terlahir dari sebuah kehidupan diantara kehidupan yang lebih besar. 

Seperti yang dituliskan oleh Wilujeng (2017) dalam jurnalnya, subculture adalah kebudayaan yang berada dalam kebudayaan yang lebih besar merupakan sebuah arena ideologi dan nilai-nilai yang terintegrasi dalam komunitas. Pada dasarnya subkultur hadir sebagai bentuk perlawanan dari budaya mainstream yang dibentuk oleh kaum kapitalis.

Punk Sebagai Contoh Budaya Subkultur

Subkultur Punk berasal dari Bahasa Inggris, yaitu: "Public United Not Kingdom" yang berarti kesatuan suatu masyarakat di luar kerajaan. Gerakan Punk muncul pertama kali di Inggris pada tahun 1970-an. 

Pada awal terbentuknya gerakan Punk banyak terlibat dalam sebuah aksi protes pada tingkat lokal maupun internasional. Prinsip utama budaya Punk ini adalah mereka menunjukan pertentangan terhadap kemapanan sosial yang tidak adil. Wilujeng (2017) dalam jurnalnya menjelaskan bahwa Punk dibentuk untuk melawan Kapitalisme.

Punk membawa ideologi baru yaitu ideologi anti-kemapanan dan kemandirian. Gerakan Punk identik dengan perkembangan kota (Urban). Karena salah satu bentuk perlawanan tersebut budaya Punk mempunyai sebuah prinsip yaitu kemandirian atau prinsip yang dibangun adalah Do It Yourself (DIY). 

Prinsip tersebut menjelaskan bahwa budaya Punk tidak bergantung pada cultural goods yang dibentuk oleh kapitalis. Gerakan Punk tidak hanya sebatas musik atau cara berpenampilan melainkan juga sebuah pola pikir. Anti-kemapanan itu dapat terlihat dari cara berpenampilan kelompok budaya Punk yang sangat kontras dengan cara berpenampilan kaum kapitalis dan budaya mainstream. 

Contohnya seperti piercing, rambut yang diwarnai, baju yang di corat -- coret, stocking yang berlubang-lubang dan lain -- lain. Akan tetapi pada saat ini budaya Punk seperti mengalami pergeseran, dimana budaya Punk justru membentuk sembuah komoditas yang bertentangan dengan prinsip budaya Punk itu sendiri.

 Seperti contohnya pada saat ini musik-musik Punk mempunyai label industri musik yang banyak memproduksi musik-musik populer. Tidak hanya itu gaya berpenampilan mereka juga kini banyak diproduksi oleh brand-brand fashion ternama dan menjadi sebuah trend fashion. 

Transisi Budaya Punk

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Punk hadir dengan prinsip anti-kemapanan dan melakukan perlawanan terhadap budaya dominan atau populer. Hal tersebut menjadi sebuah paradox ketika Budaya Punk sendiri pada saat ini semakin terlihat adanya peralihan atau transisi dari budaya subkultur menjadi budaya dominant atau budaya populer. 

Fenomena ini dapat dilihat ketika musik-musik punk yang awalnya dibuat untuk mengkomunikasikan sebuah kritik terhadap kaum kapitalis kini musik-musik Punk memiliki label rekaman tersendiri dan tidak sedikit dari musik tersebut menjadi musik populer untuk dinikmati banyak audiens.

 Tidak hanya musik gaya berpenampilan dalam hal pakaian budaya Punk kini tidak dapat lagi merepresentasikan sebuah ideologi anti-kemapanan. Hal ini dikarenakan gaya atau fashion Punk mulai disukai oleh banyak kalangan dan menjadi sebuah trend fashion. 

Bahkan brand-brand fashion ternama kini memproduksi pakaian-pakaian yang identik dengan budaya Punk. Seperti yang dilakukan oleh salah satu pecinta fashion Arashi Yanagawa yang mengusung konsep Punk pada London Fashion Week 2020 lalu. 

London Fashion Week 2020 (sumber:zachary_schwarz on pinterest)
London Fashion Week 2020 (sumber:zachary_schwarz on pinterest)
Hal ini tentu saja bertentangan dengan prinsip Do It Yourself (DIY) sebagai ideologi awal budaya Punk ini dibentuk. Apakah budaya Punk yang awalnya adalah sebuah budaya subkultur menjadi budaya yang dominan atau popular culture? Hal inilah yang membuat kabur  batasan-batasan antara subkultur dan dominant culture.

Apakah nantinya subkultur yang akan membalik keadaan menjadi dominant culture, seperti Punk yang kemudian bisa menghegemoni ideologi anti kemapanannya atau hanya tetap bertahan sebagai subkultur yang menentang budaya kapitalis.

Daftar Pustaka 

Wilujeng, P. R.(2017) Girls Punk: Gerakan Perlawanan Subkultur di Bawah Dominasi Maskulinitas Punk. Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi, 1(1), 103-115.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun