Mohon tunggu...
Caesar Naibaho
Caesar Naibaho Mohon Tunggu... Guru - Membaca adalah kegemaran dan Menuliskan kembali dengan gaya bahasa sendiri. Keharusan

Pengajar yang masih perlu Belajar...

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Bonus Demografi Indonesia, Bisa Jadi Keuntungan, Bisa Juga Kebuntuan

31 Agustus 2016   09:00 Diperbarui: 31 Agustus 2016   09:28 1530
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Perkembangan Jumlah Penduduk Indonesia, bagaikan deret hitung. sumber : Dokpri

Thomas Aquinas dalam karyanya berjudul Summa Theologica mengungkapkan bahwa lokasi surga Atlantis itu berada di wilayah khatulistiwa, di tempat yang iklimnya paling sejuk, memiliki waktu siang dan malam yang sama panjangnya, cuaca disana tidak pernah terlalu dingin disebabkan karena posisi matahari yang tidak bergerak terlalu jauh dari garis ekuator, pun cuaca tidak akan terlalu panas oleh karena meskipun matahari melintas persis di atas kepala, namun tidak akan lama dalam posisi tersebut. Menggambarkan bagaimana kepulauan yang dilintasi oleh garis khatulistiwa menjadi “Surga Langit” bernama Nusantara.

“Jamrud Khatulistiwa” merupakan julukan yang sudah melekat dari dahulu kala hingga sekarang karena Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa melimpahnya, sejarah panjang membuktikan sumber kekayaan alam yang ada di perut bumi kita benar-benar bermanfaat bagi miliaran umat manusia yang hidup dari sumber kekayaan alam kita yang melimpah ruah.

Hidup nyaman dengan berbekal sumber kekayaan alam inilah yang membawa pertumbuhan penduduk yang melonjak tinggi di Indonesia. Terbukti, mulai setelah Indonesia merdeka, 71 tahun yang lalu, hingga sekarang laju pertumbuhan penduduk sepertinya tidak terkendali, walau tidak diimbangi dengan laju pertumbuhan ekonomi yang kalah jauh dari Negara-negara tetangga seperti Jepang dan Korea, namun itu bukan sebagai penghalang masyarakat kita tumbuh subur dengan laju pertumbuhan yang kurang terkontrol.

Hasil penelitian membuktikan bahwa penduduk Indonesia bertambah terus, setelah era kemerdekaan Pemerintah Indonesia melakukan sensus penduduk pertama tahun 1961, penduduk Indonesia berjumlah 97,1 juta jiwa kala itu. Sepuluh tahun kemudian setelah terjadinya perubahan era dari Orde Lama ke Orde Baru dengan Presiden Soeharto mengambil alih kekuasaan dari Presiden Soekarno, kala itu prioritas Presiden kedua dengan lama waktunya berkuasa 32 tahun ini adalah pada pemerataan pembangunan, sehingga beliau tahun 1970 menyetujui pembentukan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dengan tugas utamanya untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Indonesia akan perlunya Keluarga Berencana (KB) untuk mengerem pertumbuhan penduduk yang cepat seperti deret hitung. Begitulah penjelasan awal dari pak Dr. Abidinsyah Siregar, DHSM, M. Kes sebagai narasumber di acara nangkring bersama Kompasiana bareng BKKBN “Bonus Demografi, antara Harapan dan Kenyataan” yang berlangsung di Hotel Madani,, Jum’at (05 Agustus 2016) kemarin.

Apakah Era Bonus Demografi ?

Untuk mengetahui berapa jumlah penduduk di awal era pemerintahannya, maka tahun 1971 diadakan sensus penduduk Indonesia yang kedua. Hasilnya luar biasa, dimana pertumbuhan penduduk telah mencapai angka 119,2 juta jiwa dan jika tidak dilakukan gerakan KB, maka ledakan penduduk akan tidak terkendali di Indonesia. Maka mulailah didengung-dengungkan gerakan penyuluhan BKKBN. Hampir semua media menyuarakan mars KB, terutama radio-radio di seantero tanah air selalu menyuarakan lagu mars KB yang terkenal di era tahun 1980 hingga 1990-an. Kampanye KB (Keluarga Berencana) didengungkan dengan terstruktur dari pusat hingga ke daerah-daerah, sistematis, dan massif di seluruh tanah air, awalnya mendapat tantangan berat dari para masyarakat tanah air, khususnya karena masa itu masyarakat masih punya anekdot “Banyak anak, banyak rezeki”, untuk mengolah sumber daya alam yang sangat melimpah ruah, maka dibutuhkan sumber daya manusia yang banyak. Contoh sederhana, kala itu Ibu saya harus mendapat tantangan berat dari almarhum Ayah karena ibu saya yang berprofesi sebagai Bidan ikut program KB, dan mengajak masyarakat untuk ber-KB dalam mengsukseskan program Pemerintah. Ayah saya tidak setuju padahal kami sudah 6 (enam) bersaudara, namun setelah diberikan arahan, pelan namun pasti bisa mengubah pola pikir pentingnya program KB dalam membangun keluarga yang sehat, berkualitas, dan sejahtera.

Tahun 1980 ketika sensus penduduk dilakukan untuk ketiga kalinya, jumlah penduduk Indonesia sekitar 146,9 juta jiwa yang menandakan program KB sukses dijalankan, artinya angka kelahiran sukses tercegah hampir 100 juta jiwa. Pertumbuhan penduduk hanya 27,7 persen dalam kurun waktu 10 tahun. Tahun 1990 jumlah penduduk kita masih 178,6 juta jiwa dan tahun 2000, ketika sensus penduduk untuk ke lima kalinya dilakukan di era reformasi, ternyata jumlah penduduk kita mengalami lonjakan yang berat menjadi 205,1 juta jiwa dan tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237,6 juta jiwa. Walau terbilang sukses setiap 10 tahun menekan angka kelahiran hingga 100 juta jiwa, namun masih banyak PR yang harus dituntaskan oleh Pemerintah terkait bonus demografi yang kita punya sekarang ini sebagai akibat dari bertambahnya jumlah penduduk di tahun 2000 ke bawah, dalam upaya menuju Indonesia yang sehat, sejahtera dan mampu berdiri diatas kaki sendiri.

Lantas apakah itu Era Bonus Demografi? Setelah mendapatkan pencerahan dari pak Abidinsyah Siregar bersama dengan para narasumber lainnya, maka saya tuliskan disini bahwasanya periode atau masa dimana munculnya ledakan penduduk yang usianya 15 – 64 tahun atau usia produktif lebih banyak dari penduduk yang usianya tidak produktif lagi (usia diatas 65 – 79 tahun), dimana era jumlah penduduk dibawah 15 tahun juga lebih rendah, dan era berlangsungnya selama 20 – 30 tahun buah dari keberhasilan gerakan KB, kesehatan ,dan pembangunan yang dicanangkan di tahun 1980 – 1999 yang telah menurunkan angka kelahiran dan angka kematian secara signifikan. Intinya bonus demografi adalah kekayaan sumber daya manusia Indonesia yang dapat dijadikan sebagai generasi masa depan Indonesia untuk membangun Indonesia dengan memanfaatkan sumber daya alam dengan baik. Generasi usia produktif yang menjadi kunci keberhasilan Indonesia menjadi Negara maju, itulah yang disebut dengan era bonus demografi.

Jika kita bicara bonus, maka yang ada dalam pikiran kita adalah sesuatu yang baik, bagus, sebuah penghargaan atas upaya kerja keras, atau kompensasi diluar dari apa yang kita dapatkan. Pun dengan bonus demografi, ini adalah kompensasi besar yang nusantara dapatkan dari pertumbuhan penduduk Indonesia yang mampu di rem dengan baik di medio tahun 1980 – 1999. Namun, apakah bonus demografi ini adalah sebuah keuntungan? Tidak selamanya bonus demografi itu selalu bernilai positif. Ibarat dua sisi mata uang, bonus generasi usia produktif (15 – 64 tahun) yang kita dapatkan untuk 20 – 30 tahun yang akan datang bisa mendatangkan keuntungan tapi bisa juga jadi kebuntuan, itu tergantung dari sinergi semua pihak dalam membina, mendidik, mengarahkan, serta mempersiapkan generasi ini menuju Indonesia hebat.

Bonus Demografi Sebuah Keuntungan Jika?

Urusan kesejahteraan masyarakat Indonesia tidak sepenuhnya menjadi urusan pemerintah, walau tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, khususnya pasal 33 ayat 1, 2, 3 dan sila-sila dalam Pancasila, masih dibutuhkan peran para individu, orang tua, keluarga, hingga masyarakat dan sinergitas antar lembaga Negara dalam mewujudkan Indonesia sejahtera dengan memanfaatkan bonus demografi yang kita punyai sekarang. Negara kita dikatakan mengalami Bonus demografi, apabila telah mencakup hal-hal berikut : (1) Jumlah penduduk usia produktif bertambah besar dan jumlah tenaga kerja meningkat. (2) Kalau penduduk yang bekerja lebih banyak dan tanggungannya lebih sedikit akan meningkatkan tabungan nasional. (3) Melalui perlakuan terhadap sumber daya manusia secara benar mendorong partisipasi angkatan kerja yang lebih besar. (4) Terjadi peningkatan kebutuhan dan serapan pasar akan produksi. Dalam hal ini, bonus demografi telah terpenuhi karena 70% usia penduduk kita adalah usia produktif yang akan menjadi tulang punggung Negara kita ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun