Setelah berlangsung enam tahun, hubungan mereka terpisahkan tempat dan waktu. Arya tinggal di Kota Solo. Ratih merantau ke Jakarta. Cinta mereka diuji oleh jarak yang begitu jauh.
"Mas, sini masuk." Ratih membuka pintu. Tangan Ratih cepat menarik Arya untuk masuk.
Arya yang sedari tadi terpaku di depan pintu mengikuti ajakan Ratih.
"Ratih, datang, kok, nggak ngabari aku." Tangan Arya menarik kursi dan duduk di sebelah Ratih.
Ratih gadis dengan cantik, muka bulat, rambut pendek itu memandang tajam lelaki didepannya. Tak sanggup dia mengatakan yang sesungguhnya. Mulutnya terkunci rapat. Namun Ratih tak tega menyakiti hati Arya, sosok lelaki yang sudah menjalin hubungan cinta selama enam tahun.
"Aku, kan, mendadak pulangnya, Mas!" Tangan Ratih menyodorkan undangan pernikahan.
"Ini, apa-apaan Ratih? Kau mengundangku datang hanya untuk memberikan ini!" Undangan di tangan Arya dibantingnya.
"Sabar, Mas. Semua ini kehendak bapakku," jelas Ratih yang berusaha untuk meredakan kemarahan Arya.
Muka Arya memerah. Dia ingin meninggalkan rumah Ratih. Arya tidak menduga dengan kenyataan ini. Namun, Ratih meminta agar Arya mendengar penjelasan bapaknya.
"Aku pulang saja!" Arya melangkah ingin keluar dari rumah Ratih. Sebagai lelaki yang sudah mencintai Ratih lama, dia tak sanggup dengan kejadian ini.
"Tunggu, Nak!" Suara Pak Amir, menghentikan langkah  Arya.