Sekecil apapun rencanamu beritahu istrimu. Ceritakan pada istri, mintalah pendapatnya dan libatkan ia di dalamnya. Sebab, istri adalah sosok tak sedarah denganmu tapi ia sosok paling siap berdiri di sampingmu dalam keadaan apapun. @penyejukhati
Pernah suatu waktu, timeline medsos saya muncul sebuah thread. Menilik sekilas isi cuitannya, saya punya dua perkiraan. Bahwa pembuatnya belum menikah, di usia (standar umum) pantas menikah. Atau sudah menikah, tetapi berpisah dengan pasangannya.
Tetapi entahlah, saya lebih condong pada perkiraan pertama. Apalagi setelah melihat profil, membaca beberapa tweet-nya. Secara penampilan fisik menarik, bisa dibilang good looking.
Di kepala thread ada cuitan, "pendam dan kita atasi semua sendiri"- . Kemudian menyertakan video, merekam suasana Jakarta di malam hari (di sekitaran bundaran HI). Di badan video ada tulisan, "pendam semuanya, peluk sendiri lukanya, habiskan air matanya, cukup diri sendiri yang tau berisik riuhnya isi kepala".
Thread ini mendapat banyak reply, dari akun-akun yang tertarik ikut membahas. Ada sebagian menyetujui, sebagian juga menyangkal terjadi percakapan tweet.
Yang setuju, kebanyakan yang pernah merasakan dikhianati. Setelah cerita ke orang lain, ternyata malah disebarkan. Dan yang tidak setuju ikut berkomentar, bahwa masalah yang dipendam sendiri bisa membuat stres dan berpotensi sakit ini dan itu.
Saya yang menyimak, seketika ada ide yang terpantik di kepala. Seketika itu, saya merasakan hikmah dari syariat menikah. Betapa anjuran dan tauladan Kanjeng Nabi soal menikah, sangat menjadi solusi kehidupan.
Sampai-sampai, suami diibaratkan pakaian istri dan istri ibarat pakaian suami. Keberadaan masing-masing, saling melengkapi dan menutupi (aib masing-masing).
Suami yang penat bekerja di luaran, mendapatkan penghiburan istri saat di rumah. Pun istri yang jenuh dengan pekerjaan di rumah, mendapatkan support suami. Kehadiran anak-anak, menjadi kebahagiaan pasangan suami istri. Dan seterusnya.