Mohon tunggu...
Agung Han
Agung Han Mohon Tunggu... Wiraswasta - Blogger Biasa

Part of #Commate'22- Now - KCI | Kompasianer of The Year 2019 | Fruitaholic oTY'18 | Wings Journalys Award' 16 | agungatv@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Miskin Saja Pakai Berbagi Segala!

21 Februari 2023   10:04 Diperbarui: 21 Februari 2023   11:06 179
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kebaikan, adalah fitrah setiap manusia. Yang kemudian nafsu -- atau ego---terus mengikisnya. Sunatullah mengatur dengan jelas, peperangan antara baik dan buruk ada di setiap diri manusia. Namun manusia dibekali akal, agar memilih akan berada di bagian mana dirinya berdiri.

Menjadi baik memang tidak mudah, butuh perjuangan dan effort luar biasa panjang. Karena nafsu -- yang dikuasai setan--, juga tak akan tinggal diam. Tak rela empunya berpaling, apalagi pergi meninggalkannya.

Termaktub di kitab suci, tentang janji setan kepada Tuhannya. Ketika enggan bersujud pada manusia, sebab merasa lebih mulia karena dirinya terbuat dari api-- sedang manusia dari tanah. Atas pembangkangan itu, setan akan kekal di dalam neraka. Untuk keputusan Tuhan, setan memiliki permintaan dan penangguhan siksa.

Ingin menggoda anak-anak Adam, agar mengikuti jejaknya.  Demikian kisah drama di dunia, adalah pertentangan antara ruh dan nafsu. Manusia yang ditakdirkan mulia memiliki tugas besar, yaitu mempertahankan fitrah kemuliaan itu.

Caranya, dengan berbuat kebaikan sesuai tuntunan kitab -- Qur'an dan sunnah. Kebaikan akan membuat hati lembut, peka terhadap pelajaran yang disampaikan semesta. Wallahu a'lam.

-------

Belakangan, saya menyaksikan hal baik sedang marak. Adalah kegiatan berbagi di hari Jumat, yang diadakan di banyak tempat. Saya temui di masjid-masjid, ada kegiatan berbagi nasi kotak selepas sholat jumat.

Saya kerap memergoki di jalan, orang membagikan ke pekerja jalanan. Biasanya memakai motor atau roda empat, penerima manfaat disamperin langsung. Ada juga perusahaan, yang mengirim nasi kotak ke panti atau rumah tahfidz.

Haqul yaqin, hanya kebaikan yang membuat dunia tersenyum. Hati orang orang baik, ibarat matahari dengan sinar menerangi. Ibarat bunga dengan semerbak harum, yang membuat taman menjadi indah berseri.

Tapi lagi-lagi, kebaikan tak lepas dari ujian. Nafsu -- baca; setan---tak akan rela, kalau dunia ini baik-baik saja. Segala daya upaya dikerahkan, agar hal-hal baik terhentikan. Godaan bisa datang dari mana saja, termasuk orang di sekitar kita.

Miskin Saja Pakai Berbagi Segala!

Saya bersyukur, diamanahi oleh orang-orang baik menjalankan kegiatan berbagi. Sebagai bukti sekaligus tanggung jawab itu, saya buatkan laporan berupa foto atau video. Kemudian diposting di medsos, donatur yang turut serta berbagi, biasanya setelah melihat foto/ video di medsos.

Untuk pengadaan nasi kotak, saya punya langganan warung nasi uduk dan nasi kuning. Seorang ibu usai paruh baya, berjualan tidak jauh dari rumah saya. Saya memilih warung ibu ini, karena harganya yang bersahabat dan rasanya lumayan.

dokpri
dokpri

Dan ada satu hal, yang membuat saya salut pada si ibu. Setiap hari jumat, beliau menyisihkan dagangan khusus untuk dibagikan gratis ke pembelinya. Kadang kolak, kadang bubur kacang ijo, opor ayam, mie goreng, dan lain sebagainya. Alhasil pelanggan si ibu bertambah banyak, dan senang mendapat jatah di hari jumat.

Seperti saya mention di atas, bahwa ujian berbuat kebaikan memang ada. Rupanya kebiasaan si ibu di hari jumat, tidak semua orang menanggapi dengan baik. Ada saja hati yang dengki, yang meremehkan bahkan mencemoohnya.

"Miskin saja pakai berbagai segala," ibu warung, menirukan ucapan pembencinya.

Saya mendengar cerita itu, sembari mengangguk setuju. Karena saya mengalami hal semisal. Pernah ada DM atau inbox, mengritik kegiatan berbagi di hari Jumat. Sementara si pengritik tidak terlalu kenal, dan bukan donatur tentunya.

------

Dari kisah ibu warung, saya mendapatkan pencerahan. Betapa kehidupan ini sangat adil, tidak berpihak pada kelompok atau golongan tertentu. Termasuk berbuat baik, nyatanya bisa dilakukan siapapun tanpa pandang bulu. Mau kaya atau miskin, mau berpangkat atau pengawai rendah, mau besar atau kecil penghasilan, mau berwajah rupawan atau biasa saja. 

Setiap orang diberi kesempatan yang sama, untuk bisa melakukan kebaikan. Memberi -- baca berbuat baik--, adalah soal mental. Orang banyak uang, kalau dasarnya kurang suka berbagi, niscaya dia akan enggan. Orang berpangkat kalau dasarnya tidak suka berbagi, tak akan tergerak saat ada kesempatan berbuat baik datang.

Orang orang baik, adalah orang yang berusaha memenangi peperangan ruh atas ego. Orang-orang baik, orang yang selalu berusaha menegakkan kebaikan di semua keadaan dirinya. Berbagi bukan soal banyak atau sedikitnya, tetapi soal bagaimana melanggengkan rasa empati.

Tak elok, melihat orang dari sekedar tampilan luarnya. Bahkan orang (mungkin) terlihat miskin, justru mental berbaginya melebihi orang berpunya. Misalnya donatur yang turut di kegiatan saya, sebagian besar orang kebanyakan (tidak kaya harta).

Semoga bermanfaat.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun