Seperti mengulang kejadian lampau, kini saya merasakan hal yang sama.
Bedanya dulu saya sebagai anak, sekarang saya berada di posisi sebagai ayah.
Tentang adu argumen antara ayah dan anak beranjak dewasa, rasanya sangat bisa terjadi pada siapapun.
Berawal dari pertukaran pendapat ini, kalau salah menyikapi dan kaku dampaknya cukup fatal.
Hubungan ayah anak bisa merenggang, kalau keterusan berpotensi menjauhkan satu sama lain.
Anak merasa dirinya berhak mengambil keputusan, sedang ayah merasa berkewajiban mengarahkan.
Menilik pengalaman masa lalu, saya bisa merasakan apa yang anak rasakan saat mempertahankan pendapat.
Bahwa dirinya memiliki alasan kuat, sehingga memutuskan sesuatu demi masa depannya.
Tetapi ayah dengan rasa sayang serta pengalaman dilalui, tak ingin anaknya salah mengambil langkah.
Apalagi anak masih tergantung secara finansial, sehingga ayah wajar punya andil menentukan keputusan.