Kekerasan berupa kekerasan seksual, eksploitasi seksual, perkosaan, pemaksaan perkawinan, penyiksaan seksual, pemaksaan pelacuran dan lain sebagainya. Kemudian tercatat, Â 3.927 kasus kekerasan fisik, yang semua berakhir dengan perceraian tanpa tindak lanjut guna mendukung hak korban. Sumber SINIÂ
Peran Kepala Keluarga adalah Hebat, Â Ini Musti Disadari Laki-laki
Sekira bulan oktober tahun 2016, saya pernah menulis di Kompasiana dengan tema pernikahan. Â Kala itu mengisahkan seorang teman kantor, di usia yang cukup (hampir 30 tahun) dirinya enggan menikah. Alasan dikemukakan jelas, dia merasa gajinya tidak cukup untuk menafkahi istri dan anak.
Pada saat yang sama di kantor yang sama pula, Office Boy (OB) sudah menikah dan memiliki anak masih kecil. Bisa dibayangkan kebutuhan bayi itu banyak, mulai diapers, susu, bedak, minyak telon, sabun bayi, baby oil dan lain sebagainya.
Dua lelaki dewasa, terlibat perbincangan serius dan juga berhitung. Secara matematika, gaji bulanan teman ini lebih besar dibanding OB. Tetapi nyatanya, si OB sudah menikah dan nyatanya (meski kepala jadi kaki, kaki jadi kepala) bisa menafkahi keluarga.
Saya menekankan, bahwa dalam hidup ini ada hitungan-hitungan yang sulit dijangkau akal manusia, tetapi benar adanya dan terus bekerja. Bahwa besaran rejeki, tak berbanding lurus dengan besaran gaji.
Apalagi manusia yang notabene makhluk mulia, rejeki pasti sudah dijaminkan dan melekat pada dirinya. Menikah bukan untuk dipertakutkan, suami, istri, anak sudah membawa rejekinya masing-masing.
Justru menikah seharusnya menjadi sebuah keniscayaan, mengumpulkan beberapa rejeki menjadi kesatuan. Banyak lho contoh nyata, orang yang semasa muda bukan siapa-siapa. Di kemudian hari sukses, hidup berkecukupan dengan pasangan dicintai dan anak-anak yang membanggakan.
Ini dia artikel lengkapnya : Laki-laki, Jangan Takut Menikah
Siapa nyana, artikel sederhana ini memberi inspirasi yang membaca. Seorang teman memberi respon positif, menyarankan saya untuk lebih sering menulis tema keluarga. Teman ini menyumbang gagasan, dan menyatakan bahwa artikel tentang pernikahan atau keluarga adalah timeless. Jujur, ide dan masukan ini berhasil memantik spirit. Saya melihat kesempatan luar biasa, untuk belajar dan belajar lebih banyak lagi.
Sebagai tindak lanjut atas semangat ini, saya membuka diri dan belajar dari banyak hal. Buku genre parenting, tiba-tiba menjadi bacaan menarik dan menggairahkan. Acara dengan tema keluarga dan anak, nyaris tak saya lewatkan. Kemudian saya praktekkan dalam keseharian, pada istri dan anak-anak di rumah.