Selalu saja suara paraunya terdengar usai transfer, menghadirkan suasana melankoli. Bagi saya doa ibu, adalah senjata ampuh menghadapi onak duri dan segala macam tantangan. Maka ketika tiba-tiba saya mendapat kemudahan menyelesaikan urusan, benak ini terbayang wajah perempuan 70 tahun di pelosok kampung.
Pertegahan bulan ini ada yang lain, suara ibu tak lagi menyahut ketika ditelepon. Melainkan kakak ipar perempuan, yang mengangkat sambungan komunikasi. Terdengar kabar ibu masuk Rumah Sakit, dengan keluhan tiba-tiba suka menggigil.
Memang tak bisa seketika saya beranjak, karena terikat urusan yang sudah tersepakati. Namun harus mengatur waktu, "Aku Harus Pulang" tekad ini membulat. Tiba-tiba ada yang hilang, setelah seminggu saya tak bisa berbincang. Doa demi doa saya panjatkan, demi kesembuhan ibunda.
"Pulang Gung, siapa tahu bisa jadi tombo" nasehat kakak ipar
Pagi belum terlalu sempurna, bus antar kota mengantar saya sampai di terminal Maspati. Kakak mbarep yang sudah koordinasi via SMS, menjemput begitu bus sampai. Kami langsung menuju Rumah Sakit,
[caption caption="Dokumen Pribadi"]
Wajahnya mulai segar, meski terlihat lemas dan sedikit pucat. Begitu tahu anak ragilnya mendekat, butiran air bening keluar dari sudut matanya.
"Le kowe teko (kamu datang)" kalimatnya lemah
Saya pijiti tangan dan kakinya, sembari mengucapkan apapun yang terlintas di benak. Memandangi wajahnya yang keriput, mengusap kening dan rambutnya yang sudah memutih.
"Yang Ikhlas dan pasrah nggih buk" bisik saya.
Ibu lumayan dekat dengan saya, kakak- kakak mengakui hal itu. Kedekatan memang sengaja saya bangun, sebagi wujud berbakti. Obrolan dari hati ke hati, sembari bercerita apapun tentang menantu dan cucu.