Mohon tunggu...
Agung Han
Agung Han Mohon Tunggu... Wiraswasta - Blogger Biasa

Part of #Commate'22- Now - KCI | Kompasianer of The Year 2019 | Fruitaholic oTY'18 | Wings Journalys Award' 16 | agungatv@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kompasianers Bertandang ke Istana Negara

13 Desember 2015   09:14 Diperbarui: 13 Desember 2015   09:14 160
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Suasana protokoler memang terasa, tapi (menurut saya) tak ada kesan kaku. Memasuki istana Negara, tepatnya di tempat jamuan makan siang. Megah dan megah yang saya rasakan, bangunan dengan langit-langit menjulang, lampu hias gantung di beberapa titik, foto kanvas Presiden terpasang rapi di setiap tiang penyangga, berurutan Sukarno, Suharto, Habbibie, Gus Dur, Megawati dan SBY.

Kami berkelompok duduk mengelilingi meja bundar, setiap meja ada enam kompasianers. Sambil menunggu kehadiran Presiden Jokowi, kami isi dengan obrolan ringan. Tak butuh waktu lama, yang ditunggu akhirnya datang juga.

"Hadirin dipersilakan berdiri' suara MC menggema.

Presiden Joko Widodo dengan penampilan khasnya, baju putih panjang lengan ditekuk. Berjalan santai membelah barisan kompasianers, bergantian berjabat tangan. Prosesi memakan waktu sekitar lima menit, kemudian kami dipersilakan duduk kembali.

Sebuah mike berdiri di sudut kiri ruangan, Pak Jokowi berjalan mendekati. "Kok jadi serius gini ya" celetuknya "ayo makan dulu"

Suasana berubah cair, Pak Jokowi menuju meja prasmanan diikuti kompasianers. Kami menikmati menu istana, bagi saya nih, taste nya pas di lidah. Sate empuk seperti ada campuran kelapa, sop daging sangat tidak alot. Yang menggoda saya, justru es podengnya (hehhee, jadi ngomong makanan)

Usai makan siang, mas Isjet mengambil panggung. Sebagai public speaking, mas Isjet tampil percaya diri dan sangat piawai. Memperkenalkan kompasianers dengan relaks, bahkan di depan orang nomor satu di negri ini. (Bravo mas Isjet dah....Traktir ya #eh)

Delapan kompasianers maju (rencananya sepuluh) dari berbagi latar belakang, masing-masing diberi waktu sekitar 2 menit. Mas Junanto Hendriawan (ekonom), Mbak Fera Nuraini ( eks BMI HK- suaranya parau menahan haru), Om Wijaya Kusuma (guru), Papanda Thamrin Dahlan (Pensiun- kini aktif di BNN), Mas Agung Soni (Kudeta), Mbak Roesda (amboina), Citra (mahasiswi S3) dan Mbak Aulia Gurdi (Ibu Rumah Tangga). Setiap kompasianer menyampaikan uneg-unegnya, berisi harapan (ada request juga lhooo)

Setelah perwakilan kompasianers, Mas Isjet mempersilakan Presiden.

Pak Jokowi menyampaikan tanggapan, terutama perihal yang terjadi di lapangan. Presiden mengungkapkan"Yang butuh waktu dan perjuangan panjang adalah merubah sikap, apalagi kalau sudah mengakar dan berjalan lama (menjawab fera, tentang instansi yang semestinya melayani rakyat), maka perlu diperketat dengan sistem. Pembelian dan pembayaran yang dilakukan negara, harus dilakukan secara electronic, sistem electronik akan memudahkan kontrol, cepat ketahuan siapa yang mencoba bermain api".

Presiden manambahkan "KPK sudah berdiri lama, dan banyak pejabat yang dipenjara, buktinya masih ada saja yang tidak jera"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun