Rotasi bumi terasa hanya sebatas gerak kincir angin yang mengorbit antara mata dan perut.
Tebal - tipisnya dompet adalah nilai sakral level kehidupan.Â
Gerak rasa hanya mampu menyentuh saraf-saraf ujung lidah.
Karena hanya orang bodoh yang mampu mendeskripsikan cinta, maka yang ada hanya kalkulasi.
Perhitungan untung rugi atas buah fikir dari rasa semu.Â
Rasa yang merasa telah berkorban dalam satu perjuangan yang suci atas nama konsep kebenaran dan ketulusan adalah racun bagi hati.Â
O... hatiku, ditinggal pergi oleh sahabat sejati jati bernama cinta.Â
"Bukankah aku cintamu?" tanya wanitaku.Â
"Tidak, kamu hanyalah keinginanku," aku menatap matanya.Â
"Aku juga menginginkanmu. Bukankah itu cinta?" ia menatap dalam ke dalam mataku.Â
"Itu adalah hasrat," bisikku.
"Lalu, dimana cinta?" ia penasaran.Â
Aku diam dan menatap langit yang bisu.
Wanitaku memelukku di bawah malam dan rembulan.Â
"Sayang, besok aku mau cari kayu bakar," ia mengecup pipiku.Â
"Aku mau cari ubi di sawah Pak Haji yang baru panen kemarin," sambil ku kecup bibirnya.Â
Bendera merah putih kebanggaan anak kami berkibar di halaman rumah. Orang-orang berduyun menenteng besek dari acara haul seorang warga untuk menyambut Ramadhan.Â
"Ayah tidak diundang?" anakku berdiri di bibir pintu rumah sambil memegang perutnya.Â
Rasanya rotasi bumi hanya terasa sebatas gerak kincir angin yang mengorbit antara mata dan perut.
19 Maret 2023.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H