Dari sini saja kita semestinya sadar betapa besar power yang kita miliki dan peranannya terhadap nasib bangsa kita. Oleh karena itu, tidak semestinya kita diam disaat nanti bangsa kita butuh keberadaan kubu oposisi. Karena oposisi itu adalah kita.
Boleh jadi kita semua memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Diantara kita mungkin saat pemilihan umum presiden (pilpres) dulu ada yang memilih Jokowi, dan yang lainnya memilih Prabowo.Â
Namun setelah kini prosesi itu sudah usai, tugas kita adalah menjadi pengawal setiap kebijakan orang-orang yang kita pilih untuk menjadi wakil mengelola bangsa ini. Kita berhak menegur para penguasa, karena pada hakikatnya mereka adalah wakil kita.Â
Pemerintah atau anggota dewan bukanlah atasan kita, mereka hanyalah pelaksana mandat rakyat. Tanpa bermaksud meremehkan atau merendahkan jabatan mereka, sistem pemerintahan saat ini berbeda dengan masa kerajaan dahulu.Â
Jikalau raja-raja dulu sepertinya sangat diagung-agungkan dan masyarakat sepertinya mengabdi kepada mereka, maka sepertinya hal itu kini sudah tidak berlaku lagi.Â
Sehingga kita mesti berani untuk bersuara lantang jikalau memang sesuatu yang tidak pantas terjadi dalam tata kelola pemerintahan saat ini atau pada masa-masa mendatang. Kita harus bersikap sayogyanya oposisi yang menentang dan mengkritik kebijakan yang tidak pro rakyat. Berani?
Salam hangat,
Agil S Habib
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H