Mohon tunggu...
Agil Septiyan Habib
Agil Septiyan Habib Mohon Tunggu... Freelancer - Esais; Founder Growthmedia, dapat Dikunjungi di agilseptiyanhabib.com

Plan, Create, Inspire

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Harmoni Kekeluargaan dalam Lingkungan Kerja

27 Mei 2019   10:05 Diperbarui: 27 Mei 2019   10:09 989
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Menghadirkan keluarga dalam bisnis adalah cara untuk menciptakan harmoni kerja (Ilustrasi gambar : https://www.pexels.com)

Kepemimpinan adalah salah satu hal paling penting yang dimiliki oleh seseorang. Hal itu membedakan kecakapan dirinya dengan orang lain. Mereka yang memiliki kemampuan kepemimpinan mumpuni dan lebih baik daripada yang lain akan memiliki kesempatan untuk lebih berhasil dalam hidupnya. 

Kepemimpinan yang dimaksud disini tidaklah sebatas pada jabatan struktural dengan kewenangan mengatur anak buah atau orang lain, namun lebih kepada kemampuan untuk memberikan keteladanan dan inspirasi kepada orang lain, termasuk tim yang menjadi bagian dari tanggung jawabnya.

Seringkali muncul anggapan bahwa kepemimpinan yang berhasil adalah kepemimpinan yang diikuti oleh segenap anggota tim. Padahal orang-orang yang memimpin secara diktator pun juga diikuti oleh anggota timnya. 

Maka apakah memimpin secara diktator adalah wujud dari keberhasilan menjadi seorang pemimpin? Mungkin sebuah intruksi diikuti, barangkali setiap perintah dijalankan, dan semua keputusan yang dikeluarkan pimpinan dijalankan oleh semua. 

Akan tetapi apakah semua itu menjamin bahwa hasil yang dicapai benar-benar sesuai harapan? Akankah terbentuk suasana kerja yang harmonis dan nyaman untuk dijalani semua orang yang ada disana? Jangan-jangan tercipta sekat yang begitu lebar disana, yang menjadikan sebuah komunitas atau organisasi laksana sebuah "neraka" yang "membakar" emosi dan hati setiap orang.

Setiap hubungan yang terjalin dalam sebuah institusi, lembaga, perusahaan, komunitas, atau organisasi pada umumnya didasarkan pada hubungan bisnis atau profesionalitas semata. Hubungan itu sebatas terjalin karena adanya saling membutuhkan satu sama lain. Sangat jarang hubungan didalamnya yang terbangun atas dasar kesadaran kekeluargaan. 

Sesama rekan kerja kebanyak bersikap atas dasar saling butuh, bukan saling bantu. Jikalaupun ada barangkali jumlahnya tidak banyak. Antara atasan dan bawahan tak ubahnya hubungan pemberi perintah dan pelaksana perintah. 

Semua hubungan yang terjadi serba struktural, komando, instruksi kerja. Sangat sedikit organisasi yang membangun hubungan antar manusianya berdasarkan rasa kekeluargaan layaknya hubungan antara sesama saudara kandung, adik kakak, atau bahkan orang tua dan anak. 

Sesama rekan kerja yang memiliki hubungan kerja selayaknya saudara kandung tentunya akan lebih harmonis. Terlebih hubungan antara pemimpin dengan anak buahnya yang berlaku layaknya orang tua kepada anak-anaknya. 

Mungkin tidak perlu lagi ada ketakutan dan kekhawatiran dari seorang anak buah saat ia melaporkan hasil audit kepada atasannya, barangkali tidak perlu muncul kekahawatiran ketika ada atasan yang memanggil anak buahnya, atau bisa jadi kita justru sangat berharap untuk menambah intensitas pertemuan serta pembicaraan dengan segenap anggota tim seperti halnya kita merindukan untuk berkumpul dan bercengkrama bersama keluarga kita di rumah.

Bisa dikatakan bahwa hampir dari kita semua bekerja untuk kepentingan serta kebutuhan keluarga di rumah. Kita bekerja keras banting tulang untuk ibu kita, ayah kita, anak-anak kita, adik atau kakak kita, dan lain sebagainya. Mereka adalah sumber semangat kita. 

Bahkan tidak jarang kita lebih memilih untuk mengorbankan diri kita asalkan keluarga kita dirumah baik-baik saja. Lebih baik kita yang tidak makan daripada anak-anak kita yang tidak makan. 

Lebih baik kita yang tidak bisa membeli barang-barang kebutuhan daripada orang tua kita tidak tercukupi kebutuhannya. Pokoknya kita semua lakukan demi keluarga kita di rumah.

Berkumpul dan bercengkrama dengan sanak kerabat adalah salah satu hal yang paling kita ingin jalani. Bagaimanapun juga kita bekerja untuk mereka dan tentunya kita ingin menikmati hasil jerih payah kita itu bersama mereka. Kita lebih memilih untuk pulang kerja tepat waktu sehingga bisa segera berjumpa keluarga di rumah daripada berlama-lama ditempat kerja setelah jam kerja selesai. 

Hal ini salah satunya dipicu oleh suasana kerja yang penuh tekanan dan jauh dari rasa nyaman. Hubungan kerja tidak lebih dari sesuatu yang membebani pikiran dan melelahkan emosi. 

Sehingga bersua keluarga di rumah dianggap sebagai "obat" paling mujarab untuk mengatasi itu semua. Kita menganggap keluarga adalah tempat kita mendapatkan kehangatan, tempat kita berkeluh kesah tanpa takut atau khawatir, dan tempat dimana kita justru dilindungi ketika salah atau didukung penuh ketika terpuruk. Keluarga adalah tempat "berlindung" paling aman bagi setiap orang.

Seandainya peranan penting keluarga ini kita "adopsi" untuk bisa muncul dalam lingkungan kerja kita sehari-hari, maka betapa berbahagianya kita atas hal itu. Ketika sikap seorang atasan kepada anak buahnya sehangat sikap seorang ibu atau sesayang perlakuan ayah kepada anak-anaknya maka bukan tidak mungkin segenap anggota tim disana menjadi begitu mencintai pekerjaannya. 

Jikalau sikap sesama rekan kerja sama halnya seperti saudara kandung yang saling menjaga satu sama lain, maka betapa mudahnya setiap pekerjaan untuk dijalani. Dengan lingkungan kerja yang sehangat lingkungan keluarga kita di rumah maka bukan mustahil harmoni kerja akan terwujud. 

Kondisi ini tidak akan lagi membutuhkan tuntutan akan loyalitas, karena loyalitas akan muncul seiring rasa sayang terhadap keluarga di tempat kerja. Produktivitas kerja bukan lagi menjadi hal yang harus dipajang dalam pengumuman oraganisasi, karena mereka yang mencintai keluarganya akan produktif dengan sendirinya.

Sudah ada begitu banyak konsep-konsep yang ditawarkan untuk membangun sebuah organisasi hebat dengan tujuan menjadikan semua orang didalamnya bekerja secara produktif dan juga efisien. 

Namun masih sangat sedikit yang benar-benar menggunakan pendekatan hati ke hati sehingga menjadikan sebuah organisasi bisnis berlaku layaknya hubungan sesama anggota keluarga yang saling mendukung secara harmonis satu sama lain. 

Keluarga adalah hubungan yang dibangun atas dasar ketulusan. Melahirkan semangat luar biasa untuk berkorban dan berdedikasi tinggi. Potensi besar ini akan sangat hebat apabila kita mampu mengadopsinya secara tepat bagi oraganisasi dimana kita berada.

Salam hangat,

Agil S Habib

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun