Mohon tunggu...
Afina Mahardhika
Afina Mahardhika Mohon Tunggu... Mahasiswa -

Indonesian Studies, Faculty of Humanities, Universitas Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bundu

19 November 2015   18:22 Diperbarui: 19 November 2015   18:24 39
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

 Aku akan bunuh diri.

Aku bisa mendengar keramaian pasar dari sini. Suaranya seperti kerumunan lalat. Orang-orang berjalan dengan warna yang berbeda-beda sesuai pakaian dan barang bawaan mereka.

Gedung-gedung kini tingginya sama denganku. Tetapi orang-orang di dalam gedung itu terlalu sibuk untuk melihatku. Tidak ada yang menarik dari menara air yang menyebabkan mereka akan melihat ke arahku. Kalaupun ada, aku rasa mereka mengira aku adalah teknisi yang akan membenahi menara air. Memang, akhir-akhir ini beberapa tempat di daerah ini mengalami kekurangan air. Masuk akal.

Aku juga bisa melihat dengan jarak pandang yang lebih luas sekarang. Bahkan, rumahku dan tetanggaku. Oh, tetanggaku. Aku tidak dapat menahan pikiranku untuk tidak memikirkan dia. Aku masih ingin menemuinya, andai aku bisa. Tetapi aku akan bunuh diri.

***

“Bundu, Bundu! Lihatlah! Aku bisa menyelesaikan permainan ini dengan cepat! Aku mendapat, uuh…” ucapnya dengan semangat dan berakhir dengan terbata-bata.

High score, kau mendapatkan high score.” tambahku sambil menyunggingkan senyum.

“Ah, ya! Aku hebat, kan?” ia menimpali dengan pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Kini ia kembali beradu dengan gadgetku.

Kian, ia begitu asik memainkan permainan barunya. Begitu juga aku yang asik menatapnya. Matanya berkaca-kaca, seperti ingin menangis, tapi ia bahagia. Matanya memang indah.

“Bundu, terima kasih sudah menjaga Kian hari ini. Maafkan aku terlalu merepotkanmu, kau pasti sibuk sekali. Kian, ayo pulang. kau tidak boleh tidur larut malam.” Suara dari sampingku membuyarkanku dari lamunan.

Aku hanya bisa tersenyum saat Reina, ibu Kian, datang menjemput Kian. Aku selalu bersimpati pada mereka. Reina ditinggalkan oleh lelaki yang menanamkan benih Kian di rahimnya. Sejak itu, aku dan Reina menjadi dekat. Ia bahkan pernah mengungkapkan perasaannya padaku. Tapi aku tak bisa. Ada hal lain yang menjadikanku cukup menjadi kawannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun