Seperti yang kita ketahui, McDonald's merupakan salah satu restoran fast food yang ada di Indonesia. Restoran berslogan "I'm Lovin' It" ini menjual berbagai fast food, mulai dari hamburger, kentang, ayam, soda dan lain-lain. McDonalds juga rutin mengeluarkan berbagai menu fusion dengan makanan Indonesia dengan harapan untuk memperluas demografis dari konsumennya. Demografis konsumen McDonald's sangat luas, dari anak kecil sampai orang dewasa. Hal ini dikarenakan McDonald's yang praktis, enak dan juga memiliki variasi menunya yang banyak.
Namun, hal ini tidak demikian dengan para jammers. Jammers memilih untuk memutar logo "M" dari McDonald's menjadi "W". Mereka juga mengubah slogan "I'm Lovin' It" menjadi "I'm Gainin' It". Jammers melihat bahwa McDonald's merupakan salah satu bentuk badan usaha kapitalisme yang "jahat" dan "serakah". McDonald's sama sekali tidak memperhatikan tentang dampak yang akan terbentuk pada manusia jika mengkonsumsi McDonald's secara terus menerus. Dampak yang ingin ditonjolkan dalam bentuk culture jamming ini adalah obesitas. Obesitas merupakan kondisi dimana tubuh kita memiliki berat badan yang diatas normal. Dari obesitas, dapat muncul penyakit-penyakit yang tidak kita inginkan. Dari penyakit kecil hingga penyakit yang fatal.Â
.
Untuk uraiannya, dapat kita jabarkan seperti ini:Â
 "Saya cinta makanan McDonald's dan akan sering kembali untuk membelinya lagi."
Pesan yang disampaikan pada iklan asli McDonald's yaitu semua orang yang mengkonsumsi McDonald's akan menyukainya dan akhirnya datang lagi ke McDonald's.
"Jika saya makan di McDonald's, berat badan saya akan bertambah & saya akan jadi obesitas"
Hal ini dijadikan bumerang oleh jammers, dengan menjadikan pesan menjadi anti-pesan. Mereka anti-konsumerisme dan melihat bahwa McDonald's merupakan salah satu pelaku terbesar yang menimbulkan adanya obesitas.
.
.
.
Jadi, seperti itulah penjelasan mengenai culture jamming dengan contohnya. Semoga dengan membaca artikel ini, kalian dapat menjadi lebih paham mengenai culture jamming!