Mohon tunggu...
Adi Triyanto
Adi Triyanto Mohon Tunggu... Buruh - Buruh Sebuah Perusahaan swasta Di Tambun- Bekasi-Jawa Barat

Lahir Di Sleman Yogyakarta Bekerja dan tinggal Di Bekasi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Generasi Repetisi dan Sumber Penghasilan yang Berubah

3 Agustus 2024   07:27 Diperbarui: 3 Agustus 2024   07:32 59
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Generasi repetisi. Generasi yang suka mengulang -ngulang hal yang sama. Sekarang main game, nanti main game lagi. Saat ini tidur sebentar lagi , tidur lagi. Begitu hari-harinya dillalui.

Repetisi atau pengulangan, sebenarnya tidak semua buruk. Dengan pengulangan kita menjadi makin hapal. Makin paham. Dengan mengulang juga bisa menjadi makin jago skillnya. Meningkat kemampuannya.

Kalau terkait hal hal baik. Itu tentu menjadi keuntungan . Menjadi nilai tambah kualitas diri. Citra menjadi makin baik di mata orang. Si anu terampil main bola. Si anu lihai menyanyi . Si Fulan, jago ilmu computer.

Namun bila pengulangan dilakukan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, baru menjadi masalah. Itulah yang saat ini banyak dilakukan pleh para generasi muda. Menurut para orang tua, apa yang banyak dilakukan secara berulang ulang anak anak mereka, hal yang kurang bermanfaat menurut standar mereka. Bahkan mungkin hal hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh para orang tuanya. Termasuk pamali dilakukan. Seperti ngegam-ngegem, untuk menunjukkan aktifitas bermain game terus menurus. Sambil rebahan di kamar tangan lincah jari-jemari itupun memencet tombol pengarah gerakan di layer hp tanpa henti. Ada panggilan orang tua, tidak dengar. Atau pura pura tidak dengar.

Ada lagi postang-posting. Suatu aktifitas generasi milenial yang sangat akfif di media social. Baik di Instagram, Tik tok atau pun Youtube. Apa saja yang dilakukan harus diupdate . Dikabarkan ke semua rekan , teman dan juga sahabat . Dan tentu para pengikut setianya.

Ada juga yang tidar-tidur. Generasi rebahan. Kalau ini akibat kurangnya kegiatan yang harus dilakukan. Bisa karena tidak bekerja. Baik karena kontraknya habis. Atau karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya. Atau bisa juga karena mengundurkan diri karena kerjaan tidak sesuai yang diharapkan.

Apa yang diulang-ulang bagi generasi repetisi merupakan hal yang kurang baik menurut para orang tua. Disebut sebagai bentuk kemalasan. Daripada ngegame ngegem, postang -posting atau tidar- tidur lebih baik membantu pekerjaan rumah orang tua. Membersihkan rumah. Menyapu lantai atau menyiram tanaman. Karena akan membuat badan aktif bergerak dan tubuh menjadi sehat. Atau keluar bertemu kawan atau saudara, siapa tahu mendapatkan peluang baru dan bisa menambah pengalaman.

Satu ciri khas generasi lama, adalah generasi yang mengutamakan kontak social dan juga menjunjung etika, sopan santun. Dan itu pula yang para orang tua , percayai sebagai hal baik. Banyak manfaat yang diperoleh Ketika mereka dulu banyak aktif dalam kegiatan di masyarakat. Bergaul dengan banyak orang. Bertemu dengan para sahabat , kerabat dan saudara. Selain lebih mempererat hubungan persaudaraan, pertemanan, juga bisa mendapatkan peluang peluang baru. Bisa juga mendapat informasi tentang kesempatan kerja. Atau juga kesempatan menambah ilmu , skill dan keterampilan yang diperlukan untuk mendapatkan kesempatan berkembang lebih luas. Itu harapan mereka, para orang tua. Dan mereka pernah mengalami manfaatnya secara langsung dulu ketika muda,

Hal yang baik saja kalau dilakukan berkali-kali atau diulang ulang bisa menjadi kurang baik. Orang menjadi tidak respek lagi. Bahkan membuat orang yang melihat atau mendengarnya menjadi bosan. Apalagi kalau yang dilakukan itu , hal yang kurang baik, kurang produktif. Orang tua yang melihat, anaknya melakukan itu semua bisa menjadi marah. Belum lagi kalau orang tua sedang menghadapi masalah ekonomi, bisa Tingkat marahnya makin membuncah . Para orang tua berharap kalau tidak bisa mengurangi beban ekonomi orang tua , minimal bisa membantu membereskan pekerjaan rumah. Bila melihat kondisi rumah berantakan, eh anak malah sibuk di kamar, ngegam-ngegem, postang-posting dan tidar-tidur, Itu semua bisa membuat para orang tua ' ngamuk-ngamuk'.

Lalu bagaiamana titik temu keduanya ? Sebetulnya akar masalahnya atau ujung ujungnya adalah masalah ekonomi. Bila kondisi ekonomi keluarga mapan mungkin, apapun kegiatan anak tidak akan begitu merisaukan orang tua. Tapi bila ada problem ekonomi, ada kebiasaan yang justru menambah beban ekonomi keluarga makin berat tentu menjadi masalah baru dalam keluarga. Dan harapan orang tua nakanaknay memilki kebiasan yang baik. Anak-anaknya menjadi orang sukses. Berhasil dalam hidupnya. Tidak menjadi anak yang malas. Para orang tua tentu tidak mengharapkan anak-anaknya akan membalasnya dengan memberi uang tiap bulan. Bukan itu yang diharapkan orang tua.

Selain itu para orang tua juga sudah harus menyadari pergeseran jaman dan perubahan trend sumber sumber pendapatan ekonomi. Yang sekarang sudah jauh berubah. Dibanding jamannnya mereka muda dahulu. Jaman mereka untuk mendapatkan uang , harus berkerja keras membanting tulang. Dari pagi hingga petang. Bergaul dengan banyak orang untuk mendapatkan peluang-peluang usaha baru . Itu dahulu. Sekarang jaman telah berubah . Teknologi telah memudahkan semua dan membuka peluang usaha baru . Bahkan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun