Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Financial Artikel Utama

"Happy Money" atau "Unhappy Money"? Sebuah Refleksi tentang Uang

16 Oktober 2023   10:00 Diperbarui: 16 Oktober 2023   15:18 877
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Uang/Sumber: news.richmond.edu

Kemarin, sewaktu berkunjung ke Gramedia, saya bertemu dengan sebuah buku yang judulnya cukup menarik: "Happy Money". Buku tersebut ditulis oleh Ken Honda, dan isinya cukup unik. 

Awal-awal membaca buku tersebut, pikiran saya sempat "terpental" pada buku "Rich Dad, Poor Dad" yang ditulis Robert Kiyosaki. Maklum, gaya penulisan keduanya cukup mirip, karena di bagian awal, Ken dan Kiyosaki sama-sama memperkenalkan dua "sosok" yang bertolak belakang.

Jika Kiyosaki menceritakan soal sosok "Ayah yang Kaya" dan "Ayah yang Miskin", maka Ken justru menggunakan metafora dengan membahas sosok "Happy Money" dan "Unhappy Money". 

Sosok "Happy Money" digambarkan sebagai bocah kecil yang periang dan murah hati. Sementara, "Unhappy Money" sebaliknya. Ia tampak "hobi" bersedih, muram, murung, dan sederet emosi negatif lainnya.

Tentu saja, "Happy Money" dan "Unhappy Money" bukanlah sosok yang nyata. Keduanya cuma sebuah perumpamaan yang dipakai oleh Ken untuk menggambarkan penilaian kita terhadap uang.

Seperti yang disinggung oleh Ken, setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda terhadap uang. Meskipun sejatinya uang adalah benda yang netral, namun sewaktu memikirkan uang, maka opini masing-masing orang bisa "terbelah".

Kiyosaki misalnya menyebut kedua ayahnya memiliki opini yang berseberangan jika bicara soal uang. Ayah yang Miskin", misalnya, menolak membahas uang di meja makan dan menganggap uang sebagai "sumber kejahatan". Sementara, "Ayah yang Kaya" berkata sebaliknya. Uang adalah kekuatan, kekuasaan, katanya.

Pandangan semacam itu mungkin bisa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tanyakanlah opini orang-orang di sekitar Anda tentang nilai uang bagi mereka. Jangan kaget kalau jawaban yang disampaikan bisa bermacam-macam, dan hal itu mungkin membikin Anda pusing sendiri.

Kita harus memahami bahwa opini tersebut bisa muncul bukan tanpa sebab. Pasti ada cerita yang menarik di belakangnya.

Sehubungan dengan hal itu, saya jadi teringat pada kisah William Tanuwijaya, seorang co-founder Tokopedia, yang disampaikan di sebuah podcast.

Di podcast tersebut, William bilang, saat kehidupan sulit, uang menjadi hal yang penting; saat kehidupan sudah sejahtera, waktu menjadi hal yang penting. Opini tersebut timbul sewaktu ia merefleksikan kehidupannya pada masa lalu.

Seperti diketahui, saat masih menjadi mahasiswa pada tahun 2000-an, William pernah bekerja sebagai penjaga warnet dari jam 9 malam hingga jam 9 pagi.

Pekerjaan ini dilakoni bukan tanpa alasan. Pada waktu itu, ayahnya sedang sakit, dan keluarganya tidak punya cukup uang untuk membiayai kuliahnya, sehingga ia harus mencari uang sendiri.

Bagi william, pengalaman itu cukup berkesan, sehingga ia beberapa kali membagikannya dalam sejumlah kesempatan. Pengalaman itu agaknya membentuk opininya tentang uang.

Maka, jangan heran, jika ia kemudian berkata bahwa uang menjadi hal yang sangat penting dalam hidupnya, karena dulunya ia pernah merasakan betapa susahnya hidup tanpa uang.

Tak hanya cerita masa lalu, opini tentang uang juga bisa terbentuk dari budaya bangsa tertentu. Orang Indonesia contohnya kerap menyamakan bekerja atau berbisnis dengan "cari duit".

Hal itu memang tidak salah, sebab tujuan dari bekerja atau berbisnis adalah untuk memperoleh uang. Tidak bekerja maka tidak dapat uang. Makanya, duit harus dicari demi menunjang kehidupan.

Sementara itu, konsep serupa bisa ditemukan di belahan benua lain. Namun demikian, di sana, orang-orang tidak mengenal istilah "cari duit", tapi "making money" (menciptakan uang).

Agaknya mereka tidak begitu tertarik bekerja mengumpulkan pundi-pundi uang, tapi justru lebih berminat menciptakan uang dengan berbagai cara, seperti membangun perusahaan dan investasi.

Dari situ, kita bisa menarik benang merah bahwa walaupun konsepnya mirip-mirip, tapi mindsetnya bisa berbeda, maka berbeda pulalah cara setiap bangsa untuk mendapatkan uang.

Sebagai penutup, izinkan saya untuk mengajak Anda untuk merefleksikan nilai uang bagi hidup Anda. Caranya mudah. Saat Anda nanti menerima (atau mengeluarkan) uang, coba Anda hening sejenak, seraya merasakan emosi yang muncul dalam diri Anda.

Emosi yang Anda rasakan tersebut akan memberikan Anda sebuah jawaban apakah uang Anda itu "happy money" atau "unhappy money".

Salam.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun