Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Kerokan, "Seni" Pengobatan Tradisional yang Tokcer Menangkal Masuk Angin

26 November 2017   21:01 Diperbarui: 26 November 2017   22:18 2764
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
acara nagkring kompasiana bersama balsem lang di hotel shantika premiere, pada tanggal 25 oktober 2017 (sumber: dokumentasi pribadi)

Bagi saya, kerokan ialah teknik pengobatan yang cukup "menyiksa". Betapa tidak, sewaktu melakukannya, kulit terasa sakit akibat "digosok" dengan permukaan koin.

Makanya, sebelum dikerok, saya biasanya akan menyiapkan kain. Fungsinya? Ya, buat menyumpal mulut saya agar saya tidak menjerit-jerit manakala punggung ini didera gosokan koin. Hahahahahahahahaha.

Namun demikian, biarpun dunia medis modern masih memandangnya "sebelah mata", kerokan terbukti ampuh mengatasi masukangin. Saya merasakan keampuhannya sendiri.

Sudah seminggu belakangan, perut saya sering mual. Awalnya, saya pikir maag. Maklum saja, di kantor, saya sedang punya banyak tugas, yang "mepet" deadline. Akibatnya, asam lambung bisa saja naik, terbawa stres.

Saya pun memutuskan minum obat maag. Namun, ternyata penyakit itu belum juga "lengser" dari tubuh saya. Segera saja saya menduga terkena masukangin. Pasalnya, tubuh ini terasa berat manakala saya baru bangun tidur, kemudian keringat juga sering muncul walaupun saya terpapar AC di KRL dan kantor, dan perasaan mual itu tadi.

Dari ketiga gejala itu, akhirnya saya menyimpulkan terkena masukangin. Selanjutnya saya pun minum obat yang berkhasiat meredakan penyakit tersebut. Saya sengaja memilih minum obat untuk menghindari kerokan. Hahahahahahahahahaha.

Namun demikian, biarpun telah minum obat, kondisi badan saya masih tetap sama. Tubuh masih terasa berat. Lesu. Mudah ngantuk. Apalagi saat kerja. Makanya, sejak beberapa hari sebelumnya, saya bisa tertidur di kantor. Sungguh itu menghambat ritme kerja saya!

Akhirnya, pada saat itulah, saya memutuskan "jalan terakhir" untuk memperoleh kesembuhan. Saya "ikhlas" dikerok. Untungnya, papa saya, yang mengerok tubuh saya, cukup "sensitif". Sapuan kerokannya terasa halus sehingga saya hanya merasa sedikit sakit di punggung.

Hasilnya? Punggung saya memperlihatkan warna "merah matang", tanda masukangin telah "bersemayam" cukup lama di tubuh saya. 

punggung berwarna merah matang setelah dikerok (sumber: dokumentasi pribadi)
punggung berwarna merah matang setelah dikerok (sumber: dokumentasi pribadi)
Kini, setelah menjalani pengobatan demikian, tubuh terasa entang.

Sejarah Kerokan

Sebagaimana diketahui, pengobatan lewat "teknik" kerokan sebetulnya telah berlangsung lama. Seni pengobatan tradisional itu awalnya sudah dikenal dan diterapkan di Negeri Tiongkok. Jadi, orang-orang Tionghoa dulunya ternyata suka dikerok juga di sana. Hahahahahahahahaha.

Hal itu diamini juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Solo (UNS), Prof. Dr. Didik Gunawan Tamtomo,dr, PAK, MM, M.Kes. sewaktu saya datang menghadiri pemaparannya dalam acara Nangkring Kompasiana bersama Balsem Lang, di Hotel Shantika Premiere, Palmerah, pada tanggal 25 Oktober lalu.

Menurut Prof. Didik, sesudah "melanglang" buana, seni pengobatan itu kemudian menjadi terkenal di Jawa dan terus "melegenda" dalam kehidupan masyarakat Indonesia hingga saat ini.

prof. didik menjelaskan sejarah dan khasiat kerokan (sumber: dokumentasi pribadi)
prof. didik menjelaskan sejarah dan khasiat kerokan (sumber: dokumentasi pribadi)
Lebih lanjut, berdasarkan hasil penelitian ilmiah Prof. Didik, kerokan memang paling "manjur" mengatasi masukangin. Mengapa bisa terjadi demikian? Semua itu terjadi karena pola kerokan sesuai dengan "titik-titik akupuntur" di punggung.

Berdasarkan hasil penelitian ilmiahnya, pola tersebut ternyata menciptakan efek relaksasi dan memperlancar aliran energi di tubuh. Makanya, setelah selesai dikerok, badan yang sebelumnya terasa berat seperti ditindih beban bisa lebih "ringan" seperti sediakala.

Namun demikian, Prof. Didik mewanti-wanti bahwa bagian depan tubuh "tidak boleh" dikerok. Pasalnya, di situ, terdapat pembuluh darah dan syaraf yang penting. Makanya, kalau dikerok, fungsi syaraf bisa terganggu.

Informasi itu jelas penting terutama bagi orang-orang yang "hobi" melakukan kerokan di dada dan leher. Makanya, mulai sekarang, "hobi" demikian sudah seharusnya ditinggalkan demi kesehatan dan keselamatan. Jangan sampai timbul penyakit baru manakala kita terbiasa mengerok tubuh bagian depan.

Selain itu, kita juga mesti mempertimbangkan pilihan balsem. Sewaktu dikerok, papa saya mengoleskan Balsem Lang tipis-tipis di punggung. Sebab, menurut papa saya, dengan sedikit olesan saja, panas yang ditimbulkan sudah cukup menghangatkan kulit.

Apalagi, ada aromaterapi yang tercium manakala papa saya mengoleskannya. Makanya, efek yang ditimbulkan terasa menentramkan dan menyegarkan hati, tidak seperti balsem lain yang aromanya "eksentrik" khas orangtua (baca: nenek-nenek). Hahahahahahahahaha.

balsem lang punya keunggulan lebih cepat hangat di kulit dan penuh aroma terapi (sumber: dokumentasi pribadi)
balsem lang punya keunggulan lebih cepat hangat di kulit dan penuh aroma terapi (sumber: dokumentasi pribadi)
Sewaktu menulis artikel itu, hangat yang ditimbulkan Balsam Lang masih terasa. Padahal, sudah sejam yang lalu saya dikerok. Kini, gejala mual yang saya alami sudah jauh berkurang. Tanda bahwa masukangin berangsur-angsur lenyap, dan tubuh pun kembali sehat.

Salam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun