Apa pasal? Ternyata, kawan saya dan istrinya tersebut telah lama menikah dan belum jua dikaruniai anak. Terdengar klise? Ya mungkin bagi sebagian orang. Tapi bagi mereka yang mengalami, permasalahan tersebut tentu sangat pelik. Dan yang memiliki permasalahan serupa bukan satu-dua jumlahnya.
Saya jadi mafhum dan mewajarkan kegelisahan kawan saya dan istrinya. Bagaimanapun memiliki anak merupakan keinginan hampir banyak pasangan suami-istri. Maka kegundahan itu memuncak ketika melihat konten-konten kebahagiaan orang lain yang tengah mengandung.
Menurut hemat saya, konten kebahagiaan yang dipertontonkan secara berlebihan akan senada dengan pamer. Kita semua tahu, pamer dalam bentuk apapun terasa sangat menyebalkan.
Jangan lupa, di balik kebahagiaan kita mungkin ada orang yang menderita. Hal itu juga juga berlaku bagi lainnya. Bukan hanya perihal kehamilan.
Mungkin saja saat kalian membagikan konten tentang makanan, ada orang yang sangat kelaparan yang dibuat menderita. Mungkin konten seputar pekerjaan akan mengganggu kawan-kawan kalian yang sulit mendapat kerja. Dan sebagainya.
Sekali lagi. Tidak ada larangan untuk berbagi kebahagiaan, tapi cobalah sedikit berempati dan menempatkan diri pada posisi orang lain. Bagikan kebahagiaan seperlunya saja, sebab tidak semua orang membutuhkan kebahagiaan kalian. Bahkan mungkin kebahagiaan kalian juga tidak penting bagi orang lain.
Mungkin sebagian dari kalian yang bermulut setajam taring macan akan dengan mudah berseloroh: kalau tidak mau lihat, tutup akun saja, atau sembunyikan saja konten yang dirasa mengganggu!
Ya, komentar sumbang seperti itu pasti akan terdengar dari para manusia yang telah mematikan kemanusiaannya dan lupa bagaimana cara menghidupkannya kembali. Sungguh tidak aneh.
Jakarta, 2019
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H