Milenial atau generasi muda selalu identik dengan pelopor munculnya segala inovasi akan teknologi yang dengan kecakapannya mampu mentransformasikan suatu zaman.Â
Kaum milenial juga menjadi generasi yang adaptif akan perkembangan akan modernitas zaman yang semakin pesat di tengah arus disrupsi.Â
Tentunya dalam hal ini kaum milenial menjadi sebuah agen yang memilki peran begitu krusial dalam penentuan nasib bangsa dan negara di tengah arus disrupsi tersebut.Â
Representasi politik kaum milenial sangat penting dalam penentuan sebuah kebijakan yang lebih terbaharukan dan mengakomodasi kepentingan mereka.Â
Tingginya tingkat partisipasi pemilih muda yang berkisar 60% pada pemilu 2024 dan proporsi jumlah penduduk yang lebih dominan menjadi sebuah keharusan lagi dalam menciptakan representasi yang ideal bagi milenial Indonesia di parlemen.Â
Bagaimana cara mewujudkan hal tersebut? Langkah yang harus dilakukan ialah menciptakan partisipasi politik yang tinggi bagi para kaum milenial. Dan dalam mewujudkan hal tersebut tentunya diperlukan kesadaran akan politik yang tinggi bagi milenial.Â
Berdasarkan Pasal 11 UU Nomor 2/2008 terdapat beberapa fungsi partai politik, salah satunya yaitu sebagai sarana pendidikan politik bagi seluruh masyarakat Indonesia agar menjadi WNI yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.Â
Tentunya dalam hal ini partai politik bisa lebih fokuskan untuk mengedukasi kaum milenial tentang kesadaran dalam berdemokrasi.Â
Data KPU menerangkan bahwa jumlah pemilih muda sebanyak 106.358.447 jiwa, tentunya ini bukan jumlah yang sedikit dalam penentu hasil pemilihan.Â
Hal ini perlu dijadikan tugas utama para pelaksana pemilu 2024 untuk memberikan kesadaran demokrasi yang baik dan benar kepada kaum milenial, karena bagaimanapun kaum milenial akan menjadi penentu nasib negara ini.
Adi Saputra (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Hukum UNAS)