Gilang,
Tadi pagi aku memerlukan ke ATM untuk mengambil uang. Aku pilih ATM yang ada di Indomart. Karena sekalian akan beli rokok juga.
Â
Di ATM ada seorang wanita muda yang sedang  melakukan transaksi. Aku menunggu untuk beberapa menit. Hampir 3 menitan aku menunggu. Dari gerakkan tangannya, sepertinya dia sedang melakukan transfer.
Â
Setelah selesai wanita muda itu keluar Indomart. Aku berjalan ke arah ATM itu. Berdiri tepat di depan mesin ATM, persis di posisi wanita muda tadi berdiri. Ketika sudah di depan ATM, terlihat di atas mesin: Sebuah HP warna hitam!Â
Tanpa pikir panjang lagi aku ambil HP itu. Kemudian lari keluar Indomaret...................................................................................mengejar wanita muda itu!
Untung saja dia belum jauh. Aku kembalikan HP itu pada pemiliknya. Setelah mengucapkan terima kasih, wanita muda itu masuk ke dalam mobil. Dan mobilnya melaju ke arah timur sampai hilang dari pandangan.
Â
Aku pun balik lagi ke ATM untuk mengambil uang yang tadi sempat tertunda gara-gara harus mengembalikan HP wanita muda itu.
Gilang,
Coba perhatikan kalimat: "Tanpa pikir panjang lagi aku ambil HP itu. Kemudian lari keluar Indomaret...................................................................................mengejar wanita muda itu!"
Â
Ya, tanpa pikir panjang -- atau tanpa berpikir -- aku langsung mengembalikan HP itu ke yang punya.Â
Proses pengambilan keputusan tanpa berpikir itu disebut: Intuisi. Jadi, secara intuitif aku melakukan hal itu. Yang hinggap di kepala ku ketika itu bukan pahala atau ganjaran atau apapun itu namanya. Aku hanya mengikuti intuisiku saja. Refleks begitu saja.
Â
Gilang,
Dalam hidup, nilai manusia ditentukan seberapa manfaat dia untuk sesama. Artinya, apapun yang engkau lakukan, baik itu: pikiran, ucapan, atau perbuatan harus bermuara pada manfaat untuk sesama.
Ini nilai yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Aku tanamkan hal ini padamu supaya ter-internalisasi dalam kehidupan sehari-harimu. Sehingga engkau pun akan memiliki intuisi yang sama. Intuisi yang fokusnya pada manfaat untuk sesama.
Â
Gilang,Â
Sebentar lagi usia mu menginjak 20 tahun. Di usia mu ini memang banyak tantangan yang harus dihadapi. Dalam psikologi, engkau sedang dalam A Quarter Life Crisis. Engkau sedang mencari pijakan dan pegangan. Kadang engkau tidak tahu harus berbuat apa setiap hari. Ini proses biasa dalam pencarian jati diri.Â
Engkau dalam masa-masa rentan. Di mana semua dan setiap masalah sepertinya tidak kunjung selesai. Masalah yang satu selesai, timbul masalah baru. Masalah yang satu selesai, timbul masalah baru. Begitu seterusnya. Selalu ada masalah. Baik itu masalah: di kampus (tugas-tugas di kampus yang bejibun), di rumah, ataupun masalah lainnya.
Â
Gilang,
Tidak ada masalah yang sulit. Semua kembali lagi bagaimana engkau menyikapinya. Engkau harus yakin setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Jika engkau yakin bisa, engkau pasti bisa.
Â
Aku sengaja membuka tulisan ini dengan cerita di atas, supaya engkau juga punya pijakan dan pegangan dalam berpikir, berucap, dan bertindak. Jadi, setiap pikiran, ucapan, dan tindakan mu harus bermuara pada seberapa besar manfaatnya bagi sesama.
Itu yang harus engkau jadikan pijakan dan pegangan. Sehingga ketika engkau berbuat baik untuk sesama, engkau tidak perlu melalui jalan terjal bernalar lagi. Karena secara intuisi, engkau akan melakukan hal yang benar. Pengertian benar adalah bagaimana tindakan mu bermanfaat bagi orang lain.
Â
Jika engkau bermanfaat bagi sesama, semesta pun akan membalasnya. Setiap masalah yang engkau hadapi, akan dimudahkan oleh semesta. Kenapa? Karena engkau memudahkan sesama. Ini yang disebut law of attraction. Hukum tarik menarik. Engkau memudahkan, maka engkau dimudahkan.
Â
Salam
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI