Mohon tunggu...
ADE SATRIANA
ADE SATRIANA Mohon Tunggu... Guru - Do the best and pray. God will take care of the rest

Tenaga pendidik SLBN 1 Tanjungpinang Propinsi Kepulauan Riau.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Sesalku Tak Bertepi (Part 12)

10 Desember 2020   10:51 Diperbarui: 10 Desember 2020   14:06 109
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

DUA BELAS

KONDISI KESEHATAN FIAN MEMBURUK

 

                "Ma....",  suara Fian membangunkan Reni dari tidurnya  yang lelap. " ada apa pa?"  Jawab Reni dan langsung  terbangun. "Badan papa kog tiba-tiba terasa lemas ma," kata suaminya. Reni ulurkan telapak tanganya ke dahi suaminya, Ya Allah, Fian suaminya mengalami deman tinggi, Reni segera bangun dan menuju dapur untuk ambil air hangat dan kain untuk mengompres dahi suaminya. Semalam penuh suaminya tidak bisa tidur dan demamnya tak kunjung turun, Reni tidak henti-hentinya mengopres dan memijat bagian tubuh suaminya. Beberapa kali  suaminya mengeluh terasa pegal di seluruh tubuhnya dan sesak nafasnya.

                Esok paginya  Reni bangun lebih awal, ia siapkan semua kebutuhan ke dua anaknya, dan Reni berpesan dengan asisten rumah tangganya Bi Ani namanya. "Bi.., mungkin saya pulang siang atau sore, karena mau ngantar  berobat ke rumah sakit" kata Reni pada Bi Ani. "Siapa yang sakit bu?" tanya Bi Ani. "Papa Glan sakit Bi,  semalam ia demam dan nafasnya sesak". Jawab Reni. "Baik bu," jawab bi Ani.  Selesai menyiapkan kebutuhan anak-anaknya Reni segera menuju kamar Gland dan Shan memberi tahukan kalau hari ini mama dan papanya ke rumah sakit untuk berobat. Reni  bersama suaminya  berangkat ke rumah sakit. Reni segera membantu  suaminya untuk menuju ke mobil. Glan, Shan membawakan tas dan beberapa obat yang biasa diminum papanya bila sakitnya kambuh dan meletakkan obat-obat itu ke dalam tas mama.

                Sampai di rumah sakit, antrian  di bagian pendaftar  beobat sudah lumayan panjang, Reni tinggalkan suaminya di kursi tunggu pasien, dan Reni langsung antri mendaftar. Tidak berapa lama nomor antriannya dipanggil segera Reni ke bagian pendaftaran dan mengambil berkas menuju poli umum. Reni bersama suaminya menunggu, dan akhirnya giliran suaminya yang di panggil ruang pemeriksaan dokter di poli umum.

                Setelah diperiksa, dokter merujuk suami Reni untuk kebagian rontgen, Reni bersama suaminya menuju ke bagian radiologi. Reni melihat kondisi suaminya yang melemah maka Reni gunakan kursi roda untuk mengantar suaminya ke ruangan rontgen. Syukur  belum ada antrian, Reni segera menuju ke bagian  pendaftarakan, tidak berapa lama suaminya dipanggil masuk ke ruang rontgen. Hasil dari rontgen baru ke luar siang sekitar pukul 13.30 wib, Reni putuskan  untuk tetap menunggu saja.

                Selesai rontgen sambil menunggu  hasil rontgen Reni dorong kursi roda suaminya ke arah kantin rumah sakit. Reni bertanya pada suaminya, " mau makan apa Pa?" Suaminya menjawab," nanti kalau makan tambah sakit ma,"  katanya. Tapi Reni pikir kalau tidak makan juga sakit. Reni bingung mau pilihkan makanan apa yang  mudah ditelan dan dicerna di lambung suaminya. Akhirnya Reni pesan bubur ayam dan air putih hangat. Reni menyuap suaminya dengan perlahan, sambil menahan sakit suaminya menghirup setiap sendok suapan Reni dan menelan setiap suapan dengan berlahan. Terbersit sedih yang dalam di hati Reni. Ada rasa takut menghantui  sisi hatinya, ia takut  kehilangan suaminya. Mengalir air mata  bening di sudut matanya, segera Reni menghapusnya, khawatir Fian akan melihat kesedihanya, Reni tidak ingin suaminya melihat ia bersedih.

                Setelah beberapa suap suaminya tidak mau melajutkan makanya, nafasnya kembali sesah segera Reni memberikan inhaler ke suaminya. Setelah nafasnya mulai stabil " Pa, mama ke mushola sholad Dhuhur dulu ya, papa mau sholad juga?"  tanya Reni pada suaminya. Suaminya menjawab dengan lemah, "ya". Ia kembali mendorong kursi roda menju mushola rumah sakit. Reni membantu suaminya untuk wudhu. Setelah itu suaminya kembali  duduk di kusi rodanya dan sholat dengan duduk di kursi rodanya. Reni menuju ke dalam mushola, ia sholad dhuhur dengan khusuk, setiap  takbir, rukuk sujudnya, ia jadikan permohonan. Air matanya berlahan mengalir disetiap doa yang ia lafazkan. Selesai doa tak tebendung lagi air mata Reni, Reni memohon" jangan uji aku ya Allah dengan sakit suamiku, angkatlah penyakitnya Ya Allah," dengan lirih Reni memohon  ke hadirat Allah SWT.

                Reni tidak berlama-lama dalam doanya, teringat suaminya menunggu di luar. Reni segera menuju ke arahnya, dan kembali mendorong kursi rodanya menuju ruang rontgen. Alhamdulillah pukul 13.00 wib, hasil rontgen sudah keluar, kembali Reni mendorong kursi roda suamnya menuju  poli umum, Reni harus antri kembali di poli itu.

                Sambil menunggu, Reni berdoa, panggilan dari  poli  umum menghentikan doa-doanya, Reni segera membawa masuk suaminya ke ruang dokter. Dokter membacakan hasil rongten, dari hasil rontgen diperoleh hasil, ada penyempitan di pembuluh jantung, maka  dokter  memeriksa krmbali . Akhirnya dokter menyarankan agar suaminya rawat inap. Reni tidak bisa menolak, melihat kondisi suaminya yang semakin lemah.

                Suaminya mulai rawat inap, nafasnya mulai sesak kembali, harus dibantu pernapasannya  dengan fentilator, badannya semakin lemah, sehingga harus diinfuse. Dua hari dalam observasi dokter,  kondisi suaminya semakin menurun, sudah tidak mampu lagi makan, atau  ke kamar mandi. Suaminya terbaring lemah di atas tempat tidur, Reni masih berharap dan yakin suaminya akan kembali sehat.

                Beberapa kali Gland an Shan menjenguk papanya di rumah sakit, terlihat mata kedua anaknya nya bersedih, Reni segera menghiburnya, " Glan , Shan , papa di sini istirahat sebentar aja, besok papa juga sudah sehat," kata Reni menghibur kedua anaknya, sesekali pandanganya tertuju ke arah suaminya. Suaminya tidak bereaksi apa-apa, pandanganya kosong nafasnya berat. Tapi ada senyum tipis terulas di bibirnya, sekedar untuk menghibur Reni dan anak-anaknya.

                Hari ini dokter memanggil Reni ke ruanganya, dokter mempersilahkan Reni duduk, kemudian dokter menjelaskan kondisi suaminya. Dokter menyampaikan tidakan yang harus dilakukan selanjutnya. Dokter menyarankan untuk memasang ring pada pembuluh jantung suaminya. Dokter  meminta  persetujuan dari Reni untuk mengisi surat pernyataan / persetujuan , Reni kembali lagi hanya mengiyakan saran dokter, karena Reni yakin dokter lebih tahu tindakan medis dari pada dirinya.

                Dari ruang dokter Reni kembali ke ruang rawat inap suaminya, di pandangi wajah suaminya yang tertidur. Reni menggenggam tangan suaminya dan berucap lirih, "pa. Cepat sehat ya, Mama dan anak-anak butuh papa." Kembali air mata Reni bergulir hingga sedu sedanya harus Reni tahan, khawatir suaminya akan mendengar tangisanya.

                Tanpa Reni sadari rupanya Fian suaminya telah membuka matanya dengan perlahan ditariknya tangan Reni diciumnya tangan Reni, tak tahan lagi Reni menahan air matanya, mengalir pelan, dengan lemah Fian menghapus air mata itu dan berkata" maafkan papa ya ma, apapun yang terjadi pada papa, mama harus kuat, jaga anak anak ya ma." butiran air mata bening kembali membasahi mata  Reni semakin deras mengalir, tak mampu lagi Reni membendungnya. Ribuan rasa kekawatiran dan rasa sedih menggumpal di relung hatinya yang paling dalam. Reni takut kehilangan suaminya. "Jangan berkata begitu papa, papa pasti kuat, papa pasti sehat dan kita akan jaga Gland, Shan bersama-sama," kata Reni diantara isak tangisnya.

                Pemasangan ring belum bisa dilakukan, menunggu hingga kondisi Fian stabil. Reni berusaha selalu menguatkan hati suaminya, dan selalu memberikan kata-kata harapan . " Papa pasti sembuh pa, kalau nanti papa sembuh saat libur sekolah anak-anak kita liburan  ke Bali ya pak, kita menginap seminggu di sana ya pa." Suaminya tidak menjawab apa-apa, pandanganya kosong, dari sudut matanya menitik air mata. Reni hapus air mata itu, dan kembali berkata, " Papa jangan menangis, papa harus kuat , papa harus lawan penyakit, papa sayang mamakan? Papa sanyang anak-anak Papa harus  sehat."  Kata Reni menguatkan semangat suaminya. Kembali suaminya diam dan memandang Reni, kemudian tangannya yang lemah mengusap muka Reni,  Reni pun membantu kedua telapak tangan suaminya agar mampu mengusap  wajahnya. Reni langsung bangkit dan mencium suaminya dengan segala rasa sayangnya. Kembali suaminya menitikkan air matanya, kembali Reni mengusap air mata suaminya.

                Selama di rumah sakit Fian suaminya selalu bangun sebelum subuh, tapi pagi ini, sudah pukul 05.30 wib suaminya belum bangun juga. Dengan berlahan Reni bisikan di telinga suaminya," bangun pa, sudah jam 05,30 wib, papa belum sholad subuh, ayo bangun pa." Reni goyangkan badan Fian dengan berlahan, tapi suaminya tidak bangun juga. Reni mulai kawatir dengan kondisi suaminya.Berkali kali Reni mencoba bangunkan tapi tak berhasil, segera Reni memanggi perawat jaga, langsung perawat memeriksa kondisi suaminya. kemudian perawat menghubungi dokter piket. Dokter menyaran Fian segera di bawa ke ruang IGD, Fian langsung dibawa keruang IGD,  Dokter berupaya membangunkan suaminya  dengan pemacu jantung. Reni menunggu di luar ruang IGD dengan uraian air mata dan doa.

                Alhamdulillah jantung suaminya kembali berdetak, tapi  dalam kondisi koma, kesedihan menyelimuti hati Reni. Reni tidak menemukan lagi tatapan mata suaminya, sentuhanya, air mata Reni kembali bergulir. Inilah mungkin air mata suami yang pernah menetes karena ulahnya di masa lalu. Reni segera mengambil air wudhu, Reni memohon ampun dan memohon  kekutan dari Allah untuk menghadapi semua ketentuan-Nya.

                Reni pandangi wajah suaminya , yang terlihat tidur begitu lelap. Nafasnya yang berat dengan bantuan pompa jantung, terdengar seakan suaminya tidur mendengkur. Reni bacakan ayat ayat Qu'ran di sisi pembaringan suaminya. Rasanya Reni ingin selalu di samping suaminya, tak mau sedetikpun Reni  meninggalkan sisi pembaringan suaminya. Reni masih terus berharap suaminya pasti akan sembuh. Walau dalam keadaan koma, Reni tetap memperdengarkan lafaz qur'an dan mengajak suaminya berbicara, Reni bisikan kata-kata manis dan ribuang harapan di telinga suaminya. Reni berharap suaminya akan segera membuka matanya, untuk memeluknya kembali, seperti dulu, saat Reni melakukan kesalah besar suaminya selalu mengulurkan tangannya untuk memberi maaf dan  kembali memeluknya.

BERSAMBUNG

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun