Mohon tunggu...
Adam Kurniadi Lukman
Adam Kurniadi Lukman Mohon Tunggu... lainnya -

Mencoba menyuarakan PENDAPAT dan OPINI melalui tulisan. An ordinary guy who like to see any phenomenon and always try to analyze through multi-perspective way.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Iseng-iseng di Hari Kesehatan Mental Sedunia 2014

10 Oktober 2014   14:47 Diperbarui: 17 Juni 2015   21:37 704
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

[caption id="attachment_328250" align="aligncenter" width="456" caption="Gambar dari website: http://www.mentalhealth.org.uk/our-work/world-mental-health-day/world-mental-health-day-2014/"][/caption]

Penting ga penting

"Oh, lo anak psikologi ya? Bisa baca gue dong?"

Bagi kalian yang berkecimpung di dalam dunia psikologi, baik sebagai seorang dengan profesi psikolog atau mahasiswa sekalipun, tanggapan di atas pasti tidak asing di telinga kalian. Sadar tidak sadar, hal tersebut jelas disebabkan oleh ketidakpahaman masyarakat atas ilmu yang kita pelajari dan dalami ini. Masih banyak masyarakat yang belum tahu, tapi sudah melakukan perilaku judgmental yang terkait dengan paradigma di masyarakat secara umum. Lebih jauh, pola perilaku seperti ini tentu kita temui pula di dalam konteks lain, yang salah satunya adalah mengenai kesehatan mental.

Tulisan ini saya buat khusus, untuk Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day) 2014, yang jatuh tepat pada hari ini, Jumat, 10 Oktober 2014, dengan tema "Shines a Light On Schizophrenia".

Kesehatan Mental di Indonesia

Dari semua pengertian tentang kesehatan, masyarakat masih banyak yang secara sadar tidak sadar lebih mengacu pada kesehatan fisik, dan cenderung sedikit menyampingkan masalah kesehatan mental. Tidak bisa disalahkan, sebab yang lebih dapat terlihat secara kasat mata dan lebih dapat diukur adalah kesehatan fisik. Akan tetapi hal tersebut tidak membuat kesehatan mental menjadi tidak penting. Dasarnya, kesehatan mental dibutuhkan setiap orang untuk merasa "sejahtera", untuk dapat menjalankan kehidupan sehari-hari dengan akal sehat, sehingga pada akhirnya membuat kita dapat menjalani hidup secara "normal".

Sangat disayangkan bahwa di Indonesia masih terjadi kesalahpahaman, yang dianggap menjadi "kebenaran semu", mengenai kesehatan mental. Contoh paling sederhana adalah masih banyaknya masyarakat yang menghindari untuk datang ke psikolog maupun psikiater, hanya karena stigma yang terdapat di masyarakat bahwa orang yang datang ke psikolog atau psikiater adalah orang gila. Buktinya adalah data yang didapatkan dari Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2013, yakni masih adanya 56000 orang yang dipasung oleh keluarganya, di Indonesia, yang disebabkan oleh kurangnya fasilitas dan informasi mengenai kesehatan mental. Bukti lain yang mendukung hal ini adalah informasi dari seorang teman yang sudah menjadi seorang dokter, bahwa di beberapa daerah Jakarta masih ada keluarga yang memasung anggota keluarganya yang skizofrenia, hanya karena mereka malu untuk datang ke bagian kejiwaan di puskesmas, terkait dengan stigma yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Fenomena Lain yang Masih Berkaitan Dengan Kesehatan Mental

Apabila di atas yang saya bahas adalah fenomena besar terkait dengan tema tahun ini, pada bagian ini saya ingin membahas hal yang menjadi salah satu keprihatinan saya, yang masih terkait dengan kesehatan mental secara umum: Kurikulum pendidikan Indonesia.

Mengapa kurikulum pendidikan? Seperti yang kita ketahui, kurikulum pendidikan di Indonesia saat ini semakin menuntut perjuangan dari para peserta didik melalui standar yang diberikan. Sayangnya, caranya salah. Satu fakta yang saya dapatkan dari seorang informan, yang sangat tidak masuk akal bagi saya, adalah kurikulum yang ditetapkan pada sekolah di daerah asalnya. Pada sekolah tersebut, seorang anak kelas satu SD dituntut untuk bisa calistung (membaca, menulis, dan menghitung), dengan tingkat kesulitan yang seharusnya didapatkan pada kelas yang lebih tinggi; yang lebih tidak masuk akal lagi, adalah anak kelas lima SD yang mendapatkan tugas untuk membuat penelitian semacam "skripsi". Satu hal yang fatal dari kurikulum seperti ini adalah hilangnya unsur bermain dari dalamnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun