Selayaknya bertetangga dengan sesama manusia, kita juga hidup berdampingan dengan tanah, air, udara, pohon, ayam, dan seterusnya. Juga dengan para makhluk yang tidak kasat mata kita pun menjalin hubungan bertetangga.
Tidak menebang pohon tua yang usianya ratusan tahun itu merupakan etika lingkungan yang dikomunikasikan secara sederhana sesuai logika budaya masyarakat setempat. Faktanya, akar pohon tua itu telah berjasa menjadi "penampung" mata air yang menghidupi warga masyarakat setempat selama berpuluh-puluh tahun.
Menebang pohon tua sama artinya merusak sumber mata air yang bisa mengakibatkan kekeringan di daerah itu.
Sedikit-sedikit Mitos
Demikian pula dengan "mitos" mengusir rasa sakit ringan. Zaman dahulu--manusia modern menyebutnya sebagai pengobatan tradisional--tidak dikenal obat kimia. Ramuannya disebut jamu. Ada jamu galian singset, jamu sakit kulit, jamu sakit kepala, dan lain sebagainya.
Bahan dasarnya adalah empon-empon. Semua bahan dasar itu tumbuh di tanah. Bahkan, makanan, minuman serta ramuan terbaik untuk menjaga kesehatan dan imunitas tubuh manusia adalah bahan-bahan yang tumbuh di atas atau di dalam tanah.
Dikutip dari Kompas.com, berangkat dari terus meluasnya wabah virus corona, seorang profesor asal Universitas Airlangga ( Unair) di Surabaya, Prof Dr drh Chairul Anwar Nidom mengklaim telah menemukan ramuan jahe yang dapat mencegah penularan virus corona atau Covid-19 dalam tubuh.
Terkait konsumsi, Nidom menyarankan agar masyarakat mengonsumsi pada pagi, siang, dan malam berupa campuran jahe, temulawak, dan sebagainya.
"Masyarakat sudah biasa membuat minuman dari empon-empon tersebut, (konsumsi) tiap hari lebih baik, karena kita tidak tahu kapan virus masuk ke dalam tubuh kita," kata dia.
Apakah ini mitos? Sebaiknya kita tidak latah mengatakan sedikit-sedikit mitos (mitos kok sedikit). Silakan diteliti dan dibuktikan. Apalagi kita kerap memandang sebelah mata ramuan tradisional warisan nenek moyang.
Alih-alih berterima kasih dan merawat tradisi ramuan nenek moyang, kita malah menempatkannya sekadar sebagai pengobatan alternatif di tengah hegemoni pengobatan mainstream modern. Potensi aneka ragam tanaman herbal di tanah Nusantara pun terbengkalai.