Memberontak dengan Cara Berpikir yang Adil
Deretan pertanyaan itu bisa sangat panjang. Namun “satu pemberontakan” yang perlu kita mulai adalah biarkan anak-anak menemukan dan menjadi diri mereka sendiri.
Adalah Robyn Silverman, seorang ahli perkembangan anak di New Jersey, setiap malam membacakan cerita pengantar tidur bagi anak-anaknya. Silverman menuliskan pesan khusus untuk Tallie (8 tahun) di buku berjudul Princess Smartypants karangan Babette Cole itu dan menyemangatinya untuk selalu bangkit.
“Tallie, gadis manisku—mereka mungkin menghalangi jalanmu—mereka mungkin menyuruhmu untuk duduk atau diam. Tapi ingatlah selalu untuk bangkit. Lantangkan suaramu dan tetap teguh!”
Anak-anak perlu dibiasakan berpikir secara adil—bukan hanya adil dalam perspektif hukum atau gender, tetapi adil menurut perspektif kemanusiaan. Adapun keadilan itu bisa diberangkatkan dari wilayah hukum, pendidikan, politik, ekonomi atau gender. Namun produk akhirnya adalah kemanusiaan yang adil dan beradab.
Jadi, biarkan anak-anak menemukan dan menjadi diri mereka sendiri maksudnya adalah biarkan mereka menemukan kontinuasi sejarah hidupnya, kontinuasi perjalanan bangsanya, kontinuasi cakrawala masa depannya, dengan berbekal keadilan berpikir terhadap sesama manusia. Hingga pada momentum tertentu anak-anak akan melakukan pemberontakan sesuai skala prioritas dan komitmen perjuangan ketika menyaksikan ketidakadilan di depan mata mereka.
Pendidikan yang (Belum) Adil dan Beradab
Persoalannya adalah pendidikan kita justru melakukan tindakan sebaliknya—anak-anak itu dididik agar menjadi generasi penurut, generasi sendhiko dawuh, generasi anut grubyuk terhadap berbagai kenyataan yang justru merampas harkat dan martabat kemanusiaan.
Ironisnya, sekolah menjadi salah satu ladang yang berisi praktek dehumanisasi terhadap siswa, dengan berbagai talbis yang digagah-gagahkan, dicitra-citrakan, dihias-hias seolah-olah memang demikian pendidikan yang ideal itu. Bukankah ini termasuk ketidakadilan yang menikam martabat kemanusiaan para siswa?
Ketidakadilan itu dapat dicermati dari terminologi kata per kata yang kerap dipakai oleh dunia pendidikan. Sebut saja misalnya penggunaan kata guru dan murid, yang mengalami evolusi menjadi guru dan siswa, guru dan peserta didik, tenaga pendidik dan peserta didik.
Silang sengkarut akar kata dan makna denotasi yang mempertemukan antara kata “guru” (bahasa sansekerta) dengan “murid” (bahasa arab) menunjukkan kesembrononan membangun paradigma pendidikan. Kata bukan sekadar kata—ia mengandung muatan denotasi, filosofi, sejarah, peradaban, proyeksi masa depan. Tidak heran apabila pendidikan kita selalu umek dan terus menerus mengalami kisruh karena tidak terjadi kontinuasi sejarah.