Manusia adalah makhluk yang kreatif. Hanya banyak yang tak menyadarinya. Puisi ada di setiap hal, dimana-mana. Tidak hanya tentang mengolah kata, tetapi mula-mula melatih sensitivitas kita. Ketika sensitivitas itu ada, puisi akan ada hadir di hati kita.
   Aku suka puisi sejak kecil. Aku mulai menulis dan mendeklamasikannya di setiap kesempatan. Mulai dari SMA, aku pun mulai mengenal para penyair yang fenomenal dengan tatanan kata berantai yang begitu menggugah hati. Salah satunya yang ku ketahui yaitu puisi-puisi karya Chairil Anwar.
   Sajak Chairil Anwar semakin dikenal masyarakat. Sajak-sajaknya yang dimuat dalam buku Aku karya Sjuman Djaya menjadi referensi pelengkap film lokal berjudul Ada Apa Dengan Cinta. Film tersebut cukup mengangkat karya sastra di Indonesia karena pemeran utamanya dikisahkan bernama Rangga termasuk pencinta sastra.
   Kini, buku Aku yang ditulis berdasarkan perjalanan hidup dan karya Chairil Anwar akan segera diproduksi kembali menjadi film layar lebar yang juga digarap oleh Miles Production (Mira Lesmana dan Riri Riza). Sambil menunggu film tersebut direlease, mari kita baca kembali puisi-puisi karya Chairil Anwar tepat di Hari Puisi Nasional tanggal 28 April sekaligus diperingati sebagai tanggal wafatnya penyair legendaris Indonesia ini.
Sia-sia
 Penghabisan kali itu kau datang
 membawaku karangan kembang
 Mawar merah dan melati putih:
 darah dan suci
 Kau tebarkan depanku
 serta pandang yang memastikan: Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
HAMPA
Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Â
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
Di Mesjid
Kuseru saja Dia
Sehingga datang juga
Kami pun bermuka-muka.
Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada.
Segala daya memadamkanya
Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda
Ini ruang
Gelanggang kami berperang.
Binasa-membinasa
Satu menista lain gila
Derai-derai Cemara
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
DOA
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cahyaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Tuhan yang sungguh diingat penuh seluruh dalam puisi Chairil Anwar adalah Tuhan yang terlebih dahulu menghendaki seseorang untuk mengingat-Nya, Apakah Tuhan baru dikenal ketika manusia dililit persoalan dan didera kesulitan hidup? (Michael M. Soge)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI