Selama menjadi tour guide ke Baduy baik Baduy Dalam maupun Baduy lebih dari 10 tahun ke belakang, setidaknya ada dua jenis trip yang Penulis ketahui yang dapat mengantarkan wisatawan ke Baduy. Trip pertama biasanya dilakukan orang pribadi dengan memanfaatkan tour guide lokal di Ciboleger atau riset tanpa tour guide lokal namun langsung datang ke rumah warga Baduy.
Trip kedua, trip yang diorganisasikan oleh tour operator dan/atau agen travel, Baduy Corner salah satunya. Dari trip yang diorganisir tour operator ini biasanya terdiri dari dua jenis trip, yaitu trip gabungan yang biasa dikenal dengan open trip dan trip sesuai permintaan atau private trip.
Wisata Baduy tidak seperti objek wisata lainnya. Kita tak punya banyak pilihan, terutama penginapan dan makanan. Bagi yang pernah ke Baduy dan menginap di Baduy barangkali akan tahu keadaannya. Biasanya trip Baduy dilakukan dengan rentang waktu 2 hari 1 malam. Wisatawan mau tak mau akan menginap di rumah suku Baduy. Karena memang tak ada pilihan selain itu.
Dalam satu rumah warga Baduy, biasanya akan diisi minimal 3 orang wisatawan peserta trip dan maksimal 10 orang wisatawan yang menginap. Pada beberapa kasus, Penulis seringkali melihat satu rumah warga Baduy diinapi oleh 15 orang wisatawan bahkan lebih.
Ini biasanya trip gabungan demi menghemat pengeluaran. Jumlah itu belum termasuk dengan anggota keluarga rumah yang ditempati. Beberapa rumah di Baduy Dalam terdiri dari 2 keluarga, dengan 2-3 anak dalam satu rumah. Jika trip gabungan, artinya kita akan berbagi tempat tidur dengan 5-15 orang yang mungkin baru kita kenal di dalam satu rumah warga Baduy Dalam.
Dari pengalaman dan fakta tersebut kita bisa membayangkan interaksi banyak orang dalam satu ruangan sehari semalam di sebuah komunitas masyarakat adat yang eksistensinya sangatlah penting bagi keanekaragaman budaya dan keseimbangan alam.
Dalam keadaan pandemi seperti saat ini, Penulis rasa keadaan seperti itu adalah hal yang amat tidak tepat dan tidak baik. Tidak baik bagi kesehatan wisatawan sendiri, terlebih bagi kesehatan warga adat Baduy.
Terlarang Menggunakan Sabun
Itu dari segi penginapan, belum melihat hal lain seperti dapur dan alat makan yang digunakan bersama-sama berkali-kali. Dan harus kita akui di Baduy mencuci alat makan tidak seperti kita mencuci di dapur kita: dengan sabun pencuci piring, dengan spons dan dicuci hingga keset.
Untuk diketahui, di Baduy Dalam tidak diperkenankan menggunakan sabun dan bahan kimia lain di sungai sebagai sumber air utama. Maka dengan fasilitas MCK di sungai dan larangan penggunaan sabun sebagai bentuk kepatuhan adat tersebut, sangat sulit untuk wisatawan menjalankan protokol kesehatan.
Mungkin perlu diingat pula. Kebiasaan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun bahkan menggunakan hand sanitizer adalah hal yang asing bahkan mungkin terlarang bagi orang Baduy.
Pemerintah, dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Pemkab Kabupaten Lebak perlu mengambil langkah-langkah antisipatif. Melihat beberapa tour operator sudah mulai akan membuka trip ke Baduy. Karena jika ada satu saja orang Baduy terkena Covid-19, konsekuensinya akan sangat fatal. Bisa saja semua warga Baduy tertular Covid-19 yang terbawa oleh pengunjung/wisatawan, terutama yang berstatus OTG.