Mohon tunggu...
Pendidikan

Islam dan Alam Semesta

24 Desember 2018   23:42 Diperbarui: 25 Desember 2018   00:05 5023
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Alam semesta adalah fana. Pengertian dari alam semesta adalah ruang dimana di dalamnya terdapat kehidupan biotik maupun abiotik serta segala macam peristiwa alam yang dapat diungkapkan maupun yang belum dapat diungkapkan oleh manusia. Ada penciptaan, proses dari ketidakadaan menjadi ada, dan akhirnya hancur. Di antaranya ada penciptaan manusia dan makhluk hidup lainnya. Di sana berlangsung pula ribuan, bahkan jutaan proses fisika, kimia, biologi dan proses-proses lain yang tak diketahui. Sebenarnya seluruh kejadian di alam semesta ini, sudah terjadi dan kejadiannya mengikuti segala rencana dan konsep yang sudah tertera di dalam Al Qur'an. 

A. Keterkaitan Islam dan Alam Semesta

Al Quran menyimpan banyak teori yang sangat besar peluang kebenarannya bahwa sebenarnya seluruh kejadian di alam semesta ini dengan konsep yang sudah tertera di dalam Al-Quran. Tentang apa hakikat alam semestamenurut Al-Quran, dalam beberapa tempatpada surat-surat Al-Quran disingung tentang apa itu alam semesta. Suatu kali Al-Quran menjelaskan bahwa, alam semestaadalah langit dan bumi.

Jagad raya ini adalah sebuah massa atau susunan unsur-unsur itu berada dalam perbentangan. Sehingga alam semesta dalam persfektif Al-Quran dapat dipahami sebagai perbentangan unsur-unsur yang saling mempunyai keterkaitan.Sedang jagad raya dimana alam semesta yang terbentang ini mempunyai atau mencakup pula hukum-hukum atau sebab-sebab alamiahnya. Jadi pada hakikatnya, alam semesta haruslah dipahami sebagai wujud dari keberadaan Allah SWT, sebab alam semesta dan seluruh isinya serta hukum-hukumnya tidak ada tanpa keberadaan Allah Yang Maha Esa. Segala sesuatu termasuk langit dan bumi merupakan ciptaan Allah Yang Maha Kuasa (Ibrahim,14:11). Allah adalah pemilik mutlak dari alam semesta dan penguasaalam semesta serta pemeliharanya Yang Maha Pengasih (Al-Baqarah, 1: 1-3) sebagai ciptaannya,alam semesta ini menyerah kepada kehendak Allah (Ali Imran, 3: 83) dan memuji Allah(Al-Hadid, 57: 1), (Al-Hasyr, 59:1), (As-Saff, 61:1), lihat pula ayat (Al-Isra, 17:44), (An-Nur24: 41). Antara alam semesta (makhluk) dan Allah mempunyai keterikatan erat, dan bahkan meskipun mempunyai hukumnya sendiri, ciptaanamat bergantung pada pencipta yang tak terhingga dan mutlak

B. Penciptaan Alam Semesta

Jika kita mencari proses penciptaan alam semesta di dalam AL-Quran terdapat salah satu ayat yang menjelaskan prosesnya seperti di surah (As-Sajdah, 32:4 yang artinya "Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam waktu enam hari, kemudian dia bersemayam di atas Arsy.Kamu semua tidak memiliki seorang penolong dan pemberi syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah kamu tidak memperhatikannya ?" . Dari salah satu ayat tersebut Allah SWT menyebutkan penciptaan langit dan bumi dalam enam masa (sittati ayyaamin) selanjutnya para mufasir bersepakat dalam menafsirkan ayat ini, bahwa yang disebut dengan  (sittati ayyaamin) adalah enam tahapan atau proses bukan enam hari sebagaimana mengartikan kata Ayyamin. Selain itu juga terdapat ayat yang mendukung proses penciptaan berlangsung selama 6 masa ataupun tahapan di  dalam surah (An Naaziat,79: 27-33) yang menerangkan proses penciptaan alam semesta terbagi menjadi enam masa yaitu

  • Masa pertama di dalam ayat 27 membahas mengenai penciptaan bumi. Pada masa pertama ini dijelaskan mengenai penciptaaan langit yang dikenal hingga sekarang  dengan istilah "Teori Big Bang". Awan debu (dukhan) yang terbentuk dari ledakan tersebut, terdiri dari hidrogen. Hidrogen adalah unsur pertama yang terbentuk ketika dukhan berkondensasi sambil berputar dan memadat. Ketika temperatur dukhan mencapai 20 juta derajat celcius, terbentuklah helium dari reaksi inti sebagian atom hidrogen. Sebagian hidrogen yang lain berubah menjadi energi berupa pancaran sinar infra-red. Perubahan wujud hidrogen ini mengikuti persamaan E=mc2, besarnya energi yang dipancarkan sebanding dengan massa atom hidrogen yang berubah. Selanjutnya, angin bintang menyembur dari kedua kutub dukhan, menyebar dan menghilangkan debu yang mengelilinginya. Sehingga, dukhan yang tersisa berupa piringan, yang kemudian membentuk galaksi. Bintang-bintang dan gas terbentuk dan mengisi bagian dalam galaksi, menghasilkan struktur filamen (lembaran) dan void (rongga). Jadi, alam semesta yang kita kenal sekarang bagaikan kapas, terdapat bagian yang kosong dan bagian yang terisi
  • Masa kedua didalam ayat 28 membahas mengenai penciptaan bumi, karena didalam ayat ini berisi bahwa "Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya"Kata "meninggikan bangunan" dianalogikan dengan alam semesta yang mengembang, sehingga galaksi-galaksi saling menjauh dan langit terlihat makin tinggi. Ibaratnya sebuah roti kismis yang semakin mengembang, dimana kismis tersebut dianggap sebagai galaksi. Jika roti tersebut mengembang maka kismis tersebut pun akan semakin menjauh. Mengembangnya alam semesta sebenarnya adalah kelanjutan big bang. Jadi, pada dasarnya big bang bukanlah ledakan dalam ruang, melainkan proses pengembangan alam semesta. Dengan menggunakan perhitungan efek doppler sederhana, dapat diperkirakan berapa lama alam ini telah mengembang, yaitu sekitar 13.7 miliar tahun. Sedangkan kata "menyempurnakan", menunjukkan bahwa alam ini tidak serta merta terbentuk, melainkan dalam proses yang terus berlangsung. Misalnya kelahiran dan kematian bintang yang terus terjadi. Alam semesta ini dapat terus mengembang, atau kemungkinan lainnya akan mengerut.
  • Masa ketiga didalam ayat 29 membahas mengenai kejadian yang dapat kita saksikan dengan seksama, karena diayat ini berisi bahwa "Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang". Ayat tersebut dapat ditafsirkan sebagai penciptaan matahari sebagai sumber cahaya dan Bumi yang berotasi, sehingga terjadi siang dan malam. Pembentukan tata surya diperkirakan seperti pembentukan bintang yang relatif kecil, kira-kira sebesar orbit Neptunus. Prosesnya sama seperti pembentukan galaksi seperti di atas, hanya ukurannya lebih kecil. Seperti halnya matahari, sumber panas dan semua unsur yang ada di Bumi berasal dari reaksi nuklir dalam inti besinya. Lain halnya dengan Bulan. Bulan tidak mempunyai inti besi. Unsur kimianya pun mirip dengan kerak bumi. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, disimpulkan bahwa Bulan adalah bagian Bumi yang terlontar ketika Bumi masih lunak. Lontaran ini terjadi karena Bumi bertumbukan dengan suatu benda angkasa yang berukuran sangat besar (sekitar 1/3 ukuran Bumi). Jadi, unsur-unsur di Bulan berasal dari Bumi, bukan akibat reaksi nuklir pada Bulan itu sendiri.
  • Masa keempat didalam ayat 30 membahas mengenai bumi yang kita tinggali ini sudah mulai terbentuk, karena di ayat ini berisi bahwa "Dan bumi sesudah itu dihamparkanNya". Pada masa ini Bumi yang terbentuk dari debu-debu antar bintang yang dingin mulai menghangat dengan pemanasan sinar matahari dan pemanasan dari dalam (endogenik) dari peluruhan unsure-unsur radioaktif di bawah kulit bumi. Akibat pemanasan endogenik itu materi di bawahkulit bumi menjadi lebu,antara lain muncul sebagai lava dari gunung api. Batuan basalt yang menjadi  dasar lautan dan granit yang menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi leburan tersebut. Pemadatan kulit bumiyang menjadi dasar lautan dan daratan itulah yang tampaknya dimaksudkan "penghamparan bumi"
  • Masa kelima didalam ayat 31 membahas mengenai penciptaan air yang melimpah di bumi, karena pada masa 1 hingga 4 bumi dibentuk belum disertai dengan adanya air sehingga muncul beberapa tumbuhan yang baru pada masa ini. Jadi, darimana datangnya air? Air diperkirakan berasal dari komet yang menumbuk Bumi ketika atmosfer Bumi masih sangat tipis. Unsur hidrogen yang dibawa komet kemudian bereaksi dengan unsur-unsur di Bumi dan membentuk uap air. Uap air ini kemudian turun sebagai hujan yang pertama. Bukti bahwa air berasal dari komet, adalah rasio Deuterium dan Hidrogen pada air laut, yang sama dengan rasio pada komet. Deuterium adalah unsur Hidrogen yang massanya lebih berat daripada Hidrogen pada umumnya.
  • Masa keenam didalam ayat 32 membahas mengenai penciptaan gunung yang setelah sebelumnya diciptakan oleh Allah SWT yaitu berupa daratan, air, tumbuhan. 
  • Dan di ayat 33 membahas mengenai penciptaan hewan, manusia yang setelah sebelumnya Allah SWT menciptakan daratan, air, tumbuhan, pegunungan, dan lain sebagainya

C. Pelestarian Alam Semesta

Ada beberapa hal yang harus diketahui dalam melestarikan Alam Semesta yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada manusia. Di dalam hal melestarikan Alam Semesta beserta isinya ini tidak hanya dilakukan secara lahiriyah saja melainkan juga dari kesadaran manusianya itu sendiri yang tidak lepas dari keimanan. Kita juga sebagai umat manusia yang bertugas untuk melestarikan Alam Semesta juga harus mempunyai prinsip dalam melestarikannya, yaitu:

  • Sikap Hormat terhadap Alam (Respect For Nature)

Di dalam Al Qur'an surat Al-Anbiya 107, Allah SWT berfirman:

Artinya : "Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam".

Rahmatan lil alamin bukanlah sekedar motto Islam, tapi merupakan tujuan dari Islam itu sendiri. Sesuai dengan tujuan tersebut, maka sudah sewajarnya apabila Islam menjadi pelopor bagi pengelolaan alam dan lingkungan sebagai manifestasi dari rasa kasih bagi alam semesta tersebut. Selain melarang membuat kerusakan di muka bumi, Islam juga mempunyai kewajiban untuk menjaga lingkungan dan menghormati alam semesta yang mencakup jagat raya yang didalamya termasuk manusia, tumbuhan, hewan, makhluk hidup lainnya, serta makhluk tidak hidup.

  • Prinsip Tanggung Jawab (Moral Responsibility For Nature)

Terkait dengan prinsip hormat terhadap alam di atas adalah tanggung jawab moral terhadap alam, karena manusia diciptakan sebagai khalifah (penanggung jawab) di muka bumi dan secara ontologis manusia adalah bagian integral dari alam. Sesuai dengan firman Allah dalam surah al Baqarah : 30

Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.

Kenyataan ini saja melahirkan sebuah prinsip moral bahwa manusia mempunyai tanggung jawab baik terhadap alam semesta seluruhnya dan integritasnya, maupun terhadap keberadaan dan kelestariannya Setiap bagian dan benda di alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan dengan tujuannya masing-masing, terlepas dari apakah tujuan itu untuk kepentingan manusia atau tidak. Oleh karena itu, manusia sebagai bagian dari alam semesta, bertanggung jawab pula untuk menjaganya.

  • Solidaritas Kosmis (Cosmic Solidarity)

Terkait dengan kedua prinsip moral tersebut adalah prinsip solidaritas. Sama halnya dengan kedua prinsip itu, prinsip solidaritas muncul dari kenyataan bahwa manusia adalah bagian integral dari alam semesta. Lebih dari itu, dalam perspektif ekofeminisme, manusia mempunyai kedudukan sederajat dan setara dengan alam dan semua makhluk lain di alam ini. Kenyataan ini membangkitkan dalam diri manusia perasaan solider, perasaan sepenanggungan dengan alam dan dengan sesama makhluk hidup lain.

  • Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian terhadap Alam (Caring For Nature)

Sebagai sesama anggota komunitas ekologis yang setara, manusia digugah untuk mencintai, menyayangi, dan melestarikan alam semesta dan seluruh isinya, tanpa diskriminasi dan tanpa dominasi. Kasih sayang dan kepedulian ini juga muncul dari kenyataan bahwa sebagai sesama anggota komunitas ekologis, semua makhluk hidup mempunyai hak untuk dilindungi, dipelihara, tidak disakiti, dan dirawat. Sebagaimana dimuat dalam sebuah Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Shakhihain:

Dari Anas radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak seorang pun muslim yang menanam tumbuhan atau bercocok tanam, kemudian buahnya dimakan oleh burung atau manusia atau binatang ternak, kecuali yang dimakan itu akan bernilai sedekah untuknya."

Mengetahui bahwa suatu proses ekologi dapat menjadi terganggu jika dimasukkan kedalamnya sesuatu benda yang asing atau memasukkan sesuatu yang tepat namun dalam jumlah besar atau secara berlebihan. Mengingat karena semua kerusakan atau pencemaran lingkungan di dunia ini di sebabkan karena tangan ulah tangan manusia, maka dalam hal pelestarian ini haruslah diingat hal-hal yang berhubungan dengan kerusakan lingkungan hidup, diantaranya adalah :

1. Penebangan pohon di hutan hutan secara liar tanpa menanam kembali pohon yang telah ditebangnya yang berdampak kepada terjadinya banjir, erosi, tanah longsor dan sebagainya

2. Membuang sampah sembarangan, limbah industri yang mengakibatkan pencemaran air, sumber penyakit dan dan dapat memusnahkan habitat hewani dan sebagainya

3. Polusi udara menyebabkan menyebarnya penyakit bagi makhluk hidup

Adapun untuk melestarikan lingkungan hidup yang telah diberikan oleh Allah SWT adalah dari kesadaran manusia itu sendiri. Hal-hal yang harus diketahui dalam melestarikan lingkungan hidup seperti air, udara, tanah diantaranya adalah :

Air:

  • Melakukan penyuluhan mengenai penghematan air yang dilakukan sedini mungkin
  • Melakukan penanaman pohon kembali atau reboisasi di setiap hutan yang dikategorikan gundul, karena dari akar pohon dapat menyimpan air
  • Tidak membuang sampah secara sembarangan maupun tidak membuang limbah pabrik ke aliran sungai, dikarenakan akan membuat tercemar aliran air tersebut sehingga tidak dapat digunakan bahkan akan bedampak terjadinya banjir

Tanah:

  • Menggunakan pupuk kimia secara bijaksana
  • Memberikan penyuluhan mengenai tidak membuang sampah sembarangan dan mendaur ulang sampah
  • Melakukan reboisasi atau penanaman kembali
  • Menerapkan Wanatani

Udara:

  • Melakukan penanaman kembali atau Reboisasi
  • Mengurangi penggunanaan kendaraan pribadi dan beralih kepada transportasi umum yang dapat meminimalkan pembuangan asap kendaraan
  • Mengurangi penggunaan Freon, semisalnya dari ac dirumah-rumah penduduk
  • Tidak membakar sampah secara berlebihan

***

Abil Fada Ismail. H

Jakarta, Senin 24 Desember 2018

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun