"Jring.. jring.. jring.. jring..." mbak bermotor melambat dan berhenti di depan halaman si Ana.
"Hai mba Ana, lama ga lihat di depan rumah. Eh, pohon mangganya mulai berbuah ya? Bermanfaat, ya mba.. Ijin nitip ini..." si mbak membawa dua kresek sampah, ditaruhnya juga ke halaman si Ana.
"Hai mba, kamu yang lama ga keliatan. Makasih mampirnya... Â Â Silakan titipannya..... " si Ana melambai ke arah si mbak yang meneruskan jalan.
"Jess... jess... jesss... " seorang ibu melambatkan motornya dan berhenti di depan si Ana. Tak ketinggalan dia juga mencangking sebuntel kresek sampah.
"Mba Ana, tiap pagi rajin merawat bunganya, benar-benar inspiratif ... " kata si ibu.
"Iya bu. Saya berusaha menanam bunga tiap hari. One day one flower... " sahut Ana.
"Wah kalo aku belum bisa seperti itu. Salut deh.. aku nitip ini yaa.... " si ibu menaruh kreseknya sebelum pergi.
"Brum.. brum.. bruuuummm.... " seorang mas-mas setengah tua berhenti di depan si Ana.
"Mba Ana, itu hamparan kerikil tamannya warna warni seperti batu akik. Sungguh menarik .... "
"Iya mas, ini kerikil pecahan batu Pacitan. Ehh, tumben ga boncengin siAnu mas.... " tanya si Ana.
"Walau tidak boncengan dengannya, yang penting hatinya..... "