Mohon tunggu...
Abest
Abest Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Segala puji dan syukur untuk segalanya hari ini

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Opo Tumon? KMP Pro-Jokowi, KIH Oposisi

30 Januari 2015   02:15 Diperbarui: 17 Juni 2015   12:07 409
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Wolak waliking jaman, berubah-ubahnya suasana jaman, seperti bandul kadang ke kiri lalu ke kanan. Siapa yang bisa memastikan? Apalagi dalam politik. Seperti yang sedang terjadi di Indonesia saat ini.

Dulu Jokowi diboyong dari Solo oleh Prabowo dan rekan-rekan, ke Jakarta. Didukung, dijunjung, digadang-gadang, dimenangkan dalam Pilgub DKI.

Berganti masa memasuki Pilpres, PDIP yang terfetakompli tiada pilihan lain harus mencalonkan Jokowi, dihadang oleh Prabowo dan rekan-rekan. Koalisi KIH mengusung Jokowi, Koalisi KMP mendukung Prabowo. Pertandingan yang awalnya seperti akan menjadi kemenangan mudah bagi Jokowi, seiring waktu menjadi perang dahsyat layaknya Pandawa melawan Pandawa, atau Kurawa melawan Kurawa.

Indonesia seolah terbelah dalam dua warna, merah dan putih, seperti benderanya. Kekuatan yang semakin berimbang dan ganasnya sorak para panglima perang membuat rakyat miris, apakah hanya karena Pilpres Indonesia terbelah hingga darah tertumpah?

Gigihnya Prabowo melawan Jokowi, bertarung dengan semangat prajurit pantang menyerah berani mati. Sepak terjang Prabowo dan rekan-rekan telah merontokkan nyali para pendukung Jokowi. Hal-hal paling buruk yang mungkin terjadi, telah terbayang dalam pikiran, ucapan dan tulisan pendukung Jokowi.

Pantang meyerah tak kenal kalah, Prabowo dan rekan-rekan menolak quick count Pilpres, menyanggah penetapan KPU, menantang ke MK. Kalah di Pilpres, parlemen total dikuasai. Selalu siap menjegal pemerintah, mengancam jatuhkan Jokowi.

Jokowi mulai memimpin, apa terjadi? Susunan kabinet penuh dengan orang parpol pendukung, padahal Jokowi berprinsip tidak akan bagi-bagi kursi. Bagaimanapun, pendukung Jokowi memahami, walau Jokowi tidak pernah di muka berjanji membagi kursi, sebagai orang Jawa, tak akan lupa teman dan pendukung, ora bakal lali.

Kini baru seratus hari, semakin benderang koalisi KIH merecoki Jokowi, dengan memaksakan pencalonan Jenderal polisi terindikasi rekening gendut sebagai Kapolri. KPK menetapkan calon Kapolri jadi tersangka, PDIP menyerang ketua KPK, Polri menangkap wakil ketua KPK, wakil ketua KPK lain mengantri tersangka juga. Disusul politisi parpol dalam KIH menyerang Jokowi, hingga terbersit dalam benak relawan Jokowi, apakah KIH kini balik memusuhi?

Semakin aneh hari ini, Prabowo mendukung Jokowi kembali. Prabowo akan menjaga, menggalang kekuatan untuk melindungi pemerintahan Jokowi. Jiwa prajurit satria selalu siap membela keutuhan negara, menegaskan tak akan menurunkan presiden Jokowi di tengah jalan. Jika PDIP dan KIHnya merecoki, Prabowo siap melindungi lima tahun memasang badan.

Hwarakadah !!!! Wolak waliking logika yang tidak logis. Kemaren pendukung Jokowi senantiasa khawatir dengan keamanan kursi kepresidenan Jokowi yang hanya didukung KIH yang kecil di parlemen. Sementara KMP yang secara aneh nampak mulai berantakan, di parlemen masih tetap menguasai mayoritas kursi, terasa sebagai ancaman permanen bagi kursi presidensial yang tersandera parlemen.

Kini KIH yang di awal mendukung Jokowi justru merecoki sang presiden yang tertegun-tegun antara hormat patuh kepada para sesepuh, atau kerja cepat untuk rakyat. Suara-suara politisi KIH mulai padu menusuk menyerang Jokowi. Dan Prabowo sebagai patron KMP justru kini mendekat kepada presiden Jokowi, menyatakan dukungan untuk mengawal, dan menghardik KIH agar tidak mengganggu presiden Jokowi bekerja untuk rakyat.

KMP menjadi partai pemerintah, KIH menjadi oposisi? Apa kata dunia akhirat? Sia-sia para pendukung Jokowi hidup dalam cemas selama ini, menguras energi fisik dan mental, memikirkan ancaman KMP kepada Jokowi. Bergunakah segala serangan caci dan cemooh lawan-lawan Jokowi selama ini. Betapa dunia sosmed dan media Indonesia telah menjadi lautan caci dan sumpah serapah para pendukung Jokowi dan Prabowo.

Seharusnya gunakan semua energi untuk bekerja demi kemajuan bersama. Seharusnya padukan dan fokuskan teriakan caci cemooh dan sumpah serapah kepada para koruptor dan penjahat perongrong negara, pengkhianat rakyat.

Makanya yang menjadi rakyat Indonesia dan merasa sudah capek dengan sengsara, tidak perlu lagi beradu kaki mendukung Prabowo atau Jokowi. Dukung yang mendukung kepentingan rakyat, siapapun, di manapun, di partai apapun. Lawan yang melawan kehendak rakyat, siapapun, di manapun, di partai apapun.

Rakyat yang mana? Gak jelas? Rakyat itu yang masih pada duduk di tanah, bukan yang pada duduk di kursi. Dan rakyat itu tidak gendut.

Sebagai relawan Jokowi percaya Jokowi akan memanajeri Indonesia secara profesional, meninggalkan pola birokratis priyayi bawaan feodal warisan penjajah. Yakin Jokowi akan memimpin Indonesia dua periode.

Sebagai pencinta Gus Dur telah mendengar Gus Dur menyatakan Prabowo akan memimpin Indonesia di usia senja. Semoga Prabowo mengawal Jokowi yang sedang memprofesionalkan birokrasi negara, menjadi harum namanya, panjang usianya, lalu meneruskan kepemimpinan Jokowi di usia senjanya.

Alangkah indahnya Indonesia, seperti nyanyian para pendahulu bangsa....

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun