Mohon tunggu...
Abdul Wahid
Abdul Wahid Mohon Tunggu... Dosen - Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang

Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang dan Penulis sejumlah buku

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Menabur Angin Menuai Badai

17 Agustus 2021   08:25 Diperbarui: 17 Agustus 2021   08:33 187
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Oleh: Abdul Wahid

Pengajar Universitas Islam Malng dan Penulis Buku

Benarkah kita paham dengan kemauan Tuhan? Apa memang di setiap musibah yang datang seperti Covid=19  mengunjungi kita ini, Tuhan menjadi arsiteknya? Kita bisa menangkap good will cukup dengan meng-iqra'  "ayat-ayat-Nya".

Dalam ajaran agama, setiap jenis perbuatan yang dilakukan manusia pastilah ada "cost", resiko, atau akibat yang harus ditanggung dan dipertanggungjawabkannya. Tuntutan ini logis supaya setiap kemauan bebas (free will) manusia tetap dalam koridor sebagai obsesi yang terkontrol, mengikuti aturan yang berlaku, dan tidak salah dalam menunjuk kiblat yang diikutinya.

Seringkali kemauan bebas manusia itulah yang menjadi pangkal persoalan kehidupan di muka bumi ini (fil-arld) manakala kebebasan itu dibiarkan mengembara tak kenal "titik nadir" kepuasan. Berbagai ragam bentuk kekacauan, kerusakan, dan kehancuran potensi-potensi alam merupakan akibat konkrit dari perbuatan manusia yang digerakkan oleh prinsip kemauan bebas dan keserakahan yang disuperioritaskannya.

Dalam ayat 7-8 QS A-Zilzalah (kegoncangan) diingatkan "barangsiapa yang melakukan kebaikan seberat dzarrah, maka ia akan mendapatkan kebaikan seberat itu pula, dan barangsiapa melakukan kejelekan seberat dzarrah, maka ia pun akan mendapatkan kejelekan seberat dzarrah".

Ayat tersebut menggariskan tentang prinsip hukum  "sebab-akibat", ada akibat pastilah ada sesuatu yang menyebabkannya, ibarat "menabur angin, menuai badai", setiap perbuatan apapun yang dilakukan manusia pastilah menuai akibatnya, apa itu kategori dampak menguntungkan atau merugikan, membahagiakan atau  berjenis nestapa dan komulasi keprihatinan.

Mangunjaya pernah memprediksi, secara umum misalnya, para ilmuwan telah menunjukkan dengan penelitian intensif bahwa planet bumi telah terancam. Selain itu akibat perubahan iklim dan kehilangan habitat dan ekspansi yang dilakukan oleh manusia, kepunahan spesies semaking bertambah tinggi. Sedikitnya ada 15 spesies telah punah dalam 20 tahun terakhir, 12 spesies dapat bertahan hidup karena diperlihara ditangkarkan oleh manusia. Namun, diyakini bahwa sebenarnya spesies yang mengalami kepunahan jumlahnya jauh lebih besar. Lebih dari itu menurut penelitian Global Species Assessment (GSA) dalam Siaran Pers bulan November 2004, sekitar 15.589 spesies yang terdiri dari 7.266 spesies satwa dan 8.323 spesies tumbuhan dan lumut kerak, diperkirakan berada dalam resiko kepunahan.

Dalam kasus tersebut telah mengajarkan, bahwa akibat buruk yang ditunai masyarakat seperti gempa, tanah longsor, gunung meletus, banjir bandang, dan terendamnya kota, tidak terlepas dari kesalahan yang ditabur manusia. Kondisi bumi sudah tidak mampu lagi mengakomodasi dan memediasi keserakahan manusia.

Pembangunan yang mengabaikan kepentingan ekologis misalnya akan menjadi "faktor kriminogen" yang mengundang bencana alam. Pemerintah tidak perlulah tergelincir menyalahkan masyarakat kecil yang membuang sampah sembarangan, jika pemerintah ternyata gampang mengobral model pembangunan yang tidak berbasis eko-humanistik.

Manusia memang sering merasa kalau yang diperbuatnya bukan tergolong kejahatan baik kepada sesama maupun makhluk hidup lainnya. Manusia mudah tergelincir dalam praktik otoritarian yang diproduknya sendiri. Arogansi kejahatan manusia inilah yang membuat berlakunya "ayat-ayat" Tuhan, apa yang dicapai oleh manusia yang kelihatannya punya daya imunitas tinggi dengan mudak diporak-porandakanNya. .

Dalam suatu Hadis, Nabi Muhammad saw memperingatkan "meratanya azab (musibah, bencana) adalah sesuai dengan meratanya kejahatan yang diperbuat manusia". Peringatan ini mempertegas kedudukan pepatah "menabur angin menuai badai". Jika gampang membiarkan atau membebaskan tangannya menabur kekejian baik terhadap sesama manusia maupun makhluk hidup lainnya, maka manusia pastilah menuai dampak destruktifnya.

Manusia sangatlah potensial dihancurkan oleh perbuatannya sendiri. Tuhan hanya memberi jalan atas opsi sesat dan jahatnya. Manusia sudah diberi kemerdekaan untuk menjatuhkan pilihan, mau mengikuti dan memperbudak ambisi-ambisinya di jalur penghancuran sumberdaya alam ataukah mau di jalur pemanfaatan berbasis, meminjam istilah Sirozi (2005) "humanisasi dan spiritualisasi ekologis".

Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara ini, setiap manusia yang perbuatannya bercorak menabur kebaikan, tentulah aspek-aspek strategis yang berhubungan dengan aktifitasnya akan mendapatkan  keuntungan. Jika itu berkaitan dengan perlakuan jujur dan egaliter dalam menerapkan hukum misalnya, maka perlakuan demikian jelas akan menguntungkan para pencari keadilan. Mereka akan merasa mendapatkan pengayoman atau advokasi  hak-haknya ketika penerima amanat ini berjalan di jalan lurus: kebenaran.

Sebaliknya ketika manusia gagal "mendidik" dirinya dari perbuatan-perbuatan buruk, gampang tergiur melakukan kezaliman, kebiadaban, dan bahkan kebinatangan  dalam kehidupannnya di muka bumi, pastilah berbagai bentuk perbuatan buruk ini akan mendatangkan bencana dalam kehidupannya. Bencana ini merupakan "cost" yang terpaksa harus dibayar atas uang-utang dalam bentuk kejahatan yang sedang atau sudah dilakukan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun