Maka bisa disimpulkan betapa vitalnya peran ulama dalam peradaban islam. Karena dengan jasa-jasa beliau kita bisa mendapatkan penjelasan yang sangat mudah dipahami dari dua kode yang datang dari Allah SWT. Dengan alasan-alasan tadi, maka muncul dalil yang menyatakan bahwa Ulama adalah pewaris nabi.
Penjelasan para ulama tentang Al-Quran dan Utusan dapat kita pelajari lewat seorang guru, atau yang dikenal sebagai ustadz, kiyai, habaib. Tentu guru tersebut sudah mendapat penjelasan dari gurunya, gurunya juga mendapat penjelasan dari gurunya, sehingga penjelasan tersebut telah turun temurun. Inilah yang disebut sanad.
Sanad merupakan garis ketersambungan sebuah ilmu dari seorang guru terhadap seorang murid. Para Ulama terdahulu juga mempunyai seorang guru dalam proses pembelajaranya. Maka sudah seyogianya kita sebagai umat muslim mempunyai guru guna meneruskan tradisi para ulama terdahulu. Baiki itu guru yang menjelaskan tentang Al-quran dan Hadist, maupun yang menjelaskan penjelasan para ulama yang menjelaskan Al-quran dan Hadits. Ketika kita mempunyai guru, maka paling tidak kita dapat menghindari gagal paham.
Proses pencarian seorang guru memang berbeda. Karena seorang guru mempunyai ciri khas yang berbeda. Ini merupakan hal yang sangat teknis, bukan hal yang dasar. Kita bebas memilih guru yang mempunyai kecocokan gaya dengan kita. Selama Tuhanya masih Allah SWT, kitabnya masih Al-Quran, Nabinya masih nabi Muhammad SAW, maka tidak ada yang perlu diperdebatkan, tidak perlu merasa paling benar dan tidak perlu menyalah-nyalahkan.
Dengan penjelasan diatas, maka terjawablah pertanyaan gue tentang kewajiban seorang muslim untuk mencari ilmu dan cara mencarinya.Â
Jawabanya adalah untuk mengenal Allah SWT. Caranya adalah belajar dengan guru (ustadz, kiyai, habaib) untuk mendapatkan penjelasan para ulama tentang Al-Quran dan Utusan (Rasulullah SAW), serta untuk membandingkan ilmu-ilmu yang kita dapat ditempat lain, yang tujuan akhirnya adalah ma'rifatullah atau mengenal Allah SWT. Â
"Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh" Albert Enstein.
Berdasarkan jawaban yang gue dapatkan, ilmu fiqih adalah ilmu yang mempelajari hukum, rukun, syarat, dan tata cara ibadah dalam syariat islam. Ilmu tauhid adalah ilmu yang berkaitan dengan keimanan atau kepercayaan terhadap Allah SWT. Dan ilmu akhlaq tasawuf adalah ilmu yang berkaitan dengan "rasa" ketika ibadah. Seseorang akan ditatar pada ranah akhlaq tasawuf untuk tidak pernah merasa benar, tidak menyalah-nyalahkan orang lain, tidak suudzon, tidak sombong, tidak ria, yang intinya kita ditatar agar terhindar dari penyakit-penyakit hati.
Adapun ilmu-ilmu lain yang dipelajari secara akademik dari SD, SMP, SMA, Sarjana, Pascasarjana, merupakan instrumen dari tiga elemen ilmu utama diatas. Namun, instrumen tersebut bukan berarti tidak penting. Justru semakin banyak instrumen-instrumen yang kita kuasai, maka kita semakin kaya akan instrumen yang akan bermuara pada tiga elemen ilmu diatas.