Mohon tunggu...
Abdi Khalik
Abdi Khalik Mohon Tunggu... Auditor - --Pengamat--

Meninggalkan jejak melalui tulisan. Cek tulisan lainnya -Http://artikelbermanfaat100.blogspot.co.id-

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Untuk Orang yang Suka Nyinyir

15 Maret 2020   12:23 Diperbarui: 15 Maret 2020   12:35 275
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Semua orang pasti tahu bahwa mereka hidup dengan orang lain, konsekuensinya menghadapi dengan berbagai karakter dan kepribadian. Kita dituntut untuk saling menghargai perbedaan ini agar hidup harmonis. 

Tetapi masih banyak orang yang belum mengerti tentang konsep "saling mengerti" ini. Tak jauh-jauh kita temukan orang yang memperlakukan semua kepribadian dengan cara yang sama baik pada kepribadian introvert maupun ekstrovert.

Memang tipe-tipe kepribadian ini masih terdengar asing dan banyak yang belum memahaminya. Tetapi lamanya kita hidup dan bergaul dengan berbagai macam individu tentunya membuat kita sedikit lebih peka apa yang mereka sukai dan tidak. Nah disinilah kita bisa mengerti apa arti dasar dari kepribadian itu.

Seperti yang saya alami selama ini, bahkan baru-baru terjadi, sebagai introvert saya kecewa untuk orang yang tak berhenti bicara untuk sekedar memahami apa yang orang lain rasakan. Dengan banyak bicara mereka tak memberi kesempatan untuk diri mereka sendiri dan orang lain untuk saling memahami.

Ini adalah sedikit keluh kesahku untuk orang yang suka nyinyir:

1. Jujur, saya tak secepat yang kamu bayangkan, tolong untuk memberi kesempatan saya untuk memahami

Memang kita dituntuk untuk bergerak cepat, dalam bekerja khususnya. Saya berbeda dengan kalian, butuh adaptasi. 

Percayalah saya tak pernah berhenti untuk selalu belajar menjadi orang yang cepat beradaptasi agar tidak ketinggalan dengan dunia yang begitu cepat bergerak. 

Pribadi saya butuh waktu untuk menanyakan kepada diri sendiri apa yang benar-benar dilakukan dengan yang tidak, saya butuh menganalisanya sedikit  lebih lama.

2. Satu atau dua kali cukup bagi saya untuk menerima segala celaan itu, tolong jangan berlebihan

Saya tak pernah marah jika segala kekurangan orang dijadikan bercandaan, iya hanya bercandaan dalam situasi tertentu, situasi "pertemanan". 

Tetapi dalam beberapa kondisi misalnya dalam kondisi orang tersebut lagi bekerja, kondisi saat banyak orang yang dia tidak kenali, atau dalam kondisi canggung, tolong untuk tidak melakukanya lebih dari tiga kali.

3. Saya minta maaf jika saya terlihat sombong

Jujur saya takut orang lain menganggap saya adalah sombong hanya karena saya tak banyak bicara. Hal ini sudah menjadi tradisi masyrakat kita yang seenaknya saja mencap orang sombong. Saya hanya tak punya banyak bahan bicara seperti kepribadian lain.

4. Jika tak suka, tolong sampaikan secara pribadi dan sampaikanlah secara objektif

saya lebih suka untuk diskusi secara intens, empat mata atau dalam kelompok kecil. Lebih memilih untuk memaksimalkan waktu dan mendengar sedikit suara-suara untuk lebih memahami satu sama lain. 

Jika kamu mau mengungkapkan kekesalan kamu, tolong untuk bicara empat mata, itu lebih baik. Salahkan apa yang dilakukan buka salahkan kepribadianya (ektrovert atau introvert).

5. Atas pencapaian saya, tolong jangan jadikan itu sebagai bahan untuk membenci

Beberapa keselahan yang pernah saya lakukan kepada orang-orang, menjadikan mereka kecewa, itu pasti dan wajar terjadi perselisihan. 

Tapi tolong jangan langsung menghubungkan atas pencapaian yang telah dicapai sehingga langsung menjudge diri ini sebagai pribadi yang seperti kacang yang lupa kulitnya atau mungkin dikatai orang yang sombong. 

Kita perlu menjaga diri agar sebisa mungkin untuk tidak mengungkit-ungkit masa lalu atau hal-hal yang tidak berkaitan dengan permasalahan sekarang. 

Saya menulis ini bukan menyalahkan kepribadiannya, saya hanya kecewa atas perilaku yang dilakukan kepada saya. Untuk itu, saya selalu berusaha untuk mengerti kepribadian orang lain agar saya tahu apa yang menjadi batasan-batasan dalam bergaul, berusaha untuk tidak saling menyakiti, hidup harmonis dan rukun, kita perlu lakukan itu, itu saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun