Tidak jelas kapan pertama sekali virus corona menyerang India meskipun korban jiwa di India tercatat sudah berjatuhan sejak Maret 2020. Namun serangan dahsyat Covid-19 di India "tercatat" setelah jutan orang selesai mengikuti Fetival Kumbh Mela Maha (Besar) yang diselenggarakan nonstop dari 10 hingga 14 April 2021 (selama empat hari).
Kumbh Mela Besar adalah sebuah acara tradisional 12 tahun sekali berupa acara berziarah di 4 tempat suci yakni di kota-kota kecil Allahabad, Haridwar, Ujjain dan Nashik.
Acara ini mampu menyedot peziarah (kalpwasis) hingga 60 juta orang dari seluruh India pada 4 lokasi tersebut selama 4 hari festival, membuatnya pemegang rekor dunia berkumpulnya orang paling banyak dalam satu waktu sekaligus.
Di kota Allahabad tepatnya di desa Kumbh para peziarah merasa wajib mandi pagi di sungai Gangga (Sanggam). Meskipun air sungai berkeruh dan udara dingin di lokasi pemandian tak mampu mengurangi animo peziarah terjun mandi ke sungai beramai-ramai saling merapat.
Di festival tersebut juga menyedot kebersamaan berlimpah pada acara Godavari di Nasik, Kshipra di Ujjain dan Sanggam di Allahabad. Selain di tempat itu ada acara ritual lainnya yang jumlah pengunjungnya agak sedikit.
Beberapa peziarah yang kembali ke kampung halamannnya merasa tidak sehat bahkan ada yang meninggal dunia beberapa hari setelah kembali dari festival tersebut.
Ujwal Puri (34) adalah seorang pengusaha dari Mumbai. Dia tba di Haridwar pada 9 April 2021 guna mengikuti festival Kumb Mela Besar. Bermodalkan sejumlah handsanitiser, masker dan vitamin. Dia berada di sana 3 hari saja, tidak sampai festival benar-benar usai.
Ketika tiba kembali di Mumbai ia kurang sehat dan memeriksakan diri ke kelinik ternyata positif tertular Covid-19. Dia memutuskan mengasingkan dirinya di sebuah kamar dan dijauhi dari keluarganya beberapa hari.
Namun bukan Puri sendiri saja yang mengalami hal itu, menurut rumah sakit atau klinik di kota Haridwar selama 4 hari saja di kota itu mencatat 1.600 orang postif covid-19. Jumlah itu belum termasuk di klinik kota-kota lain dan tentu saja belum termasuk seluruh India dalam kurun waktu tersebut.
Kita tidak menyalahkan orang beribadah atau orang melaksanakan ritual tradisional turun temurun ribuan tahun. Tapi berdasarkan data penulis ambil dari WolrdometerInfo lonjakan ekstrim kasus penderita covid-19 di India mulai terjadi pada 8 April 2021 saat orang mulai berkumpul di festival, sebagaimana terlihat pada gambar berikut ini.


Meskipun banyak yang sembuh tetapi lonjakan orang meninggal dunia akibat covid-19 hingga 27 April 2021 telah mencapai 200 ribuan. Jelas terjadi "tsunami Covid-19" di anak benua asia ini bahkan menurut informasi telah terjadi mutasi virus ke dua yang disebut-sebut oleh pakar sudah menyeberang ke 7 negara tetangganya.
Tampaknya ada kaitan erat antara pelanggaran protokol kesehatan sangat vulgar dengan terjadinya tsunami Covid-19 di India. Salah satu dampaknya kini tempat krematorium di kota-kota besar dan kecil mulai kewalahan menerima pembakaran jenazah covid-19.
Aneka peristiwa dramatis nyaris tak mengenal lagi hubungan keluarga terjadi setiap hari. Anak melantarkan ibunya atau suami yang membiarkan istri dan orang-orang putus asa menderita covid-19 pemandangan biasa, dan itu terjadi begitu saja hampir tak ada yang perduli.
Bagaimana dengan China?
China tempat asal muasal berkembang biaknya virus corona dan pandemi covid-19 justru mengalami anti klimaks kasus baru dan penurunan kematian sangat signifikan.
Dalam 3 bulan pertama menghadapi covid-19, negeri tirai bambu tersebut menerapkan lockdown tidak ampun, semua kota besar dan kecil terutama di Wuhan bagaikan kota mati jika nyaris tak bersemangat.
Acara keagamaan massal dihentikan sementara termasuk perayaan imlek 2020 dan 2021. China menerapkan aneka prokes ketat mulai dari work from home, menjaga jarak, tidak beraktifitas di luar rumah, menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Beberapa perusahaan dan institusi berlomba-lomba menciptakan aneka APD serta vaksin mengatasi covid-19.
Perekonomian tumbuh, orang kaya baru bertambah banyak, orang miskin berkurang. Namun yang sangat membuat decak kagum adalah mampu menekan sebaran pendrita baru covid-19.
Sebagaian orang mengatakan China merekayasa data, memutar balikkan fakta, mengambil keuntungan dari Pandemi dan sebagainya.
Terlepas dari itu faktanya adalah China mampu memperkecil laju virus corona dan mampu memperkuat ekonomi negaranya. Dengan kata lain China bersikap lebih cerdas menyikapi pandemi Covid-19.
Virus Corona dan penyakit yang dibawanya (Covid-19) tidak mengenal batas negara, tidak juga pilih-pilih tempat, pilih kasih dan waktu. Ketika ia berpeluang menyerang ia akan menyebar dan terus menyebar berkembang biak bahkan bermutasi membentuk varian baru seperti India.
Meskipun tidak diharapkan bencana kemanusiaan lebih dahsyat berpotensi terjadi di negeri Bolywood ini selama warganya benar-benar tidak mau perduli dan menjiwai pelaksanaan prokes acak adul.
Semoga kita tidak berhadapan dengan kondisi seperti India selama meningkatkan kebersihan dan menjalankan protokol kesehatan (prokes) dengan sungguh-sungguh.
Bersih diri, bersih lingkungan, melaksanakan prokes dengan gembira dan memperkuat diri dengan doa, vitamin, obat termasuk vaksin yang tepat mungkin itulah kemampuan tertinggi kita. Jika telah sampai ke batas itu dan Tuhan berkehendak lain tentu lain lagi ceritanya karena sudah menyangkut takdir.
abanggeutanyo
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI