Menurut penuturan sejarah, Imam Zarkasyi, pendiri Pondok Modern Gontor, pernah nyantri di madrasah ini, sebelum mengembangkan Gontor Baru yang sampai sekarang berkembang pesat dan menjadi kiblat bagi pesantren modern di Indonesia.
Kehamkaan bagi Uhamka adalah nilai-nilai yang dapat diteladani dari Buya Hamka seperti berikut:
- Keislaman kosmopolitan yang menghargai perbedaan. Menjadi umat Islam yang terbuka dalam bergaul dengan berbagai kalangan, sambil tetap memegang teguh keberislaman yang berkemajuan dan berkemurnian seperti jargon Muhammadiyah, karena Buya Hamka adalah salah satu tokoh Muhammadiyah.
- Belajar sampai menjadi ahlinya, profesional dalam profesi apapun. Menjadi Profesor dan Doktor dibuktikan dengan karya yang diakui kualitasnya. Dikisahkan bagaimana saat menjadi Pemimpin Pedoman Masyarakat, Hamka sengaja tidak pulang walaupun anak kandungnya meninggal dunia, untuk mengawal penerbitan sampai ke percetakan surat kabar atau majalah tersebut.
- Keseimbangan seni dan akal. Menjadi ulama sekaligus sastrawan/seniman. Dalam konteks Uhamka, memberikan ruang pengembangan potensi akademik dan non akademik yang optimal bagi dosen, staf dan mahasiswa Uhamka. Berdakwah dengan menggunakan media yang sesuai dengan jamannya.
Selain itu masih banyak Mutiara hikmah yang terkandung pada film ini, sebagaimana terungkap pada buku-buku karangan Hamka, yang mana dikumpulkan dalam Ensiklopedia Buya Hamka, oleh Uhamka.
Pada volume 1, diceritakan tentang perjuangan Hamka dalam mengembangkan organisasi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan pada tahun 1933. Kemudian hijrah ke Medan memimpin Pedoman Masyarakat.Â
Walaupun banyak menggunakan Bahasa Minang, namun dialog dalam film ini cukup mudah dipahami. Penonton diaduk-aduk emosinya saat ada peristiwa-peristiwa yang menggambarkan lembaran kedukaan pada keluarga Hamka, serta sedikit sentilan Ketika seorang Bapak menawarkan anaknya untuk menjadi istri kedua sang Ulama Pujangga Besar ini.
Biografi Hamka adalah tentang pribadi yang lurus, no hard feeling. Di penjara oleh rejim Orde Lama, walaupun dia memiliki hubungan baik dengan Bung Karno, seperti digambarkan di film volume 1 ini. Pada masa itu juga, terdapat polemik yang cukup panas dengan seniman yang beraliran lain, yaitu Pramudia Ananta Toer. Tetapi ketika Pram akan menikahkan anaknya, maka anaknya itu diminta oleh Pram untuk membimbing calon menantunya untuk berislam kepada Buya Hamka.Â
Sudah selayaknya warga Muhammadiyah, daan juga bangsa Indonesia, memiliki karakter yang seperti itu. Mengedepankan akhlak dalam berorganisasi dan kehidupan sehari-hari. Tidak menggunakan cara-cara yang menyimpang dari kaidah, nilai, norma maupun etika keberislaman.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H