Mohon tunggu...
Ahmad Ahya Raihansyah
Ahmad Ahya Raihansyah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Ahmad Ahya Raihansyah Universitas Pendidikan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Kesimpulan Penguasaan Materi Perjalanan Pendidikan Nasional

3 Februari 2024   22:52 Diperbarui: 3 Februari 2024   23:01 229
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sekolah Bumiputera, sumber : kompas.com

Dalam perjalanan pendidikan di Indonesia terdapat tiga masa besar hingga saat ini dalam setiap perjuangan pendidikannya. Tiga masa tersebut adalah saat masa pendidikan pra kemerdekaan, pendidikan setelah kemerdekaan, dan pendidikan di abad ke-21. Dimulai dari pendidikan pra kemerdekaan yang dimana diawali oleh sekolah Bumiputera pada tahun 1854 yang merupakan sekolah untuk mendidik calon pegawai dan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di kalangan penduduk pribumi dalam menghadapi kebijakan pendidikan yang penuh diskriminasi dari Belanda. 

Pada tanggal 25 Mei 1899, pendidikan bagi RA Kartini merupakan suatu alat yang digunakan untuk membuka pikiran masyarakat ke arah modernitas, yaitu untuk menuju peradaban yang maju, maka laki-laki dan perempuan saling bekerjasama untuk membangun bangsa. Keinginan dari RA. Kartini adalah untuk memajukan pendidikan kaum wanita yang tidak boleh kalah dari kaum laki-laki dimana menghilangkan stereotip kaum wanita yang hanya mengurus tiga hal yaitu dapur, sumur, dan kasur saja. 

RA Kartini dan murid-muridnya, Sumber : jakmall.com
RA Kartini dan murid-muridnya, Sumber : jakmall.com

Setelah itu terdapat juga pergerakan di bidang pendidikan Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo serta mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen) yaitu Goenawan, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Soeradji, serta R.T. Ario Tirtokusumo pada tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta yang bergerak di bidang sosial, ekonomi, kebudayaan, serta tidak bersifat politik untuk wilayah Jawa, Sunda, dan Madura. Pergerakan dari organisasi Budi Utomo intinya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menempuh pendidikan setinggi mungkin dan menyadarkan Masyarakat bahwa harus terus meningkatkan ilmu dengan pendidikan supaya dapat mengantisipasi tantangan yang besar di masa yang akan datang. 

Organisasi Budi Utomo, sumber : kesbangpol.kulonprogokab.go.id
Organisasi Budi Utomo, sumber : kesbangpol.kulonprogokab.go.id

Setelah itu terdapat pergerakan masif secara menyeluruh oleh Bapak Pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara  yang mendidiikan Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922 dimana Ki Hajar Dewantara banyak memberikan pemikiran dan pergerakan salah satunya mengenai pendidikan dilakukan secara menyeluruh dalam aspek kepribadian dan pemikiran siswa serta tidak hanya dalam melakukan pengajaran saja. Berikut 3 hal penting dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara :

  • Pengajaran adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau faedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin
  • Pendidikan sebagai tuntunan, yaitu tuntunan dalam hidup tumbuhnya murid
  • Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka menggapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi tingginya baik sebagai individu atau anggota Masyarakat

Dari ketiga pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut menurut saya dilatarbelakangi karena kekhawatiran dalam proses pembelajaran kepada siswa yang hanya sebatas pengajaran saja atau dalam menyampaikan ilmu saja yaitu berupa kognitif ataupun psikomotor saja kepada siswa untuk diterapkan tetapi tidak untuk nilai atau afektif yang juga diberikan kepada siswa dalam proses pembelajarannya. Dari pemikiran Ki Hajar Dewantara juga pendidikan ketika manusia masih anak-anak merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan yaitu dilakukan tuntunan dari segala aspek kehidupan ini untuk menjadikan anak tersebut dapat mengembangkan potensi diri dan kemampuan diri setinggi-tingginya dan seluas-luasnya dan mencapai kebahagiaan sebagai manusia ataupun sebagai bagian dari masyarakat. Tuntunan yang dilakukan kepada murid bukan hanya dilakukan dengan menyampaikan ilmu kognitif atau mengajar saja tetapi dengan menuntun dari segala aspek yang mencakup afektif, psikomotor, dan kognitif siswa sehingga hasil dari pendidikan yang dilakukan kepada siswa membentengi diri siswa untuk tidak mempergunakan ilmu yang diperoleh untuk hal-hal yang menyimpang dalam kodratnya sebagai manusia. Selain itu apa yang saya refleksikan dari pemikiran KI Hadjar Dewantara adalah pendidikan itu seperti halnya petani atau tukang kebun merawat tanamannya dimana supaya tanaman tersebut tumbuh dengan baik maka perlu dipeliharanya beberapa aspek yang bukan hanya satu aspek saja, bukan hanya air saja tetapi terdapat hal lain yang perlu dipelihara juga seperti kualitas tanah, pupuk, suhu, pemeliharaan dari hama, dan bahkan kualitas udara, apabila semua aspek tersebut dipelihara dengan baik maka akan jadilah tanaman yang baik dan subur yang memiliki daya jual yang tinggi untuk kedepannya saat masa panen tiba.

Sekolah Taman Siswa, sumber : sahabatliterasi.id
Sekolah Taman Siswa, sumber : sahabatliterasi.id

Setelah Indonesia merdeka maka dimulailah masa pendidikan pra kemerdekaan yang dimulai pada tahun 1947 hingga 1994 yang mengutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara, dan bermasyarakat, daripada pendidikan pikiran dan juga terdapat cikal bakal berdirinya pendidikan berbasis karakter dan pendidikan yang berpusat pada siswa pada saat ini di Kurikulum Merdeka yang ternyata sudah terpikirkan pada Kurikulum 1984 dengan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) dan SAL (Student Active Learning).

Selanjutnya pendidikan pada abad ke-21, dimana pendidikan tidak lagi hanya berfokus pada kebudayaan, tetapi juga pada sikap berpikir kritis, pemecahan masalah, keterampilan komunikasi, kolaborasi, inovasi, kreativitas, dan literasi teknologi. Pendidik dituntut untuk dapat beradaptasi dan menguasai teknologi guna mengembangkan lingkungan pembelajaran dengan baik. Dari hal ini dapat diketahui bahwa kurikulum setiap masanya itu memiliki sifat relevansi dimana dibuat berdasarkan situasi atau kondisi pada masa tersebut yang berkaitan dengan teknologinya, berpusat pada siswa, sosial, dan lingkungan serta fleksibel dengan kondisi siswa dan kondisi daerah.

Mengenai perbandingan kualitas pendidikan Indonesia dengan negara lain apabila dilihat dari ranking PISA (Program for International Student Assessment), Indonesia menempati urutan 69 dari 84 negara pada program PISA awal tahun 2024 ini. Jika dibandingkan dengan tahun 2023 lalu yang hanya menempati ranking 71 dari 84 negara maka hal ini merupakan kemajuan dari segi pendidikan yang diukur dari kemampuan sains, literasi membaca, dan matematika. Melihat dari hal tersebut walaupun tetap peringkat Indonesia masih golongan bawah dari 84 negara tersebut maka sepertinya peningkatan dikarenakan penggunaan Kurikulum Merdeka yang mulai dioptimalkan. Pendidikan dapat menjadi instrument utama untuk membentuk bangsa yang merdeka dengan cara mengoptimalkan kurikulum yang sudah  diusung yang pada kurikulum tersebut harus terdapat tujuan pendidikan kepada siswa yang tidak hanya meningkatkan psikomotor dan kognitifnya saja tetapi harus juga dengan peningkatan afektif siswa supaya siswa dapat memahami secara betul dan bermanfaat dalam pengamalan pembelajaran tersebut, hal ini seperti apa yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan dilakukan secara menyeluruh terhadap kepribadian diri siswa untuk membentuk siswa yang selamat dan bermanfaat bagi masyarakat. Untuk membentuk pencerminan pendidikan Indonesia yang mengutamakan kebebasan dan kesetaraan maka diperlukan penyamaan hak warga di Indonesia dalam mengenyam pendidikan baik dari masyarakat yang kurang mampu dan masyarakat yang berada di ekonomi kelas menengah atas. Penyamaan hak tersebut tanpa dikurangi dan dilebihi dan bersifat adil untuk seluruh masyarakat Indonesia dalam mendapatkan pendidikan yang layak dengan fasilitas dan layanannya.

Ilustrasi pendidikan untuk seluruh rakyat Indonesia, sumber : newsindonesia.co.id
Ilustrasi pendidikan untuk seluruh rakyat Indonesia, sumber : newsindonesia.co.id

Refleksi dari pembelajaran ini mengaitkan antara filosofi pendidikan dan juga perjalanan pendidikan Indonesia ini membuat saya memahami pentingnya pendidikan bukan hanya dilakukan dengan pengajaran saja, sebagaimana dalam filosofi ini terdapat unsur realitas, pengetahuan, dan nilai. Ketiga unsur tersebut haruslah dapat dilakukan pendidikan yaitu untuk realitas yang menyangkut segala sesuatu yang bersifat konkret dan dari setiap hal tersebut maka akan memiliki tujuannya masing-masing, maka dari itu tujuan dilakukan pendidikan supaya siswa menjadi selamat dan memiliki bekal untuk menghadapi tantangan di masa depannya. Dalam unsur pengetahuan tentu saja pendidikan dapat bersumber dari pengalaman, sejarah, logical thinking, dan motivasi dari diri sehingga melalui cara-cara tersebut maka pengetahuan dapat diperoleh, dan unsur nilai atau value dalam filosofi pendidikan ini adalah hal yang terpenting untuk diamalkan karena nilai inilah yang akan melekat di hati seseorang karena berkaitan dengan etika dan perilaku.

Unsur Filosofi
Unsur Filosofi

Perubahan diri ini dapat saya rasakan setelah mempelajari filosofi pendidikan dan perjalanan pendidikan nasional dimana meningkatkan rasa peduli saya terhadap dunia pendidikan apapun itu di tengah terjadinya banyak praktek yang kurang etis di bidang pendidikan saat ini atau bahkan pendidikan yang sering dijadikan sebagai alat politik saya tidak ingin mengikuti hal tersebut dimana pemikiran dari Ki Hajar Dewantara cukup melekat di hati saya ini dan saya kagum dengan beliau akan kontribusinya di bidang pendidikan terutama setelah saya membaca hasil pidato Ki Hajar Dewantara di UGM pada tahun 1956 yang intinya pendidikan dilakukan dengan mengedepankan nilai atau akhlak dan beliau menekankan ketika sudah berkeluarga maka keluarga merupakan suatu unit paling kecil namun paling mulia untuk membentuk karakter anak karena pada masa itu anak sedang dalam fase golden age. Maka dari ini yang akan mengubah saya dalam mendidik nanti di kelas adalah kesabaran akan menempuh suatu pendidikan yang dapat menuju nilai atau afektif pada peserta didik sehingga karakter peserta didik adalah karakter yang luhur, dengan karakter yang luhur membuat pendidikan semakin indah dan penuh dengan kearifan. Saya juga akan mengkombinasikan hal tersebut pada model pembelajaran yang saya sukai yaitu project based learning ataupun problem based learning karena melalui kedua model pembelajaran tersebut lebih mudah bagi siswa untuk menemukan nilai atau afektif yang kelak akan berguna di masa yang akan datang

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Referensi :

Wahyuni, Fitri. 2015. "Kurikulum dari Masa ke Masa (Telaah Atas Pentahapan Kurikulum Pendidikan di Indonesia".

Vinayastri, Amelia. 2015. "Pengaruh Pola Asuh (Parenting) Orangtua terhadap Perkembangan Otak Anak Usia Dini".

Wibowo, Bayu Ananta. 2021. "Kajian Kebijakan Kurikulum Indonesia 1947-2013".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun