Menimpa amal ataupun perbuatan yang dicoba secara tidak berubah- ubah, Abu Bakar Ash- Siddiq mengarahkannya pada hati yang tidak berubah- ubah dalam mengingat Allah SWT.
Untuk Umar bin Khattab, istiqomah berkaitan dengan komitmen seorang dalam melakukan perintah Allah serta menghindari larangan- Nya.
Usman bin Affan lebih cenderung mengartikan istiqomah selaku keikhlasan dalam melaksanakan perintah Allah SWT.
Sebaliknya Ali bin Abi Thalib mengartikan istiqomah mengaitkannya dengan kesabaran dalam melaksanakan perintah- Nya.
Dari penjelasan tersebut, hingga bisa dimengerti kalau suatu yang kita istiqomahkan itu berkaitan dengan hal- hal postif serta pasti saja cocok dengan apa yang diajarkan Rasulullah Saw bersumber pada petunjuk dari Allah SWT.
Rasulullah Saw sempat berkata kalau amalan yang sangat dicintai Allah SWT merupakan amalan yang selalu dicoba walaupun sedikit. Membaca Al- Qur' an satu taman tiap berakhir shalat 5 waktu yang dicoba tiap hari bisa dikatakan jauh lebih baik daripada membaca Al- Qur' an satu juz langsung kala berakhir shalat Maghrib saja serta itu juga cuma dicoba sekali.
Melaksanakan istiqomah memanglah tidak gampang. Syeikh Ali ad- Daqaq menerangkan kalau istiqomah memanglah perlu proses. Alangkah baiknya apabila proses tersebut dimulai dengan penundukkan hawa nafsu---yang diucap oleh Syeikh Ali dengan sebutan taqwim---kemudian, iqomah, ialah meneguhkan hati.
Sehabis menundukkan hawa nafsu, hendaknya meneguhkan hati dengan nilai- nilai kebaikan serta kebijaksanaan yang mau kita latih dalam diri. Sesi proses buat istiqomah berikutnya, melindungi serta mempraktikkan nilai- nilai tersebut secara konsisten- berkesinambungan.
Dalam prosesnya, Ibnu Qoyyim al- Jauziyyah menegaskan supaya mencermati faktor- faktor yang bisa menunjang keistiqomahan kita. Awal merupakan optimalisasi. Artinya merupakan kala telah menciptakan prinsip ataupun nilai apa yang mau kita terapkan hingga lakukanlah dengan maksimal, jalani yang terbaik cocok keahlian.
Kedua, moderat. Kala mempraktikkan nilai tersebut hendaknya tidak melampaui batasan ataupun kelewatan dan tidak menyia- nyiakan peluang. Dalam artian, berlagak secara balance supaya tidak gampang jenuh dan tidak pula berleha- leha.
Ketiga, ilmu. Pasti saja ilmu jadi perihal utama yang sangat berarti supaya memantapkan keistiqomahan dan supaya dijauhkan dari keraguan. Saat sebelum memutuskan buat mempraktikkan sesuatu nilai, alangkah baiknya mempelajarinya terlebih dulu supaya setelah itu sanggup melindungi serta pertahankan konsistensi dengan kepercayaan diri lahir batin.