Mohon tunggu...
Blasius Mengkaka
Blasius Mengkaka Mohon Tunggu... Guru - Guru.

Guru profesional Bahasa Jerman di SMA Kristen Atambua dan SMA Suria Atambua, Kab. Belu, Prov. NTT. Pemenang Topik Pilihan Kolaborasi "Era Kolonial: Pengalaman Mahal untuk Indonesia yang Lebih Kuat" dan Pemenang Konten Kompetisi KlasMiting Periode Juli-September 2022.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Quo Vadis Dana BOS Tahap I, II dan III Tahun 2020?

26 September 2020   01:20 Diperbarui: 26 September 2020   04:34 107
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi ujian semester. (Foto: Istimewa).

Sistem dalam dunia pendidikan cukup menunjukkan titik kerunyaman setelah bertambahnya masalah sekolah digital akibat Pandemi Corona. Kita tahu bahwa jumlah dana BOS selama tahun 2020 telah dinaikkan jumlahnya. Hingga kini peruntukkan dana BOS tahab I, II dan III bagi dunia pendidikan masih dipertanyakan. 

Sejak Maret 2020, masalah dalam dunia pendidikan di Indonesia telah bertambah dengan adanya Pandemi Corona. Sekolah tidak lagi dan kurang maksimal dilaksanakan dengan tatap muka.

Kebutuhan untuk pendidikan selama Pandemi Corona berbeda dengan sebelum Pandemi Corona. Kebutuhan pendidikan selama Pandemi Corona adalah kebutuhan Gadged, Handphone dan kuota internet.

Masalah Dana BOS Tahap I, II dan III

Pemerintah memberikan rambu-rambu peringatan bahwa Dana BOS tahab III Tahun 2020 terancam untuk dibekukan jika sekolah-sekolah tidak melaporkan penggunaan Dana BOS tahab I dan II. Sejak bulan Maret 2020, pelajaran tatap muka mulai dari pendidikan SD sampai SMA/SMK tidak dilaksanakan secara normal sesuai regulasi Kurikulum 2013.

Sejak bulan Maret 2020, Sekolah-Sekolah Dasar, SMP dan SMA/SMK/MA yang terletak di kawasan  daerah zone hijau juga tidak lagi berjalan secara pertemuan tatap muka di kelas.

Bahkan sekolah digital juga tidak dilaksanakan secara sangat memuaskan sebab banyak anak SD, SMP hingga SMA/SMK/MA tidak memiliki Gadged dan Handphone, apalagi kuota internet. Jumlah mereka adalah puluhan juta anak usia PAUD, SD, SMP, SMA/SMK hingga Perguruan Tinggi

Pada bulan Januari dan April 2020 sebelum Pandemi Corona, pemerintah telah melakukan pencairan dana BOS tahab I dan II. Dana BOS yang sudah dinaikkan jumlahnya itu memang menggembirakan.

Tetapi pencairan dana BOS tahab III terkendala karena tidak ada laporan penggunaan dana BOS tahab I dan II dan karena Pandemi Corona. Mengapa saat itu banyak sekolah-sekolah penerima dana BOS tahab I dan II yang tidak membuat laporan tertulis mengenai Dana BOS tahab I dan II.  Ada apa ini? Kesimpulannya: di beberapa sekolah penerima, dana BOS Tahun 2020 tahab I dan II telah selesai tanpa laporan. Heran bin ajaib!

Sesuai mekanisme yang ada, jika sekolah tidak memberikan laporan belanja dana BOS Tahun 2020 tahab I, pemerintah tidak boleh menggulirkan dana BOS tahab II Tahun 2020. Herannya mengapa pemerintah justeru menggulirkan dana BOS Tahab II pada bulan April 2020 di tengah wabah Corona?

Beberapa dugaan bisa muncul. Salah satu tafsiran para pengamat ialah dana BOS Tahun 2020 tahab I dan tahab II kemungkinan telah dibelanjakan oleh Kepala Sekolah dan para Wakasek secara diam-diam tanpa keterlibatan sidang Dewan Guru.

Dana BOS adalah sebuah produk hukum tentang Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik yang bertujuan membantu mengoperasionalisasikan sekolah SD, SMP dan SMA/SMK untuk belanja sarana dan prasarana, para guru dan kegiatan para siswa/i. Pemerintah menyalurkan dana BOS melalui rekening bendahara sekolah.

Mekanisme Dana BOS sesuai prosedur dilakukan pengusulan oleh dewan para guru dan kepala sekolah. Ketika dana BOS cair langsung digunakan untuk keperluan penyelenggaraan sekolah termasuk belanja fasilitas sekolah dan kegiatan para guru. Selain dana BOS, sekolah juga tetap memungut uang sekolah. Katanya uang sekolah diperuntukkan bagi gaji para guru dan pegawai, bukan dari dana BOS.

Mengapa harus ada dana BOS yang begitu besar dibayarkan pemerintah setiap tahun jika Kepala Sekolah selalu mengeluh dengan gaji para guru. Padahal untuk biaya perbaikan sarana dan prasarana sekolah tidak setiap tahun dilakukan. Demikian juga belanja buku-buku baru untuk Perpustakaan Sekolah.

Sesuai mekanismenya, para guru harus dilibatkan dalam sidang untuk menentukkan besarnya dana BOS untuk belanja segala keperluan sekolah. Kepsek memiliki hak penuh menentukan nasib akhir dari perguliran dana BOS di sekolahnya.

Dana BOS adalah semacam dana penanaman modal oleh pemerintah dan merupakan hak para siswa yang diambil dari pajak-pajak dan dipergunakan sebesar-besarnya bagi para siswa. Mengapa dalam kenyataannya hanya sedikit dana dapat sampai ke tangan para siswa/i.

Beberapa hal berikut telah berubah sebagai akibat dana BOS, yaitu: pertama, bangunan sekolah tampak rapi karena selalu dicat dengan cat yang baru setiap tahun. Kedua, Perpustakaan Sekolah dipenuhi dengan buku-buku bacaan. Ketiga, peralatan sekolah lengkap, termasuk multimedia dan Komputer. Keempat, gaji guru memuaskan. Kelima, kegiatan sekolah dan para guru menjadi lancar.

Pandemi Covid-19 dan Masalah Anak-Anak  PAUD, SD dan SMP

Belanja Dana BOS Tahab III harus lebih diprioritaskan untuk sekolah digital sebagai dampak dari Pandemi Covid-19. Pandemi Corona membawa masalah pada pendidikan anak-anak Indonesia, khusus Anak-anak Indonesia dalam tingkatan PAUD, Sekolah Dasar dan bahkan SMP. Masalah mereka adalah dalam mengakses sekolah digital.

Bagi daerah-daerah di luar Jawa, kemampuan intelektual anak-anak PAUD dan SD hingga SMP belum bagus menerima pelajaran melalui sistem digital. Sedangkan bagi tingkat SMP hingga Perguruan Tinggi, kemampuan para siswa masih terbilang setali tiga uang. Malah yang paling fundamental adalah Gadged dan Handphone jarang dimiliki anak-anak PAUD hingga Perguruan Tinggi. Akibatnya puluhan juta perserta didik mulai dari PAUD hingga PT tidak bisa mengikuti sekolah digital.

Mengingat bahwa Sekolah digital tak dapat diindari maka kebutuhan Sekolah digital seperti kuota internet harus ditanggung pihak sekolah. Dengan Dana BOS tahab III, sekolah harus menyediakan kuota internet penuh bagi anak-anak bahkan menyediakan Gadged dan Handphone bagi mereka dengan dana BOS tahab III. Prioritas dana BOS tahab III harus diperuntukkan bagai anak-anak yang tidak mampu secara ekonomi. Masalah ini adalah masalah yang serius karena terdapat puluhan juta anak-anak di Indonesia mengalami masalah terkait sekolah digital.

Kesimpulan

Dana BOS tahab III mengalami masalah dalam pencairan karena laporan-laporan tentang penggunaan dana BOS tahab I dan II oleh banyak sekolah telah tidak dibuat. Selama sekolah digital, para peserta didik dari PAUD dan SD bahkan SMP masih sulit mengakses sekolah digital.

Alokasi dana BOS tahab III  harus diperioritaskan bagi sekolah digital. Siapa dan pihak manakah yang bisa menjamin? Wajar jika muncul tafsiran miring bahwa selama Pandemi Corona, alokasi dana BOS yang dicairkan tidak dibelanjakan sesuai peruntukkannya. Ketakutan lain ialah bahwa dana BOS dipakai untuk hal-hal lain di luar kepentingan sekolah dan bukan demi kepentingan sekolah penerima.

Jika Dana BOS digunakan bukan untuk kebutuhan sekolah digital selama Pandemi Corona, maka akibatnya sangat parah. Banyak hal yang bersinggungan dengan kepentingan sekolah segera menjadi hilang kesimbangannya.

Oleh sebab itu sistem-sistem pengawasan harus berfungsi untuk benar-benar mengawal agar Dana BOS tahab III bisa digunakan untuk semata-mata demi kepentingan sekolah digital dan sekolah tatap muka terbatas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun