Mohon tunggu...
Talitha Ardelia
Talitha Ardelia Mohon Tunggu... Freelancer - Content Writer

Food. Videography. Lifestyle

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Prasmanan di Pesta Pernikahan yang Lebih Sering Jadi Bahan "Ghibah"

1 Oktober 2019   21:00 Diperbarui: 2 Oktober 2019   00:22 1567
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Hari paling bersejarah bagi dua insan yang saling berkomitmen untuk bersama selamanya ya sebuah pernikahan. Ngomong-ngomong soal pernikahan ini, pasti ada saja hal yang diributkan. Kalau punya budget lebih ya paling pusing milih wedding organizer mana yang oke, kalau punya budget yang pas-pasan ke bawah ya pusing ngatur budget buat segala aspek. Apalagi pernikahan kan sebuah momen sekali seumur hidup. Alih-alih mau merayakan kebahagiaan, tapi kok malah pusing sendiri.

Perhitungan dalam menentukan jumlah tamu undangan juga memerlukan siasat yang tepat. Ada pasangan yang memilih untuk mengundang banyak tamu untuk dapat merayakan kebahagiaan mereka bersama, ada yang memilih untuk mengundang tamu yang dekat saja supaya lebih privat dan khidmat.

Kedua tipe tersebut lagi-lagi menimbulkan problem. Ngundang banyak tamu belum tentu budgetnya cukup, ngundang sedikit tamu nanti dapat pertanyaan "Kok nggak diundang" apalagi kalau ada tipe manusia yang suka nyinyir "Jangan-jangan hamil duluan makanya nggak ngundang banyak orang".

Dari beberapa hasil pengamatan dan pengalaman saya ke kondangan, yang paling banyak di nyinyir adalah urusan perut. Yap, bab catering ini selalu jadi bahasan yang nggak pernah lewat.

Pernah suatu ketika saya menemani teman saya ke salah satu kondangan temanya. Belum berangkat saja teman saya sudah meributkan jangan sampai telat! Nanti nggak dapat kambing guling!

Sebagian besar pesta pernikahan yang saya hadiri si konsepnya standing party. Mungkin karena saya tinggal di kota besar. Sudah sangat lumrah datang ke kondangan dan ada banyak stand makanan. Mau makan tinggal antri, dapat makan, laper lagi, antri lagi, gitu aja terus sampai kenyang. Sungguh mirip dengan konsep restoran all you can eat yang sekarang sedang hype, bedanya kalau di kondangan nggak ada durasi waktu sama bayarnya terserah yang ngamplopi aja.

Baru-baru ini saya diundang ke pesta pernikahan salah satu saudara jauh. Saya pun tidak begitu mengenal, tapi menemani orang tua saya saja. Baru mau masuk gedung saja, saudara saya yang lain sudah nyeletuk, Lloh? Bukan standing party nih?"

Memang, di pesta pernikahan ini seluruh tamunya akan duduk. Terus makanya gimana? Jangan khawatir... tetep dapet makan. Saudara saya yang lain bilang kalau di sini sistemnya "piring terbang". Loh? UFO dong?

Piring terbang ini bisa dibilang cukup unik. Sebelum makanan di hidangkan ke para tamu undangan, akan ada parade catering. Jadi, para petugas catering ini akan baris mengitari para tamu undangan lengkap dengan dentuman lagunya cita-citata 'goyang dumang'.

Setelah selesai parade, makanan mulai dibagikan. Bahasa kerenya sih dimulai dari appetizer, main course, sampai dessert. Entah memang petugas cateringnya kurang sigap atau bagaimana, barisan kursi saya dan barisan kursi belakang tidak mendapat semangkuk dessert yang berisi es puter dan puding karena petugas yang membagikan terlewat. Tamu undangan yang lain sudah banyak yang bergegas pulang, di sinilah per-ghibahan dimulai. Tamu undangan yang duduk di belakang saya mulai menyingung perihal tidak kebagian es puter.

Permasalahan es puter pun tidak berhenti sampai situ. Sewaktu saya berjalan ke arah parkiran, ada saja dari rombongan keluarga lain yang ngedumel karena nggak kebagian sop matahari. Kasusnya sama, terlewat begitu saja dari mas-mas catering. Sampai-sampai membahas:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun