Mohon tunggu...
Fauji Yamin
Fauji Yamin Mohon Tunggu... Foto/Videografer - Tak Hobi Nulis Berat-Berat

Institut Tinta Manuru (faujiyamin16@gmail.com)

Selanjutnya

Tutup

Financial Artikel Utama

"Maaf, Uangnya Saya Pakai Beli Saham"

27 Juli 2020   03:06 Diperbarui: 29 Juli 2020   22:52 1469
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

penyerangan kantor investasi bodong. Sumber. Nusantara timur
penyerangan kantor investasi bodong. Sumber. Nusantara timur
Iming-imingan mendapatkan hasil yang instan tanpa perlu usaha mendorong masyarakat melakukan investasi di beberapa perusahaan investasi. Bahkan ada salah satu perusahaan memiliki nasabah paling terbanyak.

Pembukaannya pun tak main-main, dihadiri oleh Walikota dan diresmikan secara sah. Selain itu kepercayaan masyarakat juga karena adanya label OJK. Di mana pemahaman masyarakat mengangap bahwa OJK merupakan salah satu sandaran perusahaan ini dapat terjamin dan tak bohong layaknya Bank. 

Padahal, presepsi mereka sangat salah. Karena lembaga OJK hanya melakukan audit keuangan perusahaan pada waktu pembukaan dulu. Di mana stabilisasi keuangan perusahaan masih stabil. Bukan Jaminan atau pemberi jaminan.

Banyak PNS menggadaikan SK ke Bank kemudian menginvestasikan ke perusahaan investasi tersebut. Gaji pegawai hingga modal bisnis bahkan modal nikah juga tak ketinggalan di investasikan.

Pada awalnya sitem ini berjalan baik. Beberapa nasabah bahkan berhasil membeli mobil dan rumah pada periode pertama investasi. Alhasil, cerita dan desas-desus kesuksesan itu hinggap di kepala masyarakat. Maka tingkat pertumbuhan investasi di beberapa perusahaan meningkat. Tak main-main, satu orang bisa menginvestasikan 5 juta sampai 1 Milyar.

Police Line di Perusahaan bodong. Sumber Kumparan. com.
Police Line di Perusahaan bodong. Sumber Kumparan. com.
Masalah kemudian muncul, ternyata investasi tersebut bodong. Nasabah mengamuk, meminta dikembalikan uang mereka. Kantor polisi di serbu dan yang lebih apes, kantor sekaligus rumah di rusak warga yang datang baik lokal maupun luar kabupaten.

Masalah ini menimbulkan kepanikan dan kestabilan sosial. Semua pihak mencoba mencari solusi, diskusi-diskusi dan FGD dilakukan untuk memecahkan masalah yang terlanjur melilit warga. 

Wong kepanikan warga tak ada yang bisa menahan. Apalagi si pasukan anti rusuh aja jadi korban. Hingga, para founder ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Dan uang nasabah? Tak pernah kembali lagi. 

Belakangan, fenomena ini muncul kembali dengan istilah baru " saham". Masyarakat membeli saham dan di pertaruhkan. Bisa di bilang ini judi. Tapi geliat pertumbuhannya pasti sudah tinggi apalagi jika ada satu atau dua orang yang berhasil menang dan membagi cerita ke pihak lain. Yap, tentu saja bagi saya sendiri ini ialah bagian dari marketing agar menarik minat banyak orang.

Saya yakin, apa yang dilakukan oleh kawan saya akibat ketidaktelitian dan minimnya pemahaman investasi. Apalagi, omongan dan bisikan dari teman-temannya.

Edukasi mengenai kegiatan-kegiatan seperti ini sangat minim. Masyarakat yang tergiur oleh sesuatu yang instan tanpa kerja keras adalah salah satu ciri lemahnya pemahaman. Ciri ini melakat erat di Indonesia. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun